“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
— Roma 12:2

Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Italia yang menarik: Ancora Imparo, yang berarti “Saya masih belajar.” Ungkapan ini secara tradisional dikaitkan dengan Michelangelo, seorang seniman besar yang konon mengucapkannya ketika sudah berusia lanjut. Terlepas dari kepastian sejarahnya, ungkapan tersebut mengandung sikap hidup yang patut kita teladani: tidak pernah merasa terlalu tua, terlalu berpengalaman, atau terlalu pandai untuk terus belajar.
Sikap ini sangat penting dalam kehidupan iman. Menjadi orang Kristen bukan berarti kita sudah mengetahui segala sesuatu tentang Allah, memahami seluruh kebenaran Firman-Nya, atau tidak lagi membutuhkan koreksi. Sebaliknya, semakin kita mengenal Tuhan, seharusnya semakin kita menyadari betapa terbatasnya pengertian kita dan betapa banyak hal yang masih perlu dipelajari.
Dalam surat Roma, Paulus terlebih dahulu menjelaskan panjang lebar tentang keadaan manusia yang berdosa, ketidakmampuannya membenarkan diri di hadapan Allah, serta keselamatan yang hanya dapat diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus. Ia menguraikan bagaimana manusia dibenarkan bukan karena perbuatan atau jasa, melainkan karena kasih karunia Allah. Ia juga menjelaskan kehidupan baru dalam Kristus dan pengharapan yang dimiliki orang percaya melalui pekerjaan Roh Kudus. Bahkan, dalam pasal 8, Paulus menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus.
Setelah menjelaskan kekayaan anugerah Allah tersebut, Paulus memasuki pasal 12 dengan kata-kata: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu…” (Roma 12:1). Kata karena itu sangat penting. Kehidupan Kristen yang kemudian dijelaskan Paulus bukanlah usaha manusia untuk mendapatkan keselamatan, melainkan respons terhadap keselamatan yang telah diterimanya. Karena Allah telah begitu bermurah hati kepada kita, sudah selayaknya kita mempersembahkan seluruh kehidupan sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada-Nya.
Dalam konteks inilah kita memahami Roma 12:2. Paulus mengingatkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia memiliki pola pikir, nilai, dan ukuran keberhasilan sendiri. Dunia sering mengukur kehidupan berdasarkan kekayaan, kekuasaan, popularitas, kepuasan diri, dan pencapaian pribadi. Tanpa disadari, pola pikir tersebut dapat memengaruhi bahkan membentuk cara kita dalam menjalani kehidupan sebagai orang percaya.
Karena itu, Paulus tidak sekadar meminta perubahan perilaku, tetapi pembaruan budi. Kata Yunani yang digunakan untuk “berubahlah” adalah metamorphousthe, yang menggambarkan suatu transformasi mendalam. Pembaruan ini menyentuh cara kita berpikir, menilai, mengambil keputusan, dan memandang orang lain dan apa yang ada dalam kehidupan. Kita tidak lagi menjadikan dunia sebagai ukuran kebenaran, tetapi belajar melihat segala sesuatu berdasarkan kehendak Allah.
Tujuan pembaruan tersebut adalah agar kita dapat membedakan manakah kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna. Dengan kata lain, pikiran yang diperbarui akan menghasilkan kehidupan yang semakin selaras dengan kehendak Tuhan. Iman bukan hanya tentang apa yang kita percayai, tetapi juga bagaimana kepercayaan itu membentuk sikap dan tindakan kita sehari-hari.
Namun, pembaruan ini bukan sekadar usaha manusia memperbaiki dirinya sendiri. Kita membutuhkan pekerjaan Roh Kudus yang menerangi pikiran, menegur kesalahan, dan membentuk karakter melalui Firman Tuhan. Roh Kudus tidak meniadakan tanggung jawab kita, tetapi memampukan kita untuk belajar, memahami, bertobat, dan menaati kehendak Allah. Seperti yang dikatakan dalam Filipi 2:13, Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Hal ini juga ditegaskan Paulus dalam Kolose 3:10. Kita telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Artinya, menjadi manusia baru di dalam Kristus bukan berarti proses pembaruan kita telah selesai. Kita memang telah menerima identitas baru melalui keselamatan dalam Kristus, tetapi cara berpikir, sikap, dan karakter kita masih harus terus dibentuk. Kita belajar meninggalkan manusia lama dengan segala perbuatannya dan mengenakan manusia baru yang mencerminkan karakter Kristus. Pembaruan ini bukan hasil kekuatan dan usaha manusia semata, melainkan pekerjaan Roh Kudus yang berlangsung melalui Firman Allah dalam kehidupan kita.
Dalam tradisi Reformasi dikenal ungkapan Latin Ecclesia Reformata, Semper Reformanda, yang berarti gereja yang telah direformasi harus senantiasa diperbarui menurut Firman Allah, dan bukannya statis, tidak pernah berubah. Prinsip ini juga mengingatkan setiap orang percaya bahwa reformasi tidak boleh berhenti pada pembaruan doktrin, tradisi, atau tata gereja. Kita sendiri harus terus bersedia dikoreksi dan dibentuk oleh kebenaran Firman Tuhan.
Seseorang bisa memahami doktrin dengan baik, tetapi masih perlu belajar mengasihi. Kita bisa mengetahui banyak ayat Alkitab, tetapi masih perlu belajar mengampuni. Kita bisa lama menjadi anggota gereja, tetapi masih perlu belajar merendahkan hati, mendengarkan orang lain, dan mengakui kesalahan sendiri. Pengetahuan teologi yang tidak disertai pembaruan hidup dapat membuat kita merasa benar, tetapi belum tentu semakin menyerupai Kristus.
Inilah semangat Ancora Imparo dan Semper Reformanda: saya masih belajar, dan karena itu saya bersedia dikoreksi serta diubah. Kita tidak pernah selesai belajar selama masih menjalani kehidupan di dunia ini. Semakin bertambah usia dan pengalaman, seharusnya semakin bertambah pula kerendahan hati kita di hadapan Tuhan.
Kita tidak akan mencapai kesempurnaan selama masih hidup di dunia ini. Namun, melalui pekerjaan Roh Kudus, kita terus bertumbuh dalam pengudusan dan semakin menyerupai Kristus. Kiranya kita tidak menjadi orang Kristen yang hanya pandai mempertahankan pendapat, tetapi orang percaya yang senantiasa bersedia mempersembahkan hidup dan membiarkan pikirannya diperbarui oleh Firman Allah.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih atas anugerah keselamatan yang telah Engkau berikan melalui Yesus Kristus. Ampunilah kami ketika kami lebih mudah mengikuti pola pikir dunia daripada kehendak-Mu. Melalui Firman dan pekerjaan Roh Kudus, perbaruilah pikiran dan hati kami. Berikanlah kerendahan hati untuk terus belajar, keberanian untuk menerima koreksi, dan kesediaan untuk diubah. Kiranya seluruh kehidupan kami menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu dan semakin mencerminkan karakter Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.