“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.”
— Markus 10:43–44

Dalam Markus 10:35–45, kita menemukan sebuah percakapan yang menarik tentang kepemimpinan. Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus dengan permintaan agar kelak mereka mendapat tempat terhormat, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya dalam kemuliaan-Nya. Permintaan ini memperlihatkan bahwa mereka masih memahami kebesaran berdasarkan kedudukan, kehormatan, dan kekuasaan. Mereka ingin menjadi orang penting dalam kerajaan yang mereka bayangkan akan didirikan Yesus.
Murid-murid yang lain menjadi marah ketika mendengar permintaan tersebut. Mungkin mereka merasa Yakobus dan Yohanes berusaha mendahului mereka dalam memperoleh kedudukan. Namun, Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar tentang kepemimpinan. Ia menunjukkan perbedaan antara cara dunia memahami kekuasaan dan cara Kerajaan Allah memandang kebesaran.
Yesus berkata bahwa para penguasa bangsa-bangsa memerintah dengan tangan besi dan menggunakan kekuasaan untuk menguasai orang-orang di bawah mereka. Tetapi, Ia menegaskan, “Tidaklah demikian di antara kamu.” Dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari berapa banyak orang yang tunduk kepada kita, melainkan dari seberapa besar kesediaan kita melayani orang lain.
Bahkan, Yesus memberikan diri-Nya sebagai teladan tertinggi. Dalam ayat 45, Ia berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Dengan demikian, kepemimpinan yang diajarkan Yesus bukan sekadar sikap rendah hati atau keramahan kepada bawahan. Kepemimpinan adalah kesediaan mengorbankan kepentingan diri demi kebaikan orang lain.
Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin yang baik tidak menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan setiap keputusan orang lain demi mempertahankan kedudukan atau keuntungan pribadi. Sebaliknya, ia menghormati martabat, pilihan dan kemampuan orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Ia memberikan ruang bagi mereka untuk berpikir, mengambil inisiatif, mengembangkan kemampuan, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
Dalam keluarga, orang tua yang bijaksana tidak menjadikan anak-anaknya terus bergantung kepada mereka. Mereka mendidik, memberikan teladan, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan agar anak-anak kelak mampu mengambil keputusan secara mandiri dan bertanggung jawab. Dalam dunia usaha, pemimpin yang baik memberdayakan karyawan agar berani mengambil inisiatif dan mengembangkan potensi mereka. Dalam gereja, pemimpin memperlengkapi jemaat untuk menggunakan karunia masing-masing dan mempersiapkan generasi penerus. Demikian pula dalam negara, pemimpin yang bertanggung jawab membangun institusi yang sehat dan memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk turut menentukan masa depan bangsa.
Pemberdayaan atau empowerment bukan berarti membiarkan orang lain bertindak tanpa bimbingan dan batas tanggung jawab. Pemimpin tetap perlu memberikan arahan, nasihat, koreksi, dan pengawasan yang proporsional. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya pusat dari segala keputusan. Ia harus berani memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada orang lain untuk belajar, bahkan melalui kesalahan yang masih dapat ditoleransi.
Dalam 2 Timotius 2:2, Paulus meminta Timotius mempercayakan ajaran yang telah diterimanya kepada orang-orang yang dapat dipercayai dan mampu mengajar orang lain. Kita melihat prinsip penerusan generasi: apa yang diterima tidak boleh berhenti pada satu orang, tetapi harus diteruskan kepada orang lain. Inilah salah satu bentuk kepemimpinan yang menghasilkan buah melampaui masa jabatan dan kehidupan pemimpinnya.
Pemimpin yang baik tidak berusaha membuat dirinya selalu diperlukan, tetapi mempersiapkan orang lain agar mampu meneruskan pekerjaan yang baik, bahkan ketika dirinya sudah tidak ada.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya terlihat dari apa yang dicapainya selama memimpin, tetapi juga dari apa yang dapat diteruskan oleh generasi sesudahnya. Pemimpin yang takut kehilangan kekuasaan akan berusaha mempertahankan ketergantungan orang lain kepadanya. Sebaliknya, pemimpin yang memahami ajaran Yesus akan berusaha membangun orang lain agar mampu berdiri, berkembang, dan melanjutkan pekerjaan yang baik.
Kita tidak cukup hanya memberikan sayap kepada generasi berikutnya; kita juga harus membimbing mereka belajar terbang. Dan ketika mereka telah siap, kita harus berani memberikan ruang agar mereka dapat terbang sendiri. Itulah salah satu wujud nyata kepemimpinan yang melayani, sebagaimana telah diteladankan oleh Yesus Kristus.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terima kasih atas teladan kepemimpinan-Mu yang penuh kasih dan pengorbanan. Ampunilah kami apabila selama ini lebih mengutamakan kedudukan, kekuasaan, dan kepentingan pribadi daripada melayani sesama. Ajarlah kami menjadi pemimpin yang rendah hati, yang tidak berusaha menguasai orang lain, tetapi memberdayakan dan mempersiapkan mereka untuk bertumbuh. Berikan kami hikmat untuk membimbing generasi berikutnya, keberanian untuk mempercayai mereka, serta kerelaan untuk memberikan kesempatan kepada mereka mengembangkan potensi yang Engkau karuniakan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.