Hal Menghitung Hari

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
— ‭‭Mazmur‬ ‭90‬:‭12‬‬

Kita sering menjalani kehidupan dengan begitu banyak kesibukan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, rencana masa depan yang perlu dipersiapkan, dan berbagai keinginan yang ingin diwujudkan. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan. Namun, di tengah kesibukan tersebut, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Untuk apakah sebenarnya Tuhan memberikan kehidupan ini kepada kita?

Dalam Mazmur 90, Musa mengingatkan kita akan perbedaan antara Allah yang kekal dan manusia yang fana. Allah adalah tempat perlindungan kita turun-temurun, sedangkan kehidupan manusia di dunia ini memiliki batas. Karena menyadari kenyataan tersebut, Musa berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Menghitung hari bukan sekadar menyadari bertambahnya usia, melainkan belajar menjalani kehidupan dengan perspektif yang benar. Kita diajak untuk menilai kembali prioritas, mempertimbangkan keputusan, dan menggunakan waktu dengan penuh tanggung jawab. Kebijaksanaan dimulai ketika kita menyadari bahwa tidak semua yang kita kejar memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan. Kesadaran ini tidak baru muncul di saat kita sudah lanjut usia, tetapi seharusnya sudah ada sejak muda.

Sering kali, tanpa disadari, kita menempatkan diri sendiri sebagai pusat kehidupan. Kita mencari ilmu untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, bekerja untuk mencapai keberhasilan, mengumpulkan harta demi kenyamanan, dan berusaha mewujudkan berbagai keinginan pribadi. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras atau menikmati berkat Tuhan. Namun, persoalannya muncul ketika seluruh kehidupan hanya berpusat pada apa yang dapat kita peroleh, sementara tujuan yang lebih besar terlupakan.

Kehidupan kita bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk Tuhan yang menciptakan kita dan sesama yang ditempatkan-Nya di sekitar kita. Rasul Paulus menulis, “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan” (Roma 14:8). Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang berpusat pada Tuhan, bukan semata-mata pada kepentingan pribadi.

Lalu, bagaimana kita mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari? Kita dapat memulainya melalui perkara-perkara sederhana. Kita bekerja dengan jujur, memperlakukan keluarga dengan kasih, menyediakan waktu bagi mereka yang membutuhkan perhatian, dan menggunakan kemampuan kita untuk menolong sesama. Begitu juga, dalam kegiatan gerejani, apa yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk pujian manusia. Di mana saja kita berada, kita juga belajar mengampuni, mengendalikan perkataan, dan tidak membiarkan kesibukan membuat hati kita menjadi acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain.

Tidak semua pelayanan harus dilakukan di tempat yang besar atau terlihat oleh banyak orang. Seorang ayah yang membimbing anaknya dalam iman, seorang ibu yang merawat keluarganya dengan kasih, seorang sahabat yang bersedia mendengarkan, atau seseorang yang menolong tanpa mengharapkan balasan sedang menjalankan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Hal-hal sederhana seperti ini mungkin tidak mendapat penghargaan manusia, tetapi dapat menjadi ungkapan kasih yang nyata kepada Tuhan dan sesama.

Karena itu, kita perlu memeriksa hati dan kehidupan kita secara berkala. Apakah waktu kita lebih banyak dihabiskan untuk mengejar kepentingan sendiri daripada melayani orang lain? Apakah ada hubungan yang perlu dipulihkan atau seseorang yang perlu kita ampuni? Adakah kebaikan yang dapat kita lakukan, tetapi terus kita tunda? Pertanyaan-pertanyaan ini menolong kita melihat apakah kehidupan kita sungguh mencerminkan iman yang kita akui.

Kita tidak harus menunggu kesempatan besar untuk hidup bermakna. Setiap hari memberikan kesempatan untuk mengasihi, melayani, dan melakukan kehendak Tuhan. Kiranya kita tidak hanya menghitung apa yang telah kita capai atau kumpulkan, tetapi juga merenungkan bagaimana kehidupan kita telah menjadi berkat bagi orang lain.

Pada akhirnya, hati yang bijaksana adalah hati yang belajar melihat kehidupan dari sudut pandang Tuhan. Kiranya, ketika kita menoleh ke belakang, kita tidak hanya melihat pencapaian pribadi, tetapi juga jejak kasih, kebaikan, dan kesetiaan yang telah kita tinggalkan. Sebab, kehidupan yang berkenan kepada Tuhan bukanlah kehidupan yang hanya berpusat pada diri sendiri, melainkan kehidupan yang dipersembahkan kepada-Nya dan menjadi berkat bagi sesama.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan bijaksana. Tolonglah kami agar tidak menjalani kehidupan hanya untuk mengejar kepentingan dan keinginan pribadi, tetapi senantiasa mengingat bahwa kami hidup untuk memuliakan nama-Mu dan mengasihi sesama. Bukalah mata kami untuk melihat kebutuhan orang-orang di sekitar kami, lembutkanlah hati kami untuk mengampuni, dan mampukanlah kami melakukan kebaikan selagi ada kesempatan. Kiranya perkataan, tindakan, pekerjaan, dan seluruh kehidupan kami menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan Balasan