“Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ Maka sahutku: ‘Ini aku, utuslah aku!’” — Yesaya 6:8

Dengar Dia panggil nama saya,
Dengar Dia panggil namamu,
Dengar Dia panggil nama saya,
Juga Dia panggil namamu.
Oh, giranglah!
Oh, giranglah!
Yesus amat cinta pada saya.
Oh, giranglah!
Kujawab ya, ya, ya,
Kujawab ya, ya, ya,
Kujawab ya Tuhan,
Kujawab ya Tuhan,
Kujawab ya, ya, ya.
Lirik lagu Sekolah Minggu ini mungkin masih melekat dalam ingatan sebagian dari kita. Saya mengenalnya sekitar lima puluh tahun yang lalu. Lagu Dengar Dia Panggil Nama Saya, dengan irama yang riang dan mudah diingat, mengajak anak-anak untuk menyambut panggilan Tuhan dengan sukacita. Lagu-lagu semacam ini berkembang luas dalam lingkungan gereja pada masa itu dan dinyanyikan oleh anak-anak dari berbagai denominasi.
Namun, di balik kesederhanaan liriknya, tersimpan pertanyaan yang patut kita renungkan: ketika Tuhan memanggil, bagaimana kita menjawab-Nya?
Mendengar kata dipanggil Tuhan, sebagian orang mungkin langsung teringat pada akhir kehidupan di dunia. Kita membayangkan saat Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan kehidupan ini dan menghadap hadirat-Nya. Kesadaran akan kematian memang penting, sebab kita tidak mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup yang diberikan kepada kita. Namun, panggilan Tuhan tidak hanya berkaitan dengan akhir kehidupan. Tuhan juga memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan kepada-Nya hari ini.
Kisah panggilan Nabi Yesaya dalam pasal 6 memperlihatkan urutan yang sangat penting. Ketika melihat kekudusan dan kemuliaan Tuhan, Yesaya menyadari keberdosaannya. Ia berseru bahwa dirinya adalah orang yang najis bibirnya dan hidup di tengah-tengah bangsa yang juga najis bibirnya. Ia tidak merasa layak untuk berdiri di hadapan Allah yang kudus.
Akan tetapi, Allah tidak membiarkan Yesaya tinggal dalam keadaannya. Melalui bara api dari mezbah, Allah menyatakan bahwa kesalahannya telah dihapus dan dosanya telah diampuni. Baru setelah itu Yesaya mendengar pertanyaan Tuhan, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Yesaya pun menjawab, “Ini aku, utuslah aku!”
Urutan ini mengajarkan sesuatu yang mendasar: panggilan untuk melayani bukanlah usaha manusia untuk memperoleh kasih dan penerimaan Allah, melainkan respons terhadap anugerah Allah yang lebih dahulu bekerja dalam hidupnya. Yesaya tidak menguduskan dirinya sendiri agar layak dipakai Tuhan. Allah terlebih dahulu menyatakan pengampunan dan mempersiapkannya untuk tugas yang akan dipercayakan kepadanya.
Demikian pula dalam kehidupan orang percaya. Kita tidak menaati Tuhan supaya Dia berkenan menyelamatkan kita. Kita menaati-Nya karena di dalam Kristus kita telah menerima anugerah keselamatan. Ketaatan bukan harga yang kita bayar untuk memperoleh kasih Allah, melainkan buah syukur atas kasih yang telah kita terima.
Lalu, bagaimana kita menjawab panggilan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?
Tidak semua orang dipanggil menjadi pendeta, penginjil, atau pelayan gereja secara penuh waktu. Namun, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup bagi Tuhan dan mengasihi sesama. Panggilan itu dapat diwujudkan melalui kesetiaan dalam pekerjaan, kejujuran ketika tidak ada orang yang mengawasi, kesediaan mengampuni, kesabaran terhadap pasangan, perhatian kepada anak-anak dan cucu-cucu, serta keberanian membela kebenaran dan keadilan. Ada pula saat ketika panggilan Tuhan berarti kita harus berhenti sejenak, memeriksa hati, mengakui dosa, dan memperbaiki sikap yang selama ini kita pertahankan.
Hidup seperti ini mengingatkan kita pada ungkapan Coram Deo, yaitu hidup di hadapan Allah. Artinya, kita menyadari bahwa seluruh kehidupan kita berlangsung di hadapan-Nya. Iman tidak hanya berlaku ketika kita berada di gereja, membaca Alkitab, atau berdoa. Iman juga harus nyata dalam cara kita bekerja, berbicara, menggunakan waktu, memperlakukan orang lain, dan mengambil keputusan. Tidak ada bagian kehidupan yang berada di luar tanggung jawab kita kepada Tuhan.
Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita di dunia akan berakhir. Namun, kita tidak perlu menunggu sampai usia lanjut atau mendekati kematian untuk mulai mempersiapkan diri menghadap Tuhan. Persiapan itu berlangsung sekarang, melalui kehidupan yang terus dibentuk oleh firman-Nya dan dikerjakan oleh Roh Kudus.
Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: ketika Tuhan menegur kita melalui firman-Nya, apakah kita bersedia mendengar? Ketika Dia memberi kesempatan untuk menolong sesama, apakah kita bersedia bertindak? Ketika Dia menunjukkan dosa yang perlu kita tinggalkan, apakah kita bersedia bertobat?
Kiranya kita bukan hanya orang yang senang menyanyikan lagu tentang panggilan Tuhan, melainkan juga orang yang sungguh-sungguh bersedia menjawabnya. Bukan karena kita merasa diri layak, tetapi karena kita telah menerima anugerah-Nya.
Doa Penutup
Ya Bapa yang kudus dan penuh kasih, terima kasih karena Engkau terlebih dahulu mengasihi kami dan menyelamatkan kami melalui Tuhan Yesus Kristus. Ampunilah kami ketika kami lebih sibuk mengejar keinginan sendiri daripada mendengarkan suara-Mu melalui firman-Mu. Lembutkanlah hati kami agar kami bersedia menerima teguran, meninggalkan dosa, dan melakukan kehendak-Mu. Tolonglah kami agar dapat menjawab panggilan-Mu dengan setia, baik dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, maupun dalam setiap kesempatan untuk mengasihi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.