Pengakuan yang Jujur

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” — Mazmur 42:6

Di Australia, kita sering mendengar sapaan sederhana, “How are you?” Biasanya, kita menjawab, “Good, thank you,” lalu percakapan berlanjut. Dalam banyak situasi, sapaan dan jawaban ini merupakan bagian dari kesopanan sehari-hari, tanpa harus menjadi awal percakapan yang lebih mendalam.

Namun, bagaimana jika seseorang bertanya demikian ketika sebenarnya hati kita sedang tidak baik-baik saja? Mungkin kita sedang menghadapi masalah keluarga, menerima kabar yang mengecewakan, atau memikirkan sesuatu yang membebani hati. Meski demikian, kita mungkin tetap menjawab, “Good, thank you,” karena merasa tidak perlu menceritakan pergumulan pribadi kepada orang lain. Itu tidak selalu salah. Tidak semua orang perlu mengetahui apa yang sedang kita alami, dan menjaga privasi bukan berarti kita tidak jujur.

Namun, ada pertanyaan yang lebih penting: beranikah kita mengakui keadaan hati kita yang sebenarnya kepada diri sendiri dan kepada Tuhan? Kita mungkin memilih untuk tidak menceritakan masalah kepada orang lain, tetapi jangan sampai kita menyangkal kesedihan yang sedang kita alami. Di hadapan Tuhan, kita tidak perlu berpura-pura kuat. Menjadi orang Kristen tidak berarti kita kebal terhadap kesedihan, kekecewaan, dan kegelisahan.

Pemazmur dalam Mazmur 42 mengalami pergumulan semacam itu. Ia menggambarkan jiwanya seperti rusa yang merindukan sungai berair. Ia merindukan Allah, Allah yang hidup (ayat 2–3). Kerinduannya bukan sekadar keinginan agar masalahnya selesai, melainkan kerinduan akan Allah sendiri.

Ia mengenang masa ketika berjalan bersama orang banyak menuju rumah Allah dengan sorak-sorai dan ucapan syukur (ayat 5). Namun, keadaan sekarang berbeda. Ia berduka, bahkan orang-orang bertanya, “Di mana Allahmu?” (ayat 4, 11). Pertanyaan itu tentu menyakitkan bagi seseorang yang sedang merindukan pertolongan Allah.

Bukankah kita juga dapat mengalami keadaan serupa? Kita percaya kepada Allah, tetapi masalah tidak kunjung selesai. Kita berdoa, tetapi jawaban yang dinantikan belum datang. Kita ingin merasakan kedekatan dengan Allah, tetapi hati justru dipenuhi kegelisahan.

Yang menarik, pemazmur tidak berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja. Ia bertanya kepada jiwanya sendiri, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Ia berani mengakui kesedihannya. Ia tidak menyangkal kenyataan hanya karena ia percaya kepada Allah.

Namun, pemazmur tidak berhenti pada kesedihan itu. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Berharaplah kepada Allah!” Ini bukan berarti kesedihannya langsung lenyap. Bahkan, menjelang akhir mazmur, ia kembali mengungkapkan kegelisahan yang sama. Pergumulannya belum selesai, tetapi ia terus mengarahkan hatinya kepada Allah.

Perhatikan perkataannya, “Aku akan bersyukur lagi kepada-Nya.” Kata lagi mengungkapkan pengharapan akan masa depan yang belum dialaminya. Ia belum mengetahui bagaimana pergumulannya akan berakhir, tetapi ia tetap berharap kepada Allah, penolong dan Allahnya.

Inilah pengharapan Kristen. Kita tidak harus menyangkal kenyataan pahit atau meyakinkan diri bahwa semua masalah pasti segera selesai. Kita boleh mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, sambil tetap mempercayai kesetiaan Allah. Kejujuran tentang perasaan tidak bertentangan dengan iman; justru dari pengakuan yang jujur, kita dapat belajar membawa seluruh pergumulan kita kepada Tuhan.

Karena itu, ketika pagi ini kita bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana kabarku?”, marilah kita menjawab dengan jujur. Kita tidak wajib menceritakan segala sesuatu kepada setiap orang, tetapi kita tidak perlu menyembunyikan keadaan hati kita dari Tuhan. Jika kita membutuhkan dukungan, kita dapat memilih dengan bijaksana orang yang dapat dipercaya untuk berbagi beban.

Kita boleh berkata, “Tuhan, hatiku berat dan jiwaku gelisah. Aku belum memahami jalan-Mu, tetapi aku mau tetap berharap kepada-Mu.”

Pengakuan yang jujur bukanlah tanda bahwa iman telah gagal. Kita dapat datang kepada Allah dengan hati yang terluka, tanpa berpura-pura kuat, sambil tetap berharap kepada-Nya.

Doa Penutup

Tuhan, ajarlah aku jujur di hadapan-Mu. Ketika hatiku tertekan dan jiwaku gelisah, mampukanlah aku untuk tetap berharap kepada-Mu, sebab Engkaulah penolongku dan Allahku. Amin.

Tinggalkan Balasan