Antara Ingat, Lupa dan Alpa

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
— Mazmur 119:105

Dalam perjalanan hidup, ada tiga hal yang sering kita alami: ingat, lupa, dan alpa. Kita mengingat sesuatu yang penting, tetapi kemudian melupakannya. Kita mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi karena berbagai alasan, kita justru lalai melakukannya. Ketiganya merupakan bagian dari pengalaman manusia, termasuk dalam kehidupan iman. Karena itu, kita perlu bertanya: bagaimana ingat, lupa, dan alpa memengaruhi cara kita hidup menurut Firman Tuhan?

Pemazmur menggambarkan Firman Tuhan sebagai pelita bagi kaki dan terang bagi jalan. Gambaran ini menunjukkan bahwa Firman bukan sekadar pengetahuan untuk memenuhi pikiran, melainkan petunjuk yang menolong kita menjalani kehidupan. Seperti seorang yang berjalan dalam kegelapan membutuhkan pelita agar tidak tersandung, demikian pula kita membutuhkan Firman untuk menuntun langkah, menilai pilihan, dan menentukan arah kehidupan. Namun, pelita yang tersedia tidak akan banyak menolong apabila kita tidak mengingatnya ketika mengambil keputusan, mengabaikan petunjuknya, atau memilih berjalan menurut kehendak sendiri.

Pertama, kita perlu mengingat Firman Tuhan. Paulus menulis kepada rekannya yang masih muda, Timotius:

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”
— ‭‭2 Timotius‬ ‭3‬:‭15‬‬

Mengingat Firman bukan sekadar menghafal ayat atau mengingat khotbah yang pernah kita dengar. Lebih dari itu, kita menyimpan kebenaran Allah dalam hati agar Firman membentuk cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Ketika kita tersinggung, kita mengingat panggilan untuk mengampuni. Ketika menghadapi ketidakpastian, kita mengingat bahwa kita dipanggil untuk percaya dan tetap melakukan yang benar. Ketika memperoleh keberhasilan, kita mengingat bahwa kita tidak hidup hanya oleh kekuatan sendiri. Firman yang kita ingat menolong kita melihat kehidupan bukan semata-mata dari sudut pandang kepentingan pribadi, melainkan dalam terang kehendak Allah.

Kedua, kita perlu waspada agar tidak melupakan Firman Tuhan. Kita dapat mendengar khotbah pada hari Minggu, tersentuh oleh pesannya, lalu kembali menjalani kehidupan seolah-olah tidak pernah mendengarnya. Kita mendengar tentang kasih, tetapi tetap menyimpan kebencian. Kita membaca tentang kerendahan hati, tetapi sulit menerima koreksi. Kita mengetahui bahwa harta bukanlah tujuan utama kehidupan, tetapi terus mengukur keberhasilan berdasarkan apa yang kita miliki. Dalam keadaan demikian, persoalannya bukan selalu karena kita kehilangan ingatan. Kita mungkin masih mengetahui Firman itu, tetapi membiarkannya kehilangan pengaruh dalam kesibukan hidup sehari-hari. Dalam hal ini, Yakobus mengingatkan agar kita bukan hanya mendengar Firman, melainkan juga melakukannya.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”
— ‭‭Yakobus‬ ‭1‬:‭22‬‬

Ketiga, kita harus berhati-hati agar tidak alpa melakukan Firman Tuhan. Ada kalanya kita mengingat dan memahami kebenaran, tetapi tidak bersedia menaatinya. Kita tahu bahwa kita harus berkata jujur, tetapi sengaja memilih berdusta demi keuntungan. Kita tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan, tetapi memilih tidak peduli. Kita tahu bahwa kita perlu meminta maaf, tetapi justru membiarkan kesombongan menghalangi langkah kita. Yakobus mengingatkan bahwa mengetahui kebaikan yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak melakukannya, merupakan persoalan moral yang serius.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
— ‭‭Yakobus‬ ‭4‬:‭17‬‬

Tentu saja, tidak semua hal yang tidak sempat kita lakukan adalah dosa, sebab kemampuan dan tanggung jawab kita terbatas. Namun, kita perlu memeriksa diri agar keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan kebaikan yang sebenarnya dapat kita lakukan.

Kita tidak selalu mampu mengingat setiap Firman, dan kita pun tidak selalu berhasil menaatinya dengan sempurna. Karena itu, kehidupan Kristen bukanlah perlombaan untuk membuktikan bahwa kita tidak pernah lupa atau alpa. Kita membutuhkan anugerah Allah dan pertolongan Roh Kudus untuk memahami Firman, menyadari kesalahan, bertobat, dan kembali berjalan dalam ketaatan. Ketika tersandung, kita tidak harus terus tergeletak dalam penyesalan. Kita dapat kembali kepada Tuhan dan membiarkan Firman-Nya menerangi langkah berikutnya.

Marilah kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya ketahui dari Alkitab?” tetapi juga, “Apakah Firman yang saya ketahui sungguh-sungguh memengaruhi kehidupan saya?” Sebab, pelita yang menerangi jalan dimaksudkan untuk menuntun langkah kita, bukan sekadar dikagumi cahayanya. Kiranya kita belajar mengingat Firman dengan setia, tidak melupakannya ketika kehidupan terasa nyaman, dan tidak alpa melakukannya ketika kebenaran menuntut keberanian serta pengorbanan.

Doa Penutup

Tuhan, terima kasih atas Firman-Mu yang menerangi perjalanan hidup kami. Ampunilah kami ketika melupakan kebenaran-Mu atau lalai melakukannya. Tolonglah kami melalui Roh Kudus agar Firman-Mu tidak hanya memenuhi pikiran, tetapi juga membentuk hati, perkataan, dan perbuatan kami. Tuntunlah langkah kami agar senantiasa berjalan dalam kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan Balasan