“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” — Matius 6:10

Kita hidup di tengah dunia yang keadaannya semakin mengkhawatirkan. Berbagai peperangan masih berlangsung, konflik antarmanusia dan antarbangsa terus terjadi, ketidakadilan merajalela, dan kesenjangan sosial semakin terasa. Belum lagi bencana alam, perubahan iklim, krisis ekonomi, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang membuat banyak orang kehilangan harapan. Di tengah keadaan seperti ini, tidak sedikit orang bertanya: Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? Apakah Tuhan masih bekerja di tengah dunia yang seolah-olah semakin jauh dari kehendak-Nya?
Sebagai orang percaya, kita tentu boleh membawa semua kekhawatiran itu kepada Tuhan melalui doa. Kita boleh memohon agar peperangan dihentikan, orang-orang yang menderita memperoleh pertolongan, mereka yang kehilangan tempat tinggal mendapatkan perlindungan, dan para pemimpin bangsa diberikan hikmat untuk menjalankan tanggung jawabnya. Kita juga boleh berdoa agar Tuhan memelihara keluarga dan orang-orang yang kita kasihi. Namun, ada satu bagian dalam Doa Bapa Kami yang mengingatkan kita bahwa doa bukan sekadar menyampaikan daftar keinginan kepada Tuhan. Yesus mengajar kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Kedua permohonan ini saling berkaitan. Kita memohon agar Kerajaan Allah datang dan kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di sorga. Artinya, kita tidak hanya merindukan keadaan dunia yang lebih baik menurut ukuran manusia, tetapi juga merindukan agar pemerintahan Allah dinyatakan dalam kehidupan manusia. Kerajaan Allah bukan terutama tentang kekuasaan politik atau kemakmuran duniawi, melainkan tentang pemerintahan Allah yang menghadirkan kebenaran, keadilan, kekudusan, kasih, dan damai sejahtera.
Namun, menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan tidak sama dengan sikap Que Sera, Sera, yang berarti apa pun yang akan terjadi, biarlah terjadi. Sikap seperti itu dapat mencerminkan kepasrahan kepada nasib tanpa harapan atau tanggung jawab. Sebaliknya, ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” kita sedang menyerahkan diri kepada Allah yang hidup, berdaulat, dan penuh kasih. Kita bukan menerima nasib secara buta, melainkan mempercayakan hidup kepada Pribadi yang kita kenal dan percayai. Kita tetap boleh memohon, berharap, berusaha, dan memperjuangkan apa yang benar. Namun, kita menyadari bahwa hasil akhirnya tidak selalu berada dalam kendali kita.
Karena itu, berdoa agar kehendak Tuhan terjadi bukan berarti kita harus pasif menghadapi keadaan dunia. Sebaliknya, doa seharusnya mendorong kita menjadi bagian dari jawaban atas doa itu. Ketika kita berdoa agar keadilan ditegakkan, kita juga dipanggil untuk berlaku adil. Ketika kita memohon agar orang-orang yang menderita memperoleh pertolongan, kita perlu membuka hati dan tangan untuk menolong mereka. Ketika kita berdoa bagi perdamaian, kita harus berusaha menjadi pembawa damai dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Kita tidak dapat terus-menerus meminta Tuhan mengubah dunia sementara kita sendiri tidak bersedia melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita.
Doa Yesus di taman Getsemani memberikan gambaran yang sangat mendalam tentang penyerahan diri kepada kehendak Bapa. Menjelang penderitaan dan kematian-Nya, Yesus berdoa agar cawan itu berlalu dari-Nya. Namun, Ia menutup doa-Nya dengan penyerahan yang sempurna: bukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Bapa yang terjadi. Tuhan tidak mengangkat cawan penderitaan itu. Seorang malaikat datang memberikan kekuatan kepada-Nya, tetapi Yesus tetap harus menjalani jalan salib. Kekuatan yang diberikan bukan untuk menghindari penderitaan, melainkan untuk menjalani jalan ketaatan sampai tuntas.
Dari sini kita belajar bahwa doa tidak selalu mengubah keadaan yang sedang kita hadapi. Tuhan tidak selalu mengabulkan permohonan kita menurut waktu dan cara yang kita harapkan. Ada kalanya penyakit tidak segera sembuh, persoalan keluarga tidak langsung terselesaikan, kesulitan ekonomi masih berlangsung, dan ketidakadilan tetap kita saksikan. Namun, itu tidak berarti Tuhan tidak mendengar doa kita. Melalui doa, kita belajar menerima kekuatan-Nya untuk tetap percaya, bertahan, dan taat di tengah keadaan yang tidak berubah.
Kita memang tidak selalu memahami jalan Tuhan, tetapi kita dapat mempercayai bahwa Dia tetap memegang kendali. Sementara menantikan penggenapan Kerajaan-Nya secara sempurna, marilah kita hidup sebagai saksi Kerajaan itu melalui perkataan, tindakan, dan kasih kita kepada sesama. Pada akhirnya, doa yang dewasa bukan hanya berkata, “Tuhan, lakukanlah apa yang saya inginkan,” melainkan juga, “Tuhan, ajarlah saya melakukan apa yang Engkau kehendaki.” Sebab, kehidupan yang berkenan kepada Tuhan bukanlah kehidupan yang selalu berjalan sesuai rencana kita, melainkan kehidupan yang tetap setia kepada-Nya dalam keadaan apa pun.
Doa Penutup
Bapa di sorga, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan penderitaan, ajarlah kami untuk tetap percaya kepada kedaulatan dan kasih-Mu. Berikanlah kekuatan kepada mereka yang menderita dan hikmat kepada para pemimpin. Tolonglah kami agar tidak hanya berdoa, tetapi juga melakukan bagian kami dalam menghadirkan kasih, keadilan, dan damai sejahtera. Ajarlah kami tetap berusaha, setia, dan berserah kepada kehendak-Mu, sekalipun keadaan tidak selalu sesuai dengan harapan kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.