Pengharapan kita tidak akan mengecewakan

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Dalam suasana pandemi saat ini, seisi dunia merasakan adanya berbagai penderitaan. Lebih dari itu, keadaan ekonomi yang berantakan sudah menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Adakah sesuatu yang masih anda harapkan dalam hidup ini? Saya yakin pertanyaan ini akan dijawab dengan “ya” oleh kebanyakan orang. Sekalipun apa yang kita harapkan belum tentu bisa terjadi, harapan setidaknya adalah pernyataan isi hati. Selagi masih hidup, umumnya orang masih berharap akan sesuatu yang baik di masa depan, untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

Jika ditanya lagi, sebagian orang yang mempunyai harapan dapat menyebutkan apa yang diharapkannya dengan tegas dan langsung karena memang ada sesuatu yang signifikan yang masih dinantikannya. Tetapi, sebagian lagi harus berpikir dulu untuk menemukan jawabnya. Mereka mungkin sudah merasa terbiasa dengan hidupnya, sehingga mereka butuh waktu untuk memikirkan apa yang penting dan yang belum terjadi atau tercapai.

Pertanyaan selanjutnya mungkin agak sulit untuk dijawab: Apa yang dapat kita harapkan kalau keadaan begitu buruk sehingga kita tidak bisa mengharapkan apa pun untuk diri sendiri, orang lain, keluarga atau negara? Dalam hal ini, mungkin orang sulit untuk mengutarakan harapannya karena merasa bahwa kemungkinan untuk terjadi adalah nol. Karena itu, dalam keadaan sedemikian orang kemudian memutuskan untuk acuh tak acuh atau pun “pasrah”.

Bagi orang Kristen, harapan akan apa yang baik seharusnya selalu dinyatakan. Jika mereka benar-benar mengenal Tuhan yang mahakuasa, mereka tahu bahwa Tuhan sanggup untuk melakukan apa saja. Lebih dari itu, umat Kristen percaya bahwa dari dulu Tuhan yang mahakasih selalu menghendaki apa yang baik, bukan yang jahat untuk umatNya. Karena itu, umat Kristen seharusnya selalu tetap mengharapkan apa yang baik untuk dirinya, orang lain, bangsa, negara dan dunia, sekalipun itu terlihat sulit untuk dicapai. Lebih dari itu, mereka harus sadar bahwa Tuhan tahu apa yang mereka perlukan.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Pada saat dunia dan banyak negara berada dalam keadaan kacau, kita harus bisa mengharapkan apa yang benar-benar baik bisa terjadi di masa depan. Jika kita melihat orang lain menderita, kita harus mau mendoakan sesuatu yang baik untuk mereka. Dan jika kita mau menyadari kelemahan kita, kita bisa mengharapkan sesuatu perubahan yang baik akan terjadi pada diri kita.

Masalahnya disini adalah apa yang “benar-benar baik”? Kita sendiri mungkin kurang tahu tentang itu, terutama jika kita melihat keadaan dunia pada saat ini. Kita mungkin mengharapkan agar para pemimpin di dunia bisa memberikan sedikit harapan untuk masa depan rakyatnya. Dan jika kita saat ini mengalami masalah yang sangat besar, kita harus percaya bahwa pada saatnya kita akan bisa mengatasi persoalan itu. Tetapi, apakah harapan bisa menjadi kenyataan? Kita mungkin ragu. Karena itu, pada saat inilah kita harus kembali kepada Tuhan, karena Dialah yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Ayat pembukaan di atas adalah ayat yang sering diucapkan di gereja sebagai salam berkat di akhir kebaktian. Mungkin kita sudah terlalu sering mendengarnya. Tetapi pada suasana yang mencekam seluruh dunia pada saat ini, tidak ada yang lebih kita inginkan daripada apa yang diucapkan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang berlaku juga untuk kita. Dalam ayat itu Paulus berdoa semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kita dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kita, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kita berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Hari ini kita diingatkan bahwa hanya Allah yang bisa memberi kita harapan, yang dapat memenuhi kita dengan rasa sukacita dan damai sekalipun keadaan di sekeliling kita terasa menakutkan. Allah jugalah yang memberi kita iman kepercayaan sehingga kita tidak ragu atau goncang dalam pengharapan kita. Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita sudah menyatakan bahwa sebagai umatNya, tidak ada hal yang lebih besar dari pengharapan bahwa walaupun ombak menghempas hidup kita saat ini, kita akan mampu menghadapi semuanya dengan keberanian dan keyakinan. Kita berharap bahwa jika pada akhirnya semua ini berlalu, nama Tuhan akan lebih dimuliakan. Lebih dari itu, apa pun yang terjadi, kita tetap berharap bahwa pada saatnya kita akan dipersatukan denganNya dalam kemuliaan dan kedamaian di Surga karena Yesus sudah menebus diri kita dengan harga yang termahal.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Tuhan tahu apa yang kita derita

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Saat ini apa yang terjadi di bulan-bulan yang lalu masih terbayang. Pada waktu itu banyak warga Australia yang dilanda ketakutan, kecemasan, dan kepanikan virus corona. Menyusul bencana kebakaran hutan selama musim panas, masyarakat berjuang untuk mengatasi ketidakpastian seputar kemungkinan penyebaran dan dampak COVID-19. Selama pandemi langsung, banyak orang akan mengalami peningkatan rasa kecemasan dan kekhawatiran. Untunglah, secara umum kecemasan sekarang mulai menurun seiring waktu karena penyebaran virus nampaknya sudah dapat dikendalikan. Walaupun demikian, sebagian orang akan mengalami kecemasan untuk jangka panjang.

Memang konsekuensi umum dari wabah penyakit termasuk kecemasan dan panik, depresi, kemarahan, kebingungan dan ketidakpastian, serta tekanan finansial. Diperkirakan antara 25% sampai 33% dari masyarakat mengalami tingkat kecemasan dan kecemasan yang tinggi selama pandemi. Mereka yang sebelumnya sudah mempunyai gangguan kecemasan, kecemasan atas tingkat kesehatan, dan gangguan kesehatan mental lainnya (misalnya depresi, dan stres pasca-trauma) berisiko mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi selama wabah COVID-19. Tentu saja, orang-orang ini mungkin memerlukan lebih banyak dukungan atau akses perawatan kesehatan mental selama periode ini.

Mengenai sakit, tentu semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengijinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita tetap dekat kepadaNya.

Rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Pagi ini, jika kita merasakan hidup ini terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11

Merdeka dalam pengertian Kristen

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Kebebasan dari apa dan dalam hal apa? Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari sudut hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Malahan dalam kehidupan bermasyarakat, banyak orang yang sekarang menuntut adanya berbagai kebebasan:

  • Freedom of association: kebebasan untuk bermasyarakat
  • Freedom of belief: kebebasan mempunyai kepercayaan
  • Freedom of speech: kebebasan berbicara di depan umum
  • Freedom to express oneself: kebebasan mengemukakan pendapat pribadi
  • Freedom of the press: kebebasan menyampaikan berita
  • Freedom to choose one’s state in life: kebebasan untuk menentukan hidup sendiri
  • Freedom of religion: kebebasan beragama
  • Freedom from bondage and slavery: kebebasan dari pengungkungan dan perbudakan.

Kemerdekaan memang adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia. Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang merdeka untuk mengatur dunia (Kejadian 1: 28). Dalam kenyataannya, dosa sudah membuat manusia jatuh kedalam perhambaan dan karena itu secara sadar atau tidak, ada orang yang diperbudak orang lain dan bangsa yang dikuasai bangsa lain. Selain itu ada orang atau masyarakat yang diperbudak atau dikungkung oleh suatu ideologi atau kepercayaan sehingga mereka tidak lagi bebas untuk mengenal apa yang baik dan untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang mahakuasa. Inilah sebabnya Tuhan sudah membawa bangsa Israel untuk keluar dari tanah Mesir, agar pada akhirnya rencana penyelamatan umat manusia dapat terjadi dan nama Tuhan dipermuliakan.

Sekalipun kemerdekaan manusia adalah baik, itu bukan berarti bahwa mereka boleh berbuat semaunya. Dalam kemerdekaan manusia, manusia bergantung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Dalam kebebasannya, manusia harus taat kepada hukum dan perintah Tuhan yang sudah menciptakannya (Kejadian 2: 16-17). Tanpa ketaatan kepada sang Pencipta, manusia akan kehilangan hubungan dengan Dia, dan kehilangan sumber kehidupannya. Kemerdekaan manusia dengan demikian adalah tanda kehidupan dalam Tuhan, karena tanpa ketaatan kepada Tuhan manusia akan jatuh ke dalam belenggu dosa yang membawa kematian.

Banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dalam hidupnya dan bersedia untuk membayar dengan harga tinggi untuk memperolehnya. Tetapi seringkali, apa yang dipandang sebagai kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai kemerdekaan bagi seseorang ialah keadaan dimana tidak ada orang, hukum, peraturan atau etika yang menghalangi apa yang akan diperbuatnya. Sebagai akibatnya, kemerdekaan yang ada di satu tempat belum tentu sama dengan kemerdekaan yang  ada pada tempat yang lain. Apa yang bisa diterima di satu tempat, belum tentu dianggap baik di tempat lain. Sebaliknya, apa yang dipandang buruk di satu tempat mungkin bisa diterima di tempat lain.

Karena setiap bangsa, suku dan masyarakat mempunyai standar, adat, etika, dan hukum yang berbeda dengan yang lain, orang mungkin berpendapat bahwa mereka boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan yang berlaku. Banyak orang Kristen kemudian merasa “santai” untuk melakukan hal-hal yang dianggap “biasa” dalam masyarakat setempat. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kemerdekaan untuk berbuat sesuatu selalu bisa dibeli, baik dengan uang ataupun pengaruh. Jika mereka melakukan hal-hal itu, tidak ada orang yang bakal mengerutkan kening atau melarangnya. Dengan demikian, kemerdekaan bagi mereka ialah memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan hidup mereka.

Tuhan yang Maha Esa sudah tentu memiliki kehendak yang sama untuk seluruh umatNya. Apa yang difirmankanNya tidak mungkin disesuaikan dengan keadaan setempat. Hukum Tuhan seharusnya berlaku untuk setiap manusia tanpa memandang jenis, ras, budaya atau pendidikan. FirmanNya tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak manusia yang ingin mempunyai kemerdekaan untuk memilih cara hidup dan kebiasaan yang sesuai dengan keadaan setempat. Hanya ada satu tempat dimana seluruh umat manusia bisa menemukan hukum yang sama, tempat itu adalah Alkitab.

Masyarakat dan negara mungkin memperbolehkan orang untuk melakukan suatu hal, tetapi jika firman Tuhan melarangnya, sebagai orang Kristen kita harus lebih taat kepada Tuhan. Masyarakat mungkin menutup mata atas apa yang tidak baik, tetapi karena kita sadar bahwa Tuhan melihat dosa apapun yang diperbuat manusia, kita tidak boleh ikut-ikutan melakukannya. Pada pihak yang lain, ada tempat-tempat tertentu di dunia dimana masyarakat dan negara melarang orang Kristen untuk melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan. Sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita sudah diberi kemerdekaan untuk memilih hidup yang sesuai firmanNya. Dengan demikian, kita harus sanggup untuk berjuang setiap hari untuk menegakkan perintahNya dalam hidup kita. Kemerdekaan yang diciptakan Tuhan adalah kesempatan untuk membina hubungan yang baik dengan Dia!

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Lempar batu sembunyi tangan

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.” Keluaran 23: 1

Di zaman ini, berbagai berita muncul di sosial media seperti Whatsapp, Facebook dan Twitter setiap hari. Banyak diantara berita itu hanyalah kabar bohong atau setengah bohong, tetapi masyarakat umum tetap gemar membacanya. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang yang sengaja menggunakan sosial media sebagai landasan untuk mencapai tujuan mereka, baik tujuan yang benar maupun tujuan yang salah.

Dari sumber berita yang dapat dipercaya, ternyata banyak tokoh masyarakat dan negara yang menggunakan cara yang serupa untuk melakukan perang propaganda, psywar, guna menaklukkan saingan atau lawan politik mereka. Bahkan mereka mempunyai penulis-penulis dan artis-artis tertentu yang mendukung mereka dengan mengedarkan kabar-kabar “miring”, yang tidak jelas kebenarannya. Dalam melakukan hal-hal sedemikian, biasanya mereka kemudian menyembunyikan identitasnya dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lempar batu sembunyi tangan.

Bagi banyak orang Kristen, ikut-ikutan membaca dan menyebarkan berita-berita semacam itu mungkin dianggap lumrah. Selama apa yang diungkapkan dalam tulisan itu sesuai dengan selera dan pandangan mereka, barangkali itu dianggap bisa diterima. Sekalipun mereka tahu bahwa ada kemungkinan apa yang disampaikan adalah tidak benar, mereka mungkin berpendapat bahwa kebenaran bisa ditegakkan dengan cara apapun. Mereka mungkin juga percaya bahwa maksud baik boleh menghalalkan cara. Apa kata firman Tuhan dalam hal ini?

Dari ayat pembukaan diatas kita bisa membaca bahwa dari awalnya bani Israel diperintahkan untuk tidak menyebarkan kabar bohong; atau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak pernah melakukan hal-hal itu dengan sengaja. Tetapi dengan ikut-ikutan menyebarkan, kita sebenarnya membantu orang lain untuk melakukannya.

Masalahnya, di zaman ini kita sering tidak bisa dengan mudah membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Kita juga sering tidak tahu pendapat siapa yang benar dan ucapan siapa yang salah. Tambahan pula, pengetahuan manusia adalah sangat terbatas dan karena itu kita tidak dapat membaca pikiran dan hati orang lain. Hanya Tuhanlah yang tahu segala apa yang tersembunyi dari mata manusia.

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Pagi ini, sebagai umat Kristen kita dipanggil untuk menjadi terang dunia yang menyinarkan kemuliaan Tuhan dalam segala tindak tanduk kehidupan kita. Sebagai orang percaya, kita harus berbeda dengan orang yang tidak mengenal Kristus. Karena itu, sudah seharusnya kita tidak ikut-ikutan terpancing dalam mengeluarkan atau mengedarkan berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, atau hal-hal yang menimbulkan kebencian dan kekacauan dalam masyarakat.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Untungnya menjadi anggota marga Allah

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Galatia 3: 29

Apakah yang membedakan seseorang dari orang yang lain? Tentu saja ada banyak hal yang berbeda, seperti rupa, bentuk tubuh, cara berjalan, tinggi badan dan sebagainya. Memang setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang unik. Walaupun demikian, ada sekelompok orang yang mempunyai satu hal yang sama yaitu nama keluarga.

Menurut Wikipedia, marga atau nama keluarga menunjukkan dari keluarga mana asal usul seseorang. Marga lazim dipakai di banyak kebudayaan di dunia. Marga dalam kebudayaan Barat dan kebudayaan yang terpengaruh oleh budaya Barat umumnya terletak di belakang, sehingga sering disebut dengan nama belakang. Kebalikannya, budaya Tionghoa dan Asia Timur lainnya menulis marga di depan nama panggilan karena marga adalah lebih penting daripada nama panggilan dalam hal membedakan asal-usul dan budaya seseorang.

Di Tiongkok misalnya, ada lebih dari 4000 marga, dan tiga yang paling besar adalah Wang, Li dan Zhang. Seperti itu juga, di Indonesia ada beberapa suku yang memandang penting marga dan karena itu nama keluarga diteruskan dari generasi ke generasi. Tidaklah mengherankan bahwa ada marga yang memandang rendah marga-marga yang lain karena status sosial, kekayaan, pengaruh dan kekuasaan yang dimilikinya. Bahkan, pada zaman dulu ada orang dari suatu marga yang tidak boleh menikah dengan orang dari marga tertentu karena dipandang kurang sepadan.

Ayat di atas merupakan perjanjian antara Allah dengan Abraham. Allah bermaksud untuk secara turun-temurun mengadakan perjanjian yang kekal, supaya Dia menjadi Allah Abraham dan keturunannya. Sebagai tanda adanya perjanjian ini, kaum pria dari marga Abraham harus mau untuk dikhitankan. Begitu pentingnya tanda sunat ini, mereka yang tidak mau dikhitan adalah orang yang tidak termasuk dalam perjanjian Allah, dan dengan demikian tidak akan menerima berkat dan penyertaan Allah. Sesudah Yesus turun ke dunia, mereka yang sudah percaya kepadaNya tidak perlu lagi memakai tanda sunat yang bersifat jasmani. Sebaliknya, orang beriman memakai sunat rohani, yaitu hidup yang menaati firman Allah (1 Korintus 7: 19).

Adakah untungnya menjadi umat Allah? Tentu saja! Jika pada zaman Abraham Allah menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi warga dari bangsa yang besar (Kejadian 17: 6) dan tanah Kanaan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya (Kejadian 17: 8), kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia memungkinkan semua orang yang percaya untuk menjadi warga surgawi dan keselamatan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya. Dengan demikian, seperti keturunan Abraham menjadi milik Allah, kita yang sudah menjadi milik Kristus adalah “semarga” dengan Abraham, yaitu orang-orang yang berhak menerima janji Allah.

Bagi kita, menjadi marga Abraham karena Kristus adalah satu karunia yang terbesar yang tidak dapat ditukar dengan hal-hal yang lain. Dari segi historis, kita bisa melihat bahwa kasih Tuhan sudah ada sejak mulanya dan terus mengalir untuk semua orang percaya. Dengan demikian, dalam hidup ini seharusnya tidak ada hal lain yang bisa menarik kita untuk keluar dari marga surgawi atau marga Abraham. Seperti janji Tuhan hanya diberikan kepada Abraham dan keturunannya, kita dipersatukan dalam darah Kristus sekalipun kita berbeda suku, negara, status sosial dan latar belakang (Roma 10: 12). Janji Tuhan untuk menyertai setiap umatNya adalah sama, dan Ia membimbing semuanya sebagai Bapa yang memimpin anak-anakNya, sampai mereka bisa berjumpa dengan Dia di surga.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” Galatia 4: 6 – 7

Gembala yang baik

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Di zaman modern ini kehidupan keluarga di negara manapun mengalami perubahan besar. Jika di Indonesia banyak orang tua kehilangan kesempatan untuk mengantar anak-anak ke sekolah atau ke rumah teman mereka karena adanya sopir, di luar negeri tiap anak yang sudah punya SIM akan membeli mobil dan jarang bertemu dengan orang tua. Hubungan orang tua dan anak sepertinya menjadi hubungan casual, tidak teratur dan hanya kalau ada perlunya saja.

Bagaimana dengan hubungan antara suami dan istri? Sekarang ini cenderung menjadi formal, untuk sekedar memberi laporan keuangan dan jadwal acara masing-masing. Hubungan personal jadi luntur, tidak ada lagi keintiman dan kemesraan. Masing-masing sibuk dengan kegiatan dan kegemarannya sendiri, dan jarang ada waktu yang bisa dinikmati bersama.

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat umum terjadi juga di antara umat Kristen. Hubungan umat Israel dengan Allah sebelum Yesus disalibkan adalah hubungan formal dan satu arah. Allah berfirman dengan perantaraan para nabi dan umat Israel tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Sekalipun hubungan yang ada bukanlah casual, secara umum tidak ada kemesraan antara Allah dan umatNya.

Allah tidak menyukai hubungan dengan umatNya yang serba formal seperti yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, tetapi itu tidak bisa dihindari karena penebusan Yesus belum terjadi. Allah yang mengasihi manusia, menginginkan hubungan yang intim dengan umatNya. Karena itu Ia mengirimkan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Dengan penebusan Kristus, hubungan kita dengan Tuhan bisa menjadi hubungan pribadi yang intim sesuai dengan tujuan penciptaan manusia pada awalnya.

Adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa sesudah pengurbanan Kristus, tidak semua orang yang mengaku sebagai domba-domba Kristus di zaman ini mengenal suaraNya. Mereka terlalu sibuk dengan acara dan kesibukan mereka sehingga sebagian kembali memakai hubungan formal dengan Tuhan: berdoa bersama dan ke gereja sekali seminggu. Mereka mendengarkan khotbah dan pengalaman pribadi pendeta. Tetapi hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan tidak terjadi karena “tidak ada waktu”.

Lebih parah lagi, banyak orang Kristen yang dalam hidup bebasnya hanya mempunyai hubungan casual dengan Tuhan. Jarang-jarang, tidak teratur, dan hanya kalau perlu, atau kalau sempat. Apalagi, saat ini rasanya lebih asyik dan nikmat untuk “bersekutu” dengan teman-teman lama lewat sosmed dan sesekali mengirim gambar-gambar “rohani” dan semboyan-semboyan agama. Seolah kita tidak lagi memerlukan seorang Gembala yang nyata dan hidup.

Kita harus sadar bahwa Yesus, sebagai gembala yang baik, menjaga domba-dombaNya siang dan malam. Ia juga yang dengan setia selalu memanggil domba-dombaNya untuk mengikuti jalanNya. Pagi ini, kita dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan usaha untuk membina hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, atau hidup untuk diri kita sendiri dan merasa puas mempunyai hubungan formal atau casual denganNya. Mana pilihan anda?

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Yohanes 10: 4

Tidak ada orang yang sempurna

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

maradona fat

Jika anda ditanya, siapakah tokoh dunia yang anda kagumi, apakah jawab anda? Mungkin ada yang menjawab Mother Theresa, Bung Karno, Mahatma Gandhi atau pemimpin besar lainnya. Mungkin juga pilihan anda adalah Diego Maradona, bintang pemain sepak bola terkenal dari tahun 80an yang membawa kemenangan Piala Dunia ke Argentina pada tahun 1986.

Meninggalnya Diego Maradona membuat dunia sepak bols terkejut. Maradona meninggal dunia akibat serangan jantung di rumahnya di Buenos Aires, pada hari Rabu (25/11/2020). Mantan pemain profesional klub Barcelona dan Napoli ini meninggal pada usia 60 tahun. Pada awal November tahun ini, Maradona sudah sempat dibawa ke rumah sakit di La Plata, Argentina, untuk menjalani operasi otak. Memang kesehatannya sebelum ini sudah sangat memburuk karena gaya hidupnya.

Saya sendiri adalah pecinta sepak bola dan pengagum Maradona. Entah kenapa saya kagum kepada dia, mungkin karena ia bisa membuat gol dari posisi yang sulit atau karena kecepatannya menggiring bola dan mengecoh lawan. Banyak orang yang kagum atas kehebatan Maradona dan menganggapnya sebagai kiriman Tuhan sekalipun tingkah lakunya yang eksentrik dan kehidupannya yang kacau karena penggunaan narkoba, pesta pora dan seks.

Mengenai orang yang dikagumi, pilihan kita pasti didasarkan satu atau beberapa hal yang merupakan keunggulan orang yang kita pilih. Dengan adanya hal yang istimewa itu, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang baik yang mungkin ada dalam orang pilihan kita. Dalam hidup kekristenan, mungkin saja kita kagum kepada tokoh-tokoh perjanjian lama seperti Abraham, Musa, Daud dll., atau tokoh-tokoh perjanjian baru seperti Maria, Petrus, Paulus dan sebagainya. Karena itu banyak orang yang memakai nama yang sama dengan nama orang yang dikaguminya.

Walaupun orang-orang diatas mempunyai hal-hal yang baik dan patut dikagumi atau ditiru, ayat Roma 3: 23-24 diatas jelas menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang cukup baik dihadapan Tuhan. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengagumi seseorang, tetapi kekaguman kita itu tidak boleh membuat kita berpikir bahwa orang itu memenuhi standar kebaikan dan kesucian Tuhan. Kita tidak boleh mendewakan apapun dan siapapun sekalipun mereka dipanggil guru, raja, nabi, rasul ataupun presiden.

Sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak ada siapapun yang bisa mencapai tingkat kebaikan yang diminta oleh Tuhan. Manusia sesudah kejatuhan pada hakikatnya adalah makhluk yang jahat, termasuk semua tokoh-tokoh di dunia yang dikagumi banyak orang. Bahwa manusia karena dosanya tidak dapat lagi mendekati Tuhan yang mahasuci, merupakan inti pengajaran Kristen yang sangat berbeda dengan agama-agama lain. Diluar agama Kristen, manusia berusaha untuk berbuat baik dengan berbagai cara untuk bisa mendapat keselamatan. Tetapi ini merupakan hal yang sia-sia menurut iman Kristen.

Pagi hari ini, kita diingatkan lagi untuk kesekian kalinya bahwa satu-satunya jalan bagi manusia untuk memenuhi standar Tuhan yang maha tinggi ialah melalui inisiatif Tuhan sendiri yang mau merendahkan diriNya dan menebus dosa manusia melalui darah anakNya, Yesus Kristus. Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang bisa menghampiri tahta Tuhan kalau tidak melalui Dia.

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. ” Kisah Para Rasul 4: 12

Hukum ada untuk kedamaian bersama

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13: 3

Berita tentang adanya dua kubu yang bertentangan yang kemudian terlibat dalam perkelahian di suatu negara bukanlah suatu hal yang baru. Baik negara kecil maupun negara yang banyak penduduknya, adanya perbedaan pendapat bisa menyebabkan kekacauan jika tidak ada penerapan hukum yang ketat. Dalam hal ini, sekalipun ada hukum orang bisa saja dengan sengaja melanggarnya.

Mengapa orang sengaja melanggar hukum? Ini pertanyaan lama yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Filsuf Aristotle pernah berkata bahwa “At his best, man is the noblest of all animals; separated from law and justice he is the worst“. Itu benar. Dalam keadaan terbaik, manusia adalah makhluk yang paling baik di antara hewan, tetapi ia adalah makhluk yang paling buruk jika tidak ada hukum dan keadilan. Lebih dari itu, manusia jelas bisa lebih buas dari hewan jika mereka tidak takut akan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa memang mampu untuk berbuat dosa apa saja dengan kebebasan yang diterimanya dari Tuhan.

Ada berbagai faktor praktis yang bisa membuat orang merasa bahwa ia ada di atas hukum. Mungkin orang itu mabuk atau merasa kuat karena berada bersama banyak teman, tetapi jelas  bahwa pada saat orang dengan sengaja melanggar hukum mereka merasa bahwa  hukum tidak dapat menangkap mereka. They act as if they are above the law. Mereka yang semestinya takut kepada hukum dan pemerintah, merasa bahwa tidak ada apapun yang bisa menghentikan perbuatan jahat mereka. Sebaliknya, orang yang melihat kelakuan mereka mungkin justru merasa takut karena kuatir kalau-kalau hukum yang ada tidak dapat melindungi mereka.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen untuk menaati hukum dan pemerintah. Etika Kristen mengajarkan bahwa jika pemerintah yang sah mengatur negara dengan segala hukumnya, adalah keharusan bagi orang Kristen  untuk taat kepadanya karena pemerintah adalah wakil Tuhan (Roma 13: 4). Hukum ada untuk membuat setiap warga menjadi orang yang berkelakuan baik.  Dengan taat kepada hukum, kita boleh mendapatkan kedamaian dalam hidup sehari-hari karena hanya orang yang melanggar hukum yang harus takut kepada pemerintah.

Bagi orang Kristen, taat kepada hukum bukan berarti boleh melakukan apa yang buruk asal tidak tertangkap oleh hukum. Dalam bentuk sederhana, ada orang yang berani menggunakan ponsel selagi mengendarai mobil, tetapi ada juga pemimpin yang berani menggunakan uang negara selagi ada kesempatan.

Adanya pemerintah bagi orang Kristen adalah bukti adanya Tuhan yang menghendaki ketertiban. Oleh karena itu, orang Kristen harus taat kepada hukum dan pemerintah setiap saat karena Tuhan yang mereka sembah adalah Oknum yang mahatahu. Takut akan Tuhan akan bisa terlihat dalam hidup seseorang yang taat kepada hukum negara.

Alkitab mengatakan bahwa kita harus tunduk kepada pemerintah dan atasan karena mereka adalah wakil Allah.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa Tuhan ada diatas segala pemerintah dan penguasa, dan karena itu kita harus lebih tunduk kepada Tuhan.

“….. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” Kolose 2: 10b

Jelaslah bahwa dalam hidup ini kita harus menaati hukum negara yang ada, tetapi lebih dari itu kita harus tunduk kepada kehendak Tuhan. Dengan demikian, kita akan bisa hidup dalam kedamaian dan ketertiban bersama orang-orang di sekitar kita.

Tuhan bukan pencipta malapetaka untuk umatNya

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Virus corona yang sudah menyebabkan tewasnya lebih dari sejuta orang baik tua atau muda, baik orang Kristen maupun bukan Kristen, tentu dipandang sebagai malapetaka. Apakah Tuhan menghendaki COVID-19 untuk mewabah di dunia?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendakNya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat virus corona merajarela. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Malapetaka bisa terjadi di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, tetapi harus dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana malapetaka dapat terjadi sekalipun tidak dikehendakiNya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi risiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan kedalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umatNya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencanaNya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendakiNya, tanpa dipengaruhi oleh apapun dan siapapun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Pagi ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita cepat-cepat menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umatNya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis atau hukuman/peringatan Tuhan untuk orang/bangsa yang sengaja mau melawan Dia.

Tuhan mengasihi setiap umatNya. Itu tidak perlu diragukan. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umatNya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendakNya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Sesudah dipilih tentu ada perubahan

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Pemilihan umum di Amerika sudah dilangsungkan pada tanggal 3 November yang lalu, namun hampir tiga minggu kemudian orang belum mendapat kepastian resmi siapakah yang mendapatkan suara terbanyak. Hal ini disebabkan karena adanya pihak yang meminta penghitungan suara untuk dilakukan lagi. Jumlah suara terbanyak nantinya akan menentukan siapa yang terpilih sebagai presiden.

Sebagai ciptaan Tuhan, manusia tidak dapat memilih Tuhan yang disukainya. Tuhan yang benar bukanlah apa yang dipilih oleh banyak manusia. Seandaintya bisa memilih satu Tuhan di antara banyak oknum yang dikenal manusia sebagai “tuhan”, manusia pasti memilih apa yang bukan Tuhan karena tidak ada orang yang mengerti manakah Tuhan yang benar. Tuhan yang benar adalah satu Tuhan yang maha besar dan karena itu manusia tidak dapat menyelami besarnya dan dalamnya kebesaran Tuhan. Dengan demikian, Tuhanlah yang harus memilih manusia yang akan diberiNya pengertian yang benar.

Bagi orang Kristen, kenyataan bahwa mereka sudah dipilih oleh Tuhan mungkin tidak terlalu sering diberitakan. Namun kita harus mengerti bahwa kita menjadi anak-anak Tuhan bukan karena kita yang memilih Dia, tetapi karena Dia yang sudah memilih kita. Tidak ada alasan lain bagi Tuhan untuk memilih manusia berdosa seperti kita untuk diselamatkan, kecuali karena kasihNya yang juga menjadikan kita orang-orang yang berkecukupan dalam segala hal yang baik.

Sayang sekali, banyak orang yang merasa bahwa mereka sudah diselamatkan, merasa bahwa menerima keselamatan dari Tuhan adalah karena melakukan hal-hal yang baik. Dari dulu memang manusia cenderung untuk berusaha untuk mencapai surga dengan mengikuti berbagai ritual agama. Pada pihak yang lain, setelah memenuhi persyaratan agama, mereka cenderung untuk menjalani hidup mereka seperti biasa, dan tidak merasakan perlunya adanya kelahiran baru yang sebenarnya.

Percakapan Yesus dengan Nikodemus, orang Farisi yang taat kepada hukum Torat, menunjukkan bahwa manusia sering merasa bahwa mereka sudah memenuhi syarat untuk mencapai keselamatan melalui hukum agama, dan bukannya anugerah Tuhan. Mereka merasa bahwa hidup mereka sudah dibenarkan sekalipun mereka belum berubah dari dalam. Memang, hidup baru atau lahir baru hanya dimungkinkan melalui darah Yesus yang membawa pengampunan dosa dan Roh Kudus yang membawa kesadaran bagi manusia.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Manusia zaman ini juga sering yang menunjukkan gejala sindrom Nikodemus, yaitu hidup dengan “ayem-tentrem” karena merasa bahwa mereka sudah menjadi orang percaya dengan membaca Alkitab dan pergi ke gereja. Mereka tidak sadar bahwa mereka yang benar-benar sudah mengikut Yesus tentu akan membuat persiapan dan mengalami perubahan hidup. Dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru yang penuh kasih dan menjauhkan diri dari dosa. Mereka akan berusaha untuk hidup suci dan menghasilkan buah-buah yang baik, karena Yesus adalah suci.

Orang yang benar-benar percaya kepada Kristus adalah orang yang menantikan perjumpaan dengan Sang Juruselamat. Karena itu tidak mungkin baginya untuk tidak mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Orang Kristen yang tetap membiarkan hidupnya berjalan seperti biasa, yang tidak mau dipimpin Roh Kudus untuk disucikan, mungkin adalah orang-orang yang belum mengenal Kristus seperti halnya Nikodemus.

“Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” 1 Yohanes 3: 7