“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.”
— Roma 8:25

Semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat. Ketika masih muda, kita mungkin membayangkan bahwa usia tujuh puluh tahun masih sangat jauh. Namun, tanpa terasa, kita tiba pada usia itu. Kita mulai merasakan perubahan pada tubuh, tenaga tidak lagi seperti dahulu, dan beberapa aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan kini membutuhkan usaha lebih besar. Kita pun mulai memikirkan berapa lama lagi kita dapat menikmati kehidupan bersama pasangan, anak-anak, dan cucu-cucu.
Keinginan untuk hidup panjang dan tetap sehat bukanlah sesuatu yang salah. Kita ingin menikmati hari-hari bersama keluarga, tetap mandiri, dan masih dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Kita berusaha menjaga kesehatan, berolahraga, mengonsumsi makanan yang baik, serta menjalani pemeriksaan dan pengobatan ketika diperlukan. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab kita dalam memelihara kehidupan yang dipercayakan Allah.
Namun, kita juga menyadari bahwa usaha terbaik sekalipun tidak menjamin umur panjang. Ada orang yang hidup sampai usia sembilan puluh atau seratus tahun, sementara yang lain meninggal jauh lebih muda. Kita tidak dapat menyimpulkan bahwa orang yang berumur panjang lebih dikasihi Allah atau bahwa mereka yang meninggal lebih awal kurang beriman. Panjangnya umur bukan ukuran mutlak kasih dan perkenanan Allah.
Umur panjang adalah harapan yang wajar, tetapi hidup kekal dalam Kristus adalah pengharapan yang melampaui panjangnya umur.
Dalam kehidupan Kristen, ada sebuah ungkapan teologis yang penting: sudah, tetapi belum (already, but not yet). Melalui Kristus, kita sudah menerima keselamatan dan hidup kekal. Namun, kita belum mengalami kepenuhan keselamatan itu. Kita masih hidup dalam dunia yang mengenal penyakit, penderitaan, penuaan, dan kematian. Kita sudah menjadi milik Kristus, tetapi masih menantikan saat ketika tubuh kita dibangkitkan dan seluruh ciptaan diperbarui oleh Allah.
Paulus menjelaskan kenyataan ini dalam Roma 8. Seluruh ciptaan mengeluh dan berada dalam penderitaan, sementara orang percaya pun mengeluh sambil menantikan pembebasan tubuhnya. Iman tidak membuat kita kebal terhadap penderitaan, dan keselamatan tidak berarti bahwa kita langsung terbebas dari segala kelemahan manusia. Kita masih berada dalam perjalanan menuju penggenapan janji Allah.
Karena itu, Paulus berkata, “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Pengharapan Kristen bukanlah keyakinan bahwa segala sesuatu pasti berjalan sesuai keinginan kita. Kita boleh berdoa agar Tuhan memberikan umur panjang, kesehatan, dan kesempatan untuk menikmati keluarga lebih lama. Namun, kita tidak dapat menuntut semua itu seolah-olah Allah berutang kepada kita. Kita berdoa, berusaha, dan menggunakan sarana yang tersedia, sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.
Menanti dengan tekun bukan berarti kita berhenti membuat rencana atau kehilangan semangat menjalani kehidupan. Sebaliknya, kita tetap dapat merencanakan masa depan, menjaga kebugaran, memelihara persahabatan, melayani sesama, dan menikmati hari-hari yang masih diberikan kepada kita. Kita melakukannya bukan karena yakin bahwa kita menguasai hari esok, melainkan karena kita percaya bahwa hari ini pun merupakan anugerah Allah.
Tentu, menerima kenyataan bahwa umur kita terbatas tidak selalu mudah. Kita mungkin masih memiliki banyak kerinduan yang belum terwujud. Kita ingin melihat cucu-cucu bertumbuh dewasa, menikmati kebersamaan dengan pasangan selama mungkin, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Kita boleh membawa semua kerinduan itu dalam doa. Namun, di tengah ketidakpastian, kita belajar bahwa pengharapan kita tidak bergantung pada berapa lama kita dapat bertahan hidup di dunia ini.
Kita berharap hidup panjang, tetapi kita tidak menggantungkan seluruh pengharapan pada panjangnya umur. Hidup kekal dalam Kristus bukan sekadar perpanjangan kehidupan sekarang, melainkan pengharapan akan kebangkitan dan kehidupan dalam ciptaan yang telah diperbarui, ketika kematian tidak lagi berkuasa.
Jadi, sudah, tetapi belum. Kita sudah menerima janji keselamatan, tetapi masih menantikan penggenapannya. Selama masih diberi kehidupan, marilah kita menjalaninya dengan penuh syukur dan tanggung jawab. Kita tidak mengetahui berapa banyak hari yang tersisa, tetapi kita mengetahui kepada siapa kita mempercayakan hari-hari itu. Kita menantikan masa depan dengan tekun, bukan karena kita mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan karena kita percaya kepada Allah yang setia menepati janji-Nya.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih atas kehidupan yang Engkau anugerahkan. Tolong kami memelihara kesehatan, menjalani hari-hari dengan bijaksana, dan menerima keterbatasan kami dengan iman. Ajarlah kami berharap bukan hanya pada panjangnya umur, melainkan terutama pada janji keselamatan yang telah Engkau berikan melalui Kristus. Amin.