Dare pro amore: Saya Memberi karena Saya Mengasihi

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
— 1 Yohanes 4:19

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal prinsip quid pro quo, sebuah ungkapan Latin yang berarti “sesuatu untuk sesuatu”. Saya memberikan sesuatu kepada seseorang dengan harapan mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Dalam perdagangan, prinsip ini wajar. Saya membayar, lalu menerima barang. Saya bekerja, lalu memperoleh upah. Ada pertukaran yang disepakati dan kewajiban yang harus dipenuhi. Namun, apakah prinsip yang sama patut menjadi dasar hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia?

Tanpa disadari, pola pikir transaksional dapat memasuki kehidupan rohani kita. Kita memberi persembahan dengan harapan Allah melipatgandakan kekayaan kita. Kita rajin berdoa dengan harapan memperoleh lebih banyak berkat. Kita melayani dengan harapan mendapatkan penghargaan atau berkat tertentu. Bahkan, kita mungkin menolong seseorang sambil diam-diam berharap bahwa suatu hari ia akan membalas kebaikan kita. Pemberian kita tampaknya tulus, tetapi di dalam hati tersimpan perhitungan: apa yang akan saya peroleh sebagai gantinya?

Pola pikir seperti ini juga dapat muncul dalam teologi kemakmuran ketika pemberian, iman, atau tindakan rohani diperlakukan seolah-olah merupakan investasi yang menjamin keuntungan dari Allah. Kita menabur benih, lalu mengharapkan hasil tertentu. Kita memberikan sesuatu kepada Allah, seakan-akan Ia berkewajiban membalasnya sesuai dengan harapan kita. Padahal, Allah bukan pihak dalam sebuah transaksi yang dapat kita kendalikan melalui persembahan atau besarnya iman kita. Kita boleh memohon berkat dan mengharapkan pertolongan-Nya, tetapi kita tidak dapat menjadikan pemberian sebagai alat untuk memaksa Allah memenuhi keinginan kita.

Alkitab memperkenalkan cara hidup yang berbeda. Ungkapan Latin dare pro amore dapat kita gunakan untuk menggambarkan prinsip ini: memberi karena kasih. Jika quid pro quo bertanya, “Apa yang akan saya terima sebagai balasan?”, kasih bertanya, “Bagaimana saya dapat menjadi berkat bagi orang lain?” Perbedaannya bukan sekadar pada tindakan memberi, melainkan pada motivasi yang mendasarinya.

Yohanes menulis, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Urutannya sangat penting. Kita bukan orang-orang yang terlebih dahulu mengasihi Allah sehingga Ia kemudian bersedia mengasihi kita. Sebaliknya, ketika kita masih berdosa, Allah menyatakan kasih-Nya melalui Yesus Kristus. Keselamatan bukan upah atas kebaikan kita, melainkan anugerah yang tidak mungkin kita beli atau bayar kembali. Kita memberi bukan untuk memperoleh kasih Allah, melainkan sebagai respons terhadap kasih yang telah lebih dahulu kita terima.

Prinsip ini mengubah cara kita memberi, melayani, dan memperlakukan sesama. Kita dapat menolong seseorang tanpa menuntut ucapan terima kasih. Kita dapat memberi tanpa memastikan bahwa kita akan menerima. Kita dapat melayani tanpa menjadikan pujian sebagai tujuan. Kita dapat mengasihi pasangan kita tanpa mengharapkan balasan. Bahkan, kita belajar mengasihi orang yang tidak mampu membalas kebaikan kita. Yesus mengajarkan agar kita berbuat baik tanpa mengharapkan balasan (Lukas 6:35). Kasih yang demikian tidak menjadikan sesama sebagai sarana untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Tentu saja, memberi karena kasih bukan berarti kita harus membiarkan diri dimanfaatkan atau mengabaikan keadilan dan tanggung jawab. Kita tetap memerlukan hikmat dan batasan yang sehat. Kita juga boleh bersukacita ketika kebaikan kita dibalas. Namun, balasan bukanlah syarat yang menentukan apakah kita bersedia mengasihi.

Bagaimana jika kita telah memberi, tetapi tidak dihargai? Bagaimana jika pelayanan kita tidak mendapat pengakuan? Bagaimana jika kita telah berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menerima jawaban yang kita harapkan? Kita mungkin kecewa dan terluka. Namun, kasih kita kepada Allah tidak seharusnya bergantung pada apakah Ia memberikan segala sesuatu sesuai keinginan kita. Kita tetap dapat mengasihi karena dasar kasih kita bukanlah keuntungan yang diperoleh, melainkan kasih karunia yang telah kita terima di dalam Kristus.

Pada akhirnya, kehidupan Kristen bukanlah usaha mengumpulkan jasa di hadapan Allah atau menuntut balasan dari sesama. Kita adalah penerima anugerah yang tidak layak kita peroleh. Karena itu, marilah kita memberi bukan untuk membeli berkat, melainkan untuk menyatakan syukur; bukan untuk mengikat orang lain dengan utang budi, melainkan untuk menjadi saluran kasih.

Kita tidak memberi supaya dikasihi. Kita memberi karena telah dikasihi. Kita tidak melayani supaya membeli berkat Allah. Kita melayani karena telah menerima kasih karunia-Nya. Inilah dare pro amore: saya memberi karena saya mengasihi.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena Engkau lebih dahulu mengasihi kami ketika kami masih berdosa. Ampunilah kami jika kami menjadikan pemberian, doa, dan pelayanan sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Ajarlah kami memberi dengan sukacita, mengasihi tanpa menuntut balasan, dan melayani dengan hati yang bersyukur. Kiranya hidup kami menjadi saluran kasih karunia-Mu bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan Balasan