“Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”
— Lukas 23:43

Kemarin saya menghadiri pemakaman seorang teman yang telah saya kenal selama lebih dari lima puluh tahun. Kehilangan seseorang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup selama begitu lama tentu membawa kesedihan tersendiri. Ada kenangan, percakapan, dan pengalaman bersama yang tidak mungkin terulang kembali. Namun, di tengah kesedihan itu, ada pula sukacita dan penghiburan karena saya percaya bahwa bagi seorang yang meninggal di dalam Kristus, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia kini telah meninggalkan kehidupan dunia yang fana dan berada bersama Tuhan Yesus.
Perasaan sedih karena kehilangan seorang sahabat dan sukacita karena pengharapan akan kehidupan kekal ternyata dapat hadir bersamaan. Inilah salah satu penghiburan terbesar iman Kristen: kita berdukacita, tetapi bukan seperti orang-orang lain yang tidak mengenal Kristus.
“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.”
— 1 Tesalonika 4:13
Kematian adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Cepat atau lambat, setiap manusia akan menghadapinya. Bagi sebagian orang, kematian menjadi sesuatu yang menakutkan karena ketidakpastian tentang apa yang terjadi sesudahnya. Namun, bagi orang percaya, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Kita memiliki pengharapan yang berakar pada janji dan karya keselamatan Yesus Kristus.
Ketika Yesus disalibkan, ada dua orang penjahat yang turut disalibkan di sebelah kiri dan kanan-Nya. Keduanya menghadapi kematian yang sama, tetapi memberikan tanggapan yang berbeda terhadap Yesus. Salah seorang menghujat-Nya, sedangkan yang lain menyadari kesalahannya sendiri dan mengakui bahwa Yesus tidak bersalah. Ia kemudian berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
Jawaban Yesus sungguh mengagumkan: “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Perhatikan bahwa Yesus tidak menjanjikan kepadanya kesempatan untuk memperbaiki masa lalunya, melakukan perbuatan baik, atau membuktikan kelayakannya. Ia hanya menerima janji bahwa dirinya akan bersama-sama dengan Yesus. Inilah gambaran indah tentang keselamatan berdasarkan anugerah Allah, bukan berdasarkan jasa atau pencapaian manusia.
Janji tersebut juga memberikan pengertian penting tentang kehidupan setelah kematian. Dalam pemahaman Kristen tradisional, ketika seorang percaya meninggal, jiwanya segera berada dalam hadirat Kristus. Rasul Paulus mengungkapkan kerinduannya untuk pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus, karena hal itu jauh lebih baik (Filipi 1:23). Ia juga menyatakan bahwa beralih dari kehidupan dalam tubuh berarti berada bersama Tuhan (2 Korintus 5:8). Dengan demikian, kematian bukanlah suatu keadaan tanpa pengharapan, melainkan memasuki persekutuan dengan Kristus.
Firdaus yang disebut Yesus bukanlah suatu tempat yang terpisah dari surga dalam pengertian bahwa keduanya merupakan dua tujuan akhir yang berbeda. Dalam 2 Korintus 12:2–4, Paulus menghubungkan Firdaus dengan pengalaman diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga. Hal ini memberikan dasar untuk memahami Firdaus sebagai keadaan kebahagiaan dan persekutuan dengan Allah. Yang terpenting bukanlah gambaran mengenai tempatnya, melainkan kenyataan bahwa kita akan bersama Kristus.
Namun, kita juga perlu memahami bahwa berada bersama Kristus setelah kematian bukanlah keseluruhan pengharapan Kristen. Tujuan akhir kita mencakup kebangkitan tubuh pada kedatangan Kristus kembali. Rasul Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 15 bahwa tubuh yang fana akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa. Selanjutnya, Wahyu 21 menggambarkan langit baru dan bumi baru, ketika Allah berdiam bersama umat-Nya. Inilah penggenapan penuh Kerajaan Allah, ketika dosa, maut, dukacita, dan penderitaan tidak ada lagi.
Karena itu, pengharapan kita bukan sekadar meninggalkan dunia untuk pergi ke surga, melainkan menikmati kehidupan kekal bersama Allah dalam ciptaan yang telah diperbarui-Nya. Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga sekarang memerintah di sebelah kanan Allah Bapa. Suatu hari kelak, Ia akan datang kembali untuk membangkitkan umat-Nya dan menggenapi seluruh janji-Nya.
Kesadaran akan tujuan akhir ini seharusnya tidak membuat kita mengabaikan kehidupan sekarang. Justru karena kita memiliki pengharapan kekal, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan di dunia dengan penuh tanggung jawab, mengasihi sesama, melayani Tuhan, dan tetap setia sekalipun menghadapi kesulitan. Kita tidak perlu takut menghadapi masa depan yang belum kita ketahui, sebab masa depan kita berada dalam tangan Kristus.
Pada akhirnya, pengharapan terbesar kita bukanlah rumah yang indah di surga, terbebas dari penderitaan, ataupun kehidupan tanpa kesulitan. Pengharapan terbesar kita adalah bersama Kristus untuk selama-lamanya. Sebagaimana Yesus menjanjikan kepada penjahat yang bertobat itu, “Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku.” Itulah tujuan akhir yang membuat perjalanan iman kita di dunia ini sungguh berarti.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terima kasih atas keselamatan dan pengharapan hidup kekal yang Engkau anugerahkan. Ajarlah kami menjalani kehidupan di dunia dengan setia dan bertanggung jawab, tanpa kehilangan pandangan terhadap tujuan akhir kami, yaitu hidup bersama-Mu untuk selama-lamanya. Amin.