Karena Yesus, Tuhan terasa dekat

“Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.” Lukas 23: 44 – 45

Jika anda adalah penggemar opera, pertunjukan musik dan balet, mungkin anda ingat bahwa panggung pertunjukan tradisional umumnya mempunyai tabir (curtain). Tetapi banyak gedung pertunjukan modern di dunia yang sekarang tidak lagi mempunyai tabir seperti itu.

Pada zaman sebelum kematian Yesus, bait suci di Yerusalem juga mempunyai tabir yang menutupi ruang mahakudus. Ruang yang didedikasikan kepada Allah ini hanya bisa dimasuki imam besar saja, hanya sekali dalam setahun, guna membawa persembahan untuk pendamaian dengan Allah (Keluaran 30: 10). Jabatan imam besar berakhir ketika bait suci dihancurkan tentara Romawi yang dipimpin Titus pada tahun 70 M.

Ayat diatas menuliskan kejadian yang terjadi pada saat Yesus disalibkan. Mulai tengah hari, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam. Allah memperlihatkan murkaNya kepada manusia, dan menunjukkan bahwa manusia tidak mempunyai harapan kecuali jika mereka mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Suatu keajaiban lain kemudian terjadi, tabir Bait Suci terbelah sehingga ruang mahakudus ini tidak lagi tersembunyi dari mata pengunjung bait Allah. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Lukas 23: 46).

Di Golgota, suara-suara orang yang mempercakapkan hal penyaliban Yesus menjadi terhenti, dan mereka menjadi takut. Yesus ternyata bukanlah orang biasa, Ia adalah orang yang benar. Yesus adalah Tuhan, seperti apa yang sudah dinyatakanNya selama Ia hidup di dunia.

Bagi kita orang yang mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat kita, Allah sudah mengampuni dosa kita. Kita yang berdosa sudah mati dan dikubur bersama Yesus, untuk menerima keselamatan dalam kebangkitanNya. Lebih dari itu, kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita karena dalam darah Kristus kita sudah diangkat menjadi anak-anakNya. Dengan terbelahnya tabir bait suci, kita sudah diberi anugerahNya untuk bisa berkomunikasi dengan Dia secara langsung.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memberi kita hak untuk menghadap tahtaNya dengan keyakinan bahwa Ia akan mau menerima kita. Sekalipun kita adalah orang yang berdosa, darah Yesus sudah mencuci bersih hidup lama kita. Dengan hidup baru, kita tidak lagi dengan ketakutan menghadapi tabir yang menutupi Tuhan, tetapi bisa dengan rasa hormat, syukur dan penuh kasih berdoa kepadaNya pada setiap saat. Kasih Tuhan sekarang bisa memancar langsung kepada kita anak-anakNya dari semua bangsa di dunia yang sudah diselamatkan!

Yesus menderita untuk kita

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matius 27: 46

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari dimana umat Kristen di seluruh dunia dengan khusyuk memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kematian Kristus adalah suatu hal yang tidak mudah dimengerti oleh orang yang bukan Kristen, karena agaknya sulit diterima bahwa Anak Allah yang mahakuasa harus mati secara tragis karena ulah manusia.

Pada ayat diatas diungkapkan apa yang terjadi pada diri Anak Allah yang datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Manusia yang berdosa bukannya menyambut kedatanganNya dengan rasa hormat, tetapi sebaliknya justru membenci Dia. Karena itu, Ia yang tidak berdosa akhirnya mengalami kematian di kayu salib sebagai ganti umat manusia.

Penderitaan Yesus dimulai dengan segala hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadaNya dan berbagai siksaan jasmani. Seperti layaknya seorang hukuman, Yesus dipaksa untuk memikul kayu salib menuju ke Golgota, bukit tengkorak. Dan di situ Ia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat, sebelah-menyebelah, dan Yesus ada di tengah-tengah. Pilatus, wakil pemerintahan Romawi pada waktu itu, menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.

Penderitaan fisik dan mental yang dialami Yesus yang tidak berdosa tidaklah bisa dibandingkan dengan penderitaan yang dialami kedua penjahat disampingNya. Yesus adalah Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan ditangan manusia ciptaanNya. Lebih dari itu, karena Yesus harus merasakan semua penderitaanNya seorang diri di kayu salib dan menanggung murka Allah, secara spiritual Ia juga sangat menderita. Ia mengungkapkan penderitaan rohaniNya dengan ucapan Eli, Eli, lama sabakhtani. Yesus setia kepada tugas penyelamatanNya sampai titik kulminasi dimana Ia merasa bahwa semua yang Ia punyai sudah dikurbankanNya untuk menebus dosa manusia.

Pagi ini kita membaca dan mengenang apa yang sudah terjadi pada diri Yesus di Golgota dengan rasa kagum atas kasihNya kepada umat manusia. Karena begitu besar kasihNya, Ia mau untuk mengalami semua itu. Karena begitu besar kasihNya, apapun yang terjadi pada diriNya tidak dapat menutupi atau menghilangkan pancaran kasihNya kepada kita.

Dalam hidup ini, saat ini kita mungkin sedang mengalami berbagai tantangan hidup dan penderitaan. Tetapi kematian Yesus di kayu salib membuktikan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh disana. Semoga kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus yang sudah pernah mengalami hal yang serupa tidak akan meninggalkan kita!

Mengapa Ia diam saja?

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Yesaya 53: 7

Australia adalah negara peternak domba nomer dua sedunia. Banyak domba yang  diekspor ke luar negeri melalui jalur laut, kemudian di proses oleh abatoar setempat guna dijadikan daging konsumsi manusia. Sekalipun tujuan akhir dari ekspor itu adalah pengadaan daging, pemerintah Australia cukup dibuat rikuh dengan adanya berita yang muncul akhir-akhir yang menunjukkan adanya malpraktek terhadap domba-domba Australia di beberapa negara yang mengimpor domba itu. Domba-domba yang seharusnya dipelihara dengan baik sebelum saat penyembelihan sering diperlakukan dengan tidak semestinya, dan cara penyembelihannya juga dianggap tidak manusiawi. Domba-domba yang malang itu seringkali terlihat seperti makhluk yang tidak berdaya dalam cengkeraman manusia yang kejam.

Ayat diatas menggambarkan bagaimana seekor domba mengalami penderitaan di tangan manusia. Domba itu dianiaya, tetapi dia tidak membuka mulutnya. Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang tidak dapat bersuara di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia hanya berdiam diri. Apa yang mengherankan ialah domba yang tidak berdaya itu sebenarnya adalah oknum yang mahakuasa.

Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Anak Allah yang berwujud manusia. Sebagai manusia ia adalah sepenuhnya seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Anak Allah, Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi ia tidak menggunakan kemahakuasaanNya sebagai sesuatu yang menguntungkan diriNya sendiri, tetapi Ia justru merendahkan diri sehingga dapat merasakan segala penderitaan kita. Sebagai Tuhan, Ia sudah membuat berbagai macam mujizat yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa.

Adalah satu hal yang paling menakjubkan yang dapat kita lihat dari Anak Domba Allah ini. Pada hari menjelang penyalibanNya, kita mengenang betapa hebatNya pergumulan Yesus di taman Getsemane. Sang Domba yang tidak bersalah akan menghadapi kematian yang mengerikan, yang seharusnya dialami oleh seluruh umat manusia. KeringatNya mengucur deras seperti darah, dan hatiNya hancur karena Ia menyadari bahwa sebentar lagi murka Allah kepada umat manusia harus ditanggungNya di kayu salib.

Mengapa Yesus mau berkurban untuk umat manusia? Mengapa Ia yang mahakuasa tidak membuka mulutNya atau melawan mereka yang ingin menyalibkanNya? Mengapa Ia menghadapi kematian di kayu salib dengan kerelaan dan bahkan menyerahkan diriNya sepenuhnya kepada mereka yang ingin membunuhNya?

Sebagai manusia kita tidak dapat membayangkan bahwa semua ini terjadi karena kasih Tuhan yang sangat besar kepada seluruh umat manusia. Tuhan melihat kejatuhan manusia kedalam dosa dan tahu bahwa tidak ada jalan lain untuk menghindarkan manusia dari hukuman yang sepadan dengan dosanya. Pemberontakan kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci harus diberi hukuman yang setimpal: kematian dalam bentuk yang paling mengerikan.

Tuhan tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa tahan menghadapi hukuman Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa terlepas dari hukuman kecuali ada orang yang tidak berdosa, yang menggantikan seluruh umat manusia. Tebusan yang sangat besar karena seluruh umat manusia tersangkut didalam dosa kepada Tuhan yang mahasuci hanya bisa dibayar dengan harga tertinggi: Anak TunggalNya.

Hari ini, jika kita merenungkan penderitaan yang sudah dialami Yesus, kita mungkin takjub akan besarnya kasih Tuhan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan dengan kasihNya ingin menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi kita sadar bahwa dengan keadilanNya Ia harus menghukum mereka yang tetap tidak percaya kepada AnakNya. Biarlah kita boleh hidup dalam rasa syukur atas besarnya kemurahan Tuhan kepada kita dan mau membagikan kabar baik ini agar makin banyak orang yang diselamatkan!

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

 

Jangan mudah terkecoh

“Ketika aku memberi perhatianku untuk memahami hikmat dan melihat kegiatan yang dilakukan orang di dunia tanpa mengantuk siang malam, maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” Pengkhotbah 8: 16 – 17

Kejadian terbakarnya katedral Notre Dame di Paris kemarin dulu adalah berita yang membuat banyak orang merasa masygul. Sebagian orang merasa sedih karena bangunan yang  sudah berumur ratusan tahun itu merupakan bentuk arsitektur yang luar biasa. Mereka yang merasa ikut memiliki gedung gereja itu merasa sedih karena kerusakan berat yang sudah terjadi.

Sebagaimana biasa, kejadian yang diluar kontrol manusia yang muncul di dunia ini selalu ditanggapi oleh sebagian orang menurut pandangan pribadi mereka. Ada yang berpikir bahwa sebuah musibah seperti diatas adalah tanda kemarahan Tuhan, tetapi ada yang berpendapat bahwa manusialah yang menyebabkannya. Selain itu, ada orang yang menghubungkannya dengan hal-hal lain yang menunjuk pada datangnya akhir zaman, dan ada juga yang mengartikan bahwa semua itu hanyalah kecelakaan.

Mengapa orang bisa mempunyai obsesi yang besar tentang apa yang dipikirkan Tuhan? Memang, jika kita lihat dari awalnya, Adam dan Hawa berbuat dosa di taman Firdaus karena hal yang sama. Mereka melanggar perintah Tuhan karena mereka ingin seperti Tuhan. Manusia merasa puas jika ia dapat melihat apa yang akan terjadi, dapat menilai baik dan buruknya situasi, dan dapat mengambil tindakan dini (pre-emptive action) untuk mengatasi segala persoalan.

Sebenarnya, dengan keinginan manusia untuk memperkirakan apa yang akan terjadi, untuk mengartikan apa yang sudah terjadi dan untuk mempersiapkan diri untuk masa depan itu tidak ada salahnya jika dilakukan dalam batas-batas yang wajar sebagai manusia. Setiap manusia diberi kebebasan atau freedom oleh Tuhan untuk mengatur hidupnya. Banyak ilmu pengetahuan yang sekarang ada mempunyai cara-cara tertentu untuk mengamati keadaan, mengukur apa yang terjadi, dan kemudian membuat prognosis atau perkiraan, dan juga plan atau rencana untuk masa depan. Ilmu kedokteran misalnya, bisa menilai kesehatan seseorang dan membuat perkiraan tentang keadaan dan rencana perawatan untuk tahun-tahun mendatang. Tetapi, dari ayat diatas  kita sadar bahwa manusia sebenarnya tidak tahu apa yang  direncanakan dan diperbuat Tuhan.

Mereka yang gemar mendengar “ramalan” orang-orang tertentu untuk masa depan, atau yang suka mengartikan “tanda-tanda ajaib”, mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan dengan kebesaranNya tidak dapat diukur manusia. Apa yang dilakukan dan direncanakanNya, selain apa yang tertulis dalam Alkitab, tidaklah dapat kita ketahui detailnya. Selain itu, apa yang tertulis dalam Alkitab pun tidak mudah bagi kita untuk mengartikannya. Memang, jika semua yang direncanakan Tuhan di bumi dan di surga mudah diketahui dan dipelajari, tentu saja iblis akan mudah untuk menghindarinya atau mengacaukannya. Begitu juga, jika segala tindakan Tuhan mudah diterka manusia, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana karena manusia akan selalu dapat menanggapinya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Kristen kita tidak boleh mudah dipengaruhi oleh  berbagai pendapat dan pandangan manusia atas apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi di dunia. Mereka yang ingin mencoba untuk meramalkan apa yang akan terjadi hanyalah bisa melakukannya sebatas kekuatan manusia. Mereka yang mengaku atau dikenal sebagai orang yang dapat melihat ke masa depan mungkin saja sudah dipengaruhi oleh kuasa gelap. Memang orang yang mudah dipengaruhi oleh berbagai pendapat yang tidak benar dan kebohongan, akan mudah teombang-ambing dalam hidup dan iman mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang benar-benar beriman, Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang memegang kendali dan karena itu mereka tidak akan mudah terperosok kedalam tipu muslihat iblis.

Apakah anda merasa beruntung atas hidup anda?

“Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Matius 13: 16

Beberapa saat yang silam ada seseorang yang bertanya kepada saya apakah saya merasa beruntung dalam hidup saya. Pertanyaan yang singkat itu tidak mudah saya jawab tanpa menyebabkan jawaban saya seolah-olah terlalu bernada “rohani”. Tetapi saya tidak juga dapat menjawab bahwa saya merasa beruntung karena bisa hidup dibawah atap dan tidak perlu mengalami kelaparan. Jawaban seperti itu bagi saya agaknya terlalu bernada  “jasmani”. Apa sih yang bisa disebut sebagai keberuntungan hidup?

Memang, jika kita rajin membaca media, kita bisa mengenali  orang-orang yang tersohor karena keberhasilan, kepandaian dan kekayaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai profile yang hebat di internet, dan jika anda menggunakan Google tentu anda bisa membaca riwayat hidup mereka. Mereka nampaknya adalah orang-orang yang sukses dan mencapai prestasi yang terbaik. Orang-orang yang nampaknya beruntung.

Bagaimana dengan anda sendiri? Dapatkah anda membayangkan kalau riwayat hidup anda tertulis dalam wikipedia? Ataukah nama anda memang sudah cukup dikenal masyarakat? Bagaimana perasaan anda jika orang bisa membaca semua yang terjadi dalam hidup anda? Apakah anda merasa senang atau bangga atas apa yang sudah anda capai dalam hidup anda? Apakah anda merasa beruntung? Apakah yang paling membuat anda senang dan puas atas hidup anda?

Ayat diatas adalah perkataan Yesus kepada murid-muridNya tatkala mereka merasa heran mengapa Yesus menggunakan perumpamaan dalam mengajar orang banyak. Yesus menyatakan bahwa Ia menggenapi nubuat nabi Yesaya yang berbunyi: “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap” (Matius 13: 14). Yesus lebih lanjut mengatakan bahwa hati banyak manusia sudah menebal dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup akan firman Tuhan. Karena itu, walaupun mereka ingin menjadi orang yang baik hidupnya, mereka tidak dapat mengerti apa yang paling perlu untuk dilakukan.

Bagi orang percaya, pertanyaan bagaimana manusia bisa hidup di dunia jika mereka buta dan tuli akan bimbingan Tuhan, tentu tidak sulit untuk dijawab. Tanpa dapat mendengar dan mengerti firman Tuhan, manusia tidak dapat membuahkan apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan. Sebaliknya, mereka bisa menjadi manusia yang durhaka dalam pandangan Tuhan. Mereka mungkin menjadi orang-orang yang terkenal, tetapi mungkin tidak sadar akan keadaan mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya jauh dari Tuhan dan tidak membuahkan apa yang baik bagi Tuhan yang sudah lebih dulu mengaruniakan kasihNya kepada mereka. Mereka tidak juga membuahkan apa yang baik untuk diri mereka dan sesama.

Pagi ini, jika kita bisa melihat dan  mengerti bahwa kita membutuhkan Yesus dalam hidup ini dan mau melaksanakan firmanNya setiap hari, kita adalah orang yang beruntung. Mereka yang beruntung adalah orang-orang yang berbahagia karena bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan dalam segala keadaan. Yesus berkata bahwa sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kita lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kita dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Kita sudah mengenal siapa Yesus itu dan mengerti bahwa Ia turun ke dunia untuk menebus dosa kita. Karena itu kita mempunyai iman kepadaNya dan mau melaksanakan segala apa yang difirmankanNya.  Kita adalah orang-orang yang beruntung, karena hidup kita yang selalu diterangi dengan firman Tuhan seharusnya bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan dan kebaikan bagi diri kita dan sesama manusia. Masihkah itu kurang? Ataukah kita yang kurang menghargai kasih karuniaNya?

Bergumul dalam menantikan anugerah Tuhan

Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Kejadian 32: 28

Pernahkah anda menonton pertandingan gulat? Pertandingan gulat (wrestling) yang ada di TV seringkali hanyalah untuk konsumsi mereka yang senang menonton pertunjukan atau entertainment.  Pertandingan gulat yang asli menghadapkan dua orang yang benar-benar bertanding dan bukan hanya berpura-pura bertanding. Karena itu, dalam pertandingan gulat seperti itu cedera sering terjadi.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa Yakub sudah bergumul dengan seseorang dan Yakub menang. Pergumulan Yakub mungkin bisa dibayangkan seperti pertandingan gulat, dimana Yakub pada akhirnya mengalami cedera pada sendi di pangkal pahanya. Yakub sejak itu timpang, dan pengalaman itu membuatnya menjadi manusia yang berbeda sikap hidupnya.

Dengan siapakah Yakub bergumul pada waktu itu? Yakub bergumul dengan orang yang tidak dikenalnya, tetapi ia sadar bahwa orang itu utusan Tuhan. Pergumulan Yakub bukan sekedar perkelahian, tetapi lebih menyerupai permohonan yang sungguh-sungguh agar ia diberkati. Yakub orang yang nampaknya kurang jujur dan egois itu, mengalami pergumulan hidup yang tidak dapat diatasinya dengan kekuatan sendiri. Karena itu, ketika ia mendapatkan kesempatan, ia benar-benar mau bergumul untuk mendapat pertolongan Tuhan.

Banyak penafsir Alkitab yang menulis bahwa orang yang bergumul dengan Yakub adalah malaikat utusan Tuhan. Tetapi banyak juga yang menafsirkan bahwa Yakub bergumul dengan Tuhan Yesus yang belum turun ke dunia sebagai manusia. Apapun yang sebenarnya terjadi, Yakub bergumul dalam menghadapi Tuhan ketika ia berada dalam situasi yang benar-benar kritis atau desperate. Jika Yakub tidak mendapat berkat Tuhan, ia tidak akan bisa melihat hari depan dengan keyakinan.

Ayat diatas menggambarkan Yakub yang “menang” dalam pergumulannya dengan Tuhan. Secara fisik, Yakub kalah dengan cedera berat. Tetapi secara rohani, Yakub mendapat kemenangan hanya karena Tuhan dengan belas kasihan dan karuniaNya melihat bahwa Yakub benar-benar membutuhkan berkat penyertaanNya. Pergumulan Yakub menunjukkan imannya yang percaya bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber keselamatan dan kekuatannya.

Pagi ini, adakah masalah kehidupan yang berat yang harus anda hadapi? Apakah anda sudah menggumulkan semua itu dengan Tuhan? Apakah anda mempunyai iman bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan yang mahakasih? Tahukah anda bahwa Tuhan ingin melihat kesungguhan dalam hati kita untuk menjadi umatNya yang bergantung kepadaNya dalam setiap keadaan? Seperti Yakub yang sudah diberi kemenangan dan kedamaian oleh Tuhan, Tuhan bisa memberikan kemenangan atas kekuatiran dan kedamaian hidup kepada mereka yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang memegang kemudi kehidupan manusia.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Hal mencari kehendak Tuhan

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Tanggal 17 April yang akan datang bangsa Indonesia akan menghadapi pemilihan umum. Sebulan kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Mei, Australia akan mengalami hal yang serupa. Pemilihan umum adalah pelaksanaan demokrasi yang paling nyata dalam sebuah negara, untuk mana manusia harus bersyukur karena adanya kemerdekaan setiap warga untuk menyatakan pendapatnya. Kemerdekaan atau freedom yang dipunyai sebuah bangsa, seringkali hanya bisa dicapai dengan pengorbanan besar. Karena itu, pemilihan umum adalah suatu pesta demokrasi yang harus kita nikmati bersama.

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendakiNya? Apakah yang sekarang ada sudah merupakan kehendakNya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerapkali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Memang manusia tidak mungkin tahu keseluruhan kehendakNya (overall will).

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Seorang yang mencari pasangan hidup mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik, tetapi jika kemudian rumahtangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia bertanggungjawab untuk pilihannya dan melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firmanNya setiap hari.

Tuhan memang mempunyai kehendak mutlak (sovereign will) untuk seluruh ciptaanNya. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, tetap dalam hidup kita sehari-hari Ia sudah menunjukkan apa yang baik untuk dilakukan. Itu yang dinamakan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan atau revealed will. Dalam Alkitab tertulis banyak hal yang dikehendaki Tuhan, seperti untuk mengasihi Tuhan dan sesama, untuk membayar pajak kepada pemerintah, untuk memegang kejujuran dan keadilan, untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan lain-lain.

Jika kita sering bingung untuk mencari kehendak Tuhan, itu adalah karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Kita ingin tahu seluruh kehendakNya untuk hidup kita, untuk keluarga kita dan untuk bangsa kita. Tetapi itu jelas tidak mungkin. Apa yang belum terjadi kita tidak tahu, dan apa yang sudah terjadi belum tentu merupakan hasil akhir.

Pagi ini, ayat pembukaan dari Roma 12: 2 diatas mengatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita bertanggungjawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umatNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apakah kita tahu apa yang kita perbuat?

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23: 34

Tiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, dimana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang melakukan pelanggaran hukum? Apakah ia sadar akan adanya hukum? Apakah ia dengan sengaja melanggar hukum? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah sebagian dari apa yang diperdebatkan di depan hakim.

Ayat diatas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal yang sering dibahas dan disampaikan dalam berbagai khotbah dan renungan. Memang apa yang dikatakan Yesus sewaktu Ia disalibkan adalah suatu doa yang luar biasa, yang menunjukkan kasihNya kepada manusia. Pada waktu itu prajurit-prajurit Romawi membuang undi atas jubah Yesus, sedangkan banyak  orang Yahudi melihat Yesus disalibkan dengan melontarkan berbagai ejekan, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan disamping Yesus ikut juga menghujat Dia. Menghadapi semua itu Yesus tetap bisa berdoa kepada Allah Bapa agar mereka diberi kesempatan untuk memperoleh pengampunan.

Yesus berdoa agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini bukanlah sekedar memenuhi nubuat Yesaya (Yesaya 53: 12) yang mengatakan bahwa “Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberotak”. Yesus tentu tahu bahwa bagi mereka yang didoakan masih ada kesempatan untuk meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Pengampunan Tuhan bisa diberikan jika manusia mau mengakui dosa-dosa mereka. Tetapi, jika mereka merasa tidak berdosa pengampunan tentunya tidak akan diberikan Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mungkin dalam hal ini ada orang-orang yang merasa bahwa mereka sudah hidup menurut perintah Tuhan dan merasa yakin bahwa hidup mereka adalah lebih baik dari hidup orang lain. Perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang ada dalam Lukas 18: 9 – 14 menceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa  disebelah seorang pemungut cukai dan merasa bahwa ia “tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”. Orang Farisi ini jelas tidak sadar akan dosa apa yang diperbuatnya: kesombongan. Karena tidak tahu akan dosa yang diperbuatnya, ia tidak bisa meminta ampun; dan karena ia tidak meminta ampun, ia tidak akan dibenarkan Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Bagi pemungut cukai ini pengampunan Tuhan tersedia.

Tahukah kita akan dosa yang kita perbuat? Mungkin kita tahu bahwa sebagai manusia kita dilahirkan dalam dosa. Semua orang sudah berdosa karena dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Walaupun demikian, sadarkah kita akan segala dosa yang kita perbuat setiap hari, setiap jam dan setiap saat? Sudah tentu jika kita menghitung dosa-dosa yang kita lakukan, pikirkan, atau katakan setiap hari, jumlahnya adalah terlalu banyak untuk bisa disebutkan. Untuk sebagian orang, karena kebiasaan, dosa yang banyak itu mudah dilupakan. Begitu juga, apa yang bisa diterima oleh masyarakat umum mudahlah diacuhkan. Karena banyak orang melakukan hal yang sama, kita mungkin merasa bahwa kita tidak berbuat salah.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa pengampunan Tuhan ada tersedia bagi semua orang yang sadar akan dosanya. Roh Kudus bekerja setiap saat untuk mengingatkan kita agar kita selalu mengamati apa yang baik dan yang buruk dalam hidup manusia di dunia.  Jika apa yang baik menurut firman Tuhan tidak kita lakukan dan apa yang buruk justru kita senangi, itulah kelemahan kita. Tetapi Roh Kudus jugalah yang memberi peringatan dengan tidak henti-hentinya agar kita tahu apa yang kita lakukan, agar kita peka akan apa yang baik dan apa yang buruk. Roh Kudus juga yang membimbing kita agar kita tidak jatuh kedalam kesombongan bahwa kita adalah orang-orang baik yang sudah terpilih. Biarlah dengan kerendahan hati kita mau meneliti hidup kita hari demi hari untuk bisa memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita dan memperoleh kekuatan dari Tuhan agar kita mampu untuk memperbaiki cara hidup kita.

Keinginan yang bisa membawa kehancuran

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Ingatkah anda akan lagu Gang Kelinci? Lagu lama yang pernah dinyanyikan Lilis Suryani dan Titik Puspa ini menceritakan kehidupan di satu gang di Jakarta. Gang Kelinci yang berada di samping Pasar Baru, Jakarta, adalah daerah yang padat penduduknya dan sempit jalannya. Walaupun demikian, dalam nyanyian itu diutarakan adanya rasa bahagia karena penduduknya rukun dan damai.

Gang Kelinci itu nampak manis dari sudut nostalgia, tetapi mungkin bukanlah tempat tinggal yang disukai orang zaman sekarang. Dengan kemajuan ekonomi dan bertambahnya daya beli, mereka yang mampu tentunya ingin tinggal di daerah yang mewah di jalan yang bisa dilewati mobil besar. Bukan saja di Jakarta, di kota besar di seluruh dunia, termasuk Sydney dan Melbourne di Australia, orang ingin tinggal di gedongan.

Bagi kebanyakan manusia memang apa yang kurang baik atau kurang nyaman umumnya selalu ingin dihindari atau diperbaiki. Itu lumrah saja. Walaupun demikian, untuk mencapai tujuan hidup itu orang sering mencari jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Karena itu, banyak orang Kristen yang gaya hidupnya tidak berbeda dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Mereka yang hanya ingin mencari keuntungan, mungkin tidak takut kepada hukum negara, tidak mempunyai etika yang baik, dan tidak merasa bersalah jika orang lain dikorbankan. Tuhan bagi mereka bukanlah Tuhan yang harus dihormati, dan orang lain bukanlah sesama insan yang harus dikasihi.

Menjalani hidup sebagai orang Kristen memang tidak mudah. Kita tahu bahwa dunia mempunyai prinsip “siapa cepat dia dapat“. Tetapi jika orang yang ingin untuk mendapatkan keberhasilan kemudian mengambil jalan yang terlihat paling mudah, disitulah kehancuran hidup bisa muncul. Ada banyak orang yang ingin memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan, tetapi apa yang kemudian diperoleh adalah hidup yang jauh dari Tuhan. Hidup yang rukun dan damai a la Gang Kelinci diganti dengan hidup yang terisi kekejaman, ketidak-jujuran dan keserakahan.

Setiap manusia pada akhirnya bertanggung jawab atas hidup dan tingkah laku mereka kepada Tuhan. Melalui ayat diatas firman Tuhan pagi ini memperingatkan bahwa jika prinsip kehidupan kita adalah mencari kesuksesan materi, besar kemungkinan bahwa kita akan terjebak dalam dosa-dosa yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Mengikut Tuhan bukanlah hal yang mudah dilakukan karena itu berarti menentang arus dunia. Manusia ingin hidup nyaman dan karena itu sebagian orang Kristen mengejar kesuksesan yang dianggap sebagai bukti kasih Tuhan. Tetapi ini bukanlah apa yang diajarkan Alkitab. Sebab itu, sekalipun banyak orang melakukannya kita tidak boleh terpikat olehnya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus bisa memilih apa yang terbaik untuk masa depan.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Apa pesan kita kepada mereka yang sakit?

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1: 2

Jatuh sakit adalah hal yang umum. Semua orang pernah jatuh sakit, dan sebagian malahan pernah masuk ke rumah sakit. Sudah tentu semua orang tidak menyukai penyakit, dan karena itu jika ada orang yang sakit berat, tentu ada pertanyaan mengapa itu terjadi. Apakah adanya penyakit adalah suatu pernyataan kedaulatan Tuhan? Ataukah adanya penyakit merupakan bukti adanya dosa si penderita? Mungkinkah Tuhan memakai penyakit sebagai suatu sarana untuk mencapai kehendakNya? Apakah Tuhan menghendaki adanya penyakit, ataukah Ia tidak peduli? Bagaimana sikap Tuhan terhadap mereka yang jatuh sakit?

Penyakit sudah tentu adalah sesuatu yang buruk, suatu konsekuensi yang harus dihadapi seluruh umat manusia yang jatuh kedalam dosa. Penyakit dapat terjadi pada siapa saja, umat Kristen atau bukan. Penyakit tidak memandang bulu, kaya atau miskin, tua atau muda.

Pada pihak yang lain, Tuhan mungkin mendatangkan penyakit untuk memperingatkan atau menghukum orang yang dengan sengaja menentang apa yang dikehendakiNya atau menghajar mereka yang hidup menurut jalan dunia. Tuhan juga bisa memakai penyakit untuk mengajar umatNya untuk lebih taat dan lebih bersandar kepadaNya. Memang, adanya penyakit juga bisa digunakan untuk mendemonstrasikan kedaulatan Tuhan. Ini bisa kita baca dalam Perjanjian Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru.

Pada tahun 1980an, ketika virus HIV mulai menyebar, banyak orang Kristen yang percaya bahwa virus itu didatangkan Tuhan sebagai hukuman untuk kelompok tertentu. Beberapa tahun kemudian, banyak orang terkena virus itu melalui transfusi darah, kontaminasi alat operasi dan lain-lain. Hal ini kemudian memicu riset untuk mencari obat-obat yang bisa mencegah atau menyembuhkan. Mereka yang percaya bisa melihat bahwa sekalipun ada malapetaka, Tuhan tetap memegang kontrol.

Di zaman modern ini kita tahu adanya berbagai jenis penyakit lain seperti kanker yang merajarela. Semua itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Jika Yesus masih hidup di dunia dan sempat mengunjungi rumah sakit anak-anak, Ia mungkin ikut menangis bersama anak-anak kecil yang menderita leukemia atau penyakit lainnya. Penyakit adalah sesuatu yang tidak disenangi Yesus dan karena itu selama di dunia, Ia menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan itu Yesus juga menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat atas penyakit dan bahkan kematian.

Pagi ini kita mungkin memikirkan teman atau saudara yang sedang sakit. Kita mungkin tidak tahu mengapa itu harus terjadi. Tetapi jatuh sakit adalah bagian kehidupan di dunia dan umat percaya pun tidak luput darinya. Apa yang kita tahu ialah Tuhan ingin agar seluruh umat manusia untuk hidup sehat secara jasmani dan rohani.

Yesus turun ke dunia untuk membawa keselamatan jiwa kepada mereka yang percaya kepadaNya. Tetapi Ia juga menyembuhkan banyak orang sakit tanpa pilih kasih. Dengan demikian Ia membuktikan bahwa Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, adalah Tuhan yang mahakasih yang ingin menyelamatkan siapa saja yang datang kepadaNya.

Sikap kita kepada yang sakit haruslah sama dengan sikap Yesus Kristus kepada mereka yang sakit pada waktu Ia masih di dunia. Ia tidak memakai penderitaan manusia untuk menggaris-bawahi aspek hukuman atau kedaulatan Tuhan. Sebaliknya, Ia mengabarkan kabar baik (good news) bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih dan mau membebaskan manusia dari kurungan dosa. Dialah yang memegang kontrol dan yang bisa memberi kekuatan dan kesembuhan jasmani dan rohani sesuai dengan kehendakNya. Semoga kita dapat membagikan kasih Kristus kepada mereka yang sedang sakit dengan ikut mendukung mereka baik dalam doa maupun bantuan.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 16