“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” — 2 Timotius 3:16

Mengapa ada orang Kristen yang kurang berminat mempelajari firman Tuhan? Sebagian mungkin merasa sudah cukup mengenal Alkitab melalui khotbah setiap minggu. Sebagian lainnya lebih senang membaca ayat-ayat yang memberikan motivasi, penghiburan dan janji berkat daripada ayat-ayat yang menegur kehidupan mereka. Padahal, firman Tuhan tidak hanya diberikan untuk menghibur dan menguatkan, tetapi juga untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran.
Ayat di atas menunjukkan bahwa mempelajari Alkitab bukan sekadar menambah pengetahuan rohani. Firman Tuhan dimaksudkan untuk membentuk pemahaman sekaligus kehidupan kita. Melaluinya, kita belajar mengenal kebenaran Allah, menyadari kesalahan dalam pemikiran dan tindakan, memperbaiki apa yang keliru, serta terus dilatih untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, proses ini membutuhkan kerendahan hati. Kita harus bersedia mengakui bahwa pemahaman kita mungkin belum benar dan kehidupan kita masih memerlukan banyak perbaikan.
Kesulitan muncul ketika kita lebih senang dibenarkan daripada dikoreksi. Kita mungkin rajin membaca Alkitab untuk menemukan ayat yang mendukung pendapat sendiri atau menunjukkan kesalahan orang lain. Namun, ketika firman Tuhan menyingkapkan kesombongan, ketidakjujuran, kebencian, atau keengganan kita mengampuni, kita justru mencari alasan untuk membenarkan diri. Kita lupa bahwa firman Tuhan bukan hanya cermin untuk melihat kesalahan orang lain, melainkan juga untuk memeriksa diri sendiri.
Sikap serupa dapat muncul ketika kita memahami keselamatan sebagai anugerah Allah. Ada orang Kristen yang beranggapan bahwa karena keselamatan bukan hasil usaha manusia dan dosa telah diampuni melalui Kristus, maka usaha untuk hidup benar tidak lagi terlalu penting. Tanpa disadari, keyakinan akan kepastian keselamatan dapat berubah menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab moral. Padahal, Paulus dengan tegas menolak kesimpulan semacam itu. Dalam Roma 6:1–2, ia menyatakan bahwa kita tidak boleh terus hidup dalam dosa hanya supaya kasih karunia semakin melimpah.
Memang, kita tidak diselamatkan karena berhasil menjalani kehidupan yang sempurna. Kita dibenarkan oleh anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Namun, anugerah yang menyelamatkan juga bekerja memperbarui kehidupan kita. Pengudusan merupakan karya Allah melalui Roh Kudus, tetapi hal itu tidak berarti kita hanya perlu menunggu secara pasif tanpa belajar, bertobat, dan berusaha menaati firman-Nya.
Paulus menjelaskan keseimbangan ini dalam Filipi 2:12–13. Kita diperintahkan untuk mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri untuk menjadi kudus, tetapi kita juga tidak menggunakan anugerah sebagai alasan untuk bermalas-malasan secara rohani. Kita berusaha karena Allah bekerja di dalam kita.
Karena itu, kita perlu terus mempelajari firman Tuhan, bukan hanya untuk mengetahui apa yang benar, melainkan juga untuk bersedia dikoreksi dan diubah olehnya. Ketika firman menyatakan kesalahan, kita belajar bertobat. Ketika firman menunjukkan jalan yang benar, kita belajar melangkah di dalamnya. Ketika kita jatuh, kita tidak menyerah, tetapi kembali memohon pertolongan Tuhan dan melanjutkan perjalanan iman. Pertumbuhan ini tidak selalu cepat atau sempurna, tetapi kita dipanggil untuk terus belajar dan bertumbuh. Kita tidak boleh beranggapan bahwa kita tidak perlu berjuang dalam iman kita.
Menjadi orang Kristen bukan berarti kita sudah lulus dari sekolah kehidupan rohani, melainkan kita telah menerima anugerah untuk menjadi murid Kristus. Kita tidak belajar supaya layak diselamatkan; kita terus belajar karena telah diselamatkan.
Dan mungkin salah satu tanda kedewasaan rohani yang paling penting adalah kesadaran bahwa semakin lama kita belajar mengenal Tuhan, semakin kita menyadari betapa banyak hal yang masih perlu kita pelajari, perbaiki, dan serahkan kepada-Nya.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menjadi orang yang pandai menjelaskan Alkitab, melainkan menjadi manusia kepunyaan Allah yang diperlengkapi untuk melakukan setiap pekerjaan baik, sebagaimana dilanjutkan dalam 2 Timotius 3:17.
Jadi, haruskah kita belajar dan berusaha? Tentu saja. Bukan untuk membeli keselamatan atau memperoleh jasa di hadapan Allah, melainkan karena kita membutuhkan firman-Nya untuk terus dibentuk. Kita tidak diselamatkan karena usaha kita, tetapi anugerah yang menyelamatkan juga mendidik kita untuk hidup dalam kebenaran. Jangan sampai kita begitu sibuk membela doktrin anugerah sehingga enggan membiarkan firman Tuhan mengoreksi kehidupan kita.
Doa Penutup
Tuhan, berikanlah kami hati yang rendah hati untuk mempelajari firman-Mu. Tolong kami bersedia diajar, ditegur, diperbaiki, dan dibentuk dalam kebenaran. Mampukan kami untuk terus bertumbuh dalam kekudusan, bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan dengan bersandar pada anugerah dan pertolongan Roh Kudus. Amin.