Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

Pernahkah Anda membayangkan suasana perang, jika itu terjadi dalam lingkungan di mana Anda hidup? Bagi kita yang mengikuti berita media, mereka yang hidup dalam suasana perang terlihat sangat menderita. Banyak orang tua, wanita dan anak kecil yang harus mengungsi di tengah hujan bom, dan mereka yang tidak bisa atau tidak mau mengungsi tentunya harus bersembunyi di tempat perlindungan jika ada bahaya mengancam. Memang hidup manusia secara umum tidaklah mendapat jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan lancar; sebaliknya, berbagai bencana bisa datang tanpa diundang.

Dalam Filipi 1, Paulus mengalami “bencana” karena ia dianiaya dan harus masuk penjara karena mengabarkan injil. Hidup dalam penjara sudah tentu tidak enak, tetapi ia berterima kasih kepada jemaat di Filipi yang telah mendukung pelayanannya. Berbeda dengan beberapa jemaat lain yang menjauhkan diri ketika Paulus dipenjarakan, jemaat di Filipi tetap bermurah hati dan setia kepada Paulus.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menyemangati mereka dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya bukanlah membawa rasa malu atau takut, tetapi adalah patut disyukuri karena adanya tujuan Tuhan yang baik. Upaya-upaya untuk menganiaya dan memenjarakan Paulus ini sebenarnya justru menyebabkan Injil menyebar ke mana-mana. Untuk itu, Paulus bersyukur. Walaupun demikian, dia berharap untuk dibebaskan pada saatnya, agar bisa bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi.

Ayat “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” adalah beberapa kata yang paling berkesan di seluruh Alkitab, tetapi sulit untuk ditiru karena pada umumnya orang tidak pasti apa untungnya kematian jika dibandingkan dengan hidup. Paulus pun tidak dapat memilih apa yang lebih baik di antara dua pilihan itu, tetapi bukan karena ia tidak tahu apa yang paling baik baginya.

Bagi Paulus, terlepas dari apakah keputusan pengadilan atas kasusnya adalah hidup atau mati, Paulus akan tetap setia kepada Tuhan. Ia tahu bahwa hidup di bumi ini berarti hidup bagi Kristus, namun kematian akan lebih baik lagi karena ia akan berada di hadirat Tuhan. Dengan demikian, Paulus tidak merasa terburu-buru untuk mati, karena penting baginya untuk menyebarkan Injil sejauh mungkin (Filipi 1:22).

Tulisan Paulus juga penting ketika kita membahas apa yang terjadi pada jiwa orang beriman setelah kematian. Beberapa orang berpendapat bahwa “tidurnya jiwa” itu mungkin terjadi. Pandangan ini menyatakan bahwa jiwa orang percaya memasuki keadaan tidak sadarkan diri, dan tidak masuk surga bersama Tuhan sampai hari kiamat nanti. Ayat ini menunjukkan kekeliruan dari ajaran ini. Paulus dengan jelas menyatakan harapannya untuk bersama Kristus pada saat hidupnya di bumi berakhir. Pandangan ini juga direfleksikan oleh Yesus ketika Dia mengatakan kepada pencuri di kayu salib bahwa dia akan berada di surga bersama-Nya “hari ini” (Lukas 23:43). Dengan demikian, Paulus mengerti bahwa kematian baginya adalah kebahagiaan yang instan dan abadi, yang bisa diterimanya karena janji Kristus.

Secara keseluruhan, Filipi 1:19–30 memperlihatkan Paulus yang merenungkan dua keinginan yang saling bersaing. Di satu sisi, sebagai orang percaya ia ingin melayani Tuhan dan membawa orang lain kepada Kristus melalui kehidupan mereka. Di sisi lain, seorang Kristen sewajarnya rindu untuk meninggalkan dunia yang penuh kekacauan, penderitaan dan kekuatiran, untuk secara instan hidup bersama Tuhan dalam kekekalan. Dengan demikian, adalah aneh jika orang Kristen memandang bahwa hidupnya di dunia ini adalah suatu kenikmatan yang perlu dirasakan sepuasnya dan untuk selama mungkin, tanpa memikirkan kewajiban atau pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Adalah menyedihkan jika orang Kristen masih merasa bahwa hidup setelah meningalkan dunia ini adalah sesuatu tanda-tanya yang menakutkan.

Peperangan di Ukraina belum berakhir, dan kini ada perang baru di Timur Tengah. Banyaknya korban yang jatuh membuat saya berpikir dalam-dalam. Kematian adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sampai itu terjadi. Jika itu terjadi, kita lagi-lagi diingatkan bahwa manusia sebenarnya tidak mempunyai kontrol atas umurnya. Memang bagi banyak orang, kematian berarti akhir dari kegiatan hidup dan karena itu mereka berusaha keras untuk menghindarinya untuk tetap bisa menjalani cara hidup yang disenangi mereka. Sebaliknya, umat Kristen percaya bahwa mereka tidak dapat memperpanjang hidup mereka sedetikpun, tetapi mereka bisa memutuskan apa yang bisa dilakukan selama hidup.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia seharusnya dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Dalam hal ini, banyak orang Kristen merasa canggung untuk membicarakan hal kematian, karena kematian jasmani adalah suatu misteri yang tidak pernah dialami oleh orang yang masih hidup.

Apa yang harus dilakukan umat Kristen selama hidup? Sebagian orang Kristen percaya bahwa kata “harus” sudah tidak tepat karena penebusan melalui darah Kristus sudah melepaskan kita dari perlunya untuk berbuat sesuatu untuk Tuhan. Ada orang Kristen bahwa dengan berbuat baik, kita tidak menambah kebaikan pada diri kita: sebuah usaha yang sia-sia. Sebagian lagi percaya bahwa jika Tuhan ingin kita berbuat baik, Ia tentu akan membuat kita berbuat baik. Dengan demikian, sebagian orang Kristen merasa bahwa mereka tidak mampu ataupun perlu untuk memikirkan pentingnya bekerja untuk menghasilkan buah yang baik. Ini jelas tidak benar, karena dalam ayat di atas Paulus menulis bahwa hidup berarti bekerja untuk memberi buah bagi orang lain dan demi kemuliaan Tuhan. Pengertian Paulus tentang hidup ada karena ia sudah lahir baru dan disadarkan Tuhan bahwa hidup barunya adalah untuk menghamba pada Kristus. Kita patut merasa sedih jika ada orang Kristen yang masih takut akan kematian, atau masih menunda-nunda kesempatan untuk bekerja bagi Tuhan dan sesama.

Kita aman di dalam Dia sekarang, kita akan aman di hadapan-Nya pada saat kematian, dan kita akan sangat bahagia dalam tubuh yang baru dan sehat selama-lamanya di langit baru dan bumi baru. Bagaimana mungkin pengertian ini tidak akan mengubah cara hidup kita semasa hidup di dunia? Setiap orang yang sadar akan arti kematian dalam Kristus tentu akan hidup sesuai dengan firman Tuhan untuk kemuliaan-Nya karena rasa syukur yang besar!

Dalam keadaan kritis, tetaplah berdoa sambil beryukur

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Dunia saat ini lagi sakit. Perang di Ukraina belum berakhir, sekarang bakal ada perang baru di Timur Tengah. Apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang tidak ada seorang pun yang tahu. Konflik dunia yang berkelanjutan sudah tentu akan memakan banyak korban jiwa akibat perang, tetapi juga penderitaan yang berkelanjutan pada masyarakat setempat. Selain itu, keadaan ekonomi dunia akan memburuk karena biaya perang tentunya besar dan dampaknya pada dunia bisnis akan dapat dirasakan di berbagai negara. Perang adalah sesuatu yang tidak dilakukan jika tidak terpaksa.

Banyak orang Kristen menganut faham pasifisme. Pasifisme adalah penolakan terhadap perang atau kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan perselisihan. Kaum pasifis menolak, atas dasar moral atau agama, untuk memanggul senjata atau terlibat dalam segala jenis perlawanan fisik. Mereka percaya bahwa semua perselisihan dapat dan harus diselesaikan dengan cara damai dan tanpa kekerasan. Para penganut paham pasifisme biasanya menolak perang karena alasan hati nurani. Beberapa kelompok Kristen seperti Adventis menjadikan pasifisme sebagai bagian integral dari doktrin mereka.

Beberapa orang Kristen menyatakan bahwa Alkitab memerintahkan pasifisme. Mereka percaya bahwa keseluruhan ajaran Yesus mengharuskan para pengikut-Nya untuk meletakkan senjata dan mempromosikan perdamaian. Mereka mengutip ayat-ayat seperti khotbah di Bukit sebagai bukti bahwa Perjanjian Baru telah menjadikan contoh-contoh perang yang benar dalam Perjanjian Lama tidak relevan lagi. Kristen pasifis percaya bahwa mengikuti Yesus berarti melakukan apa yang Dia lakukan, dan Dia tidak pernah menganjurkan untuk membunuh musuh (Matius 5:44). Mereka mengklaim bahwa kekuatan kasih harus cukup kuat untuk melucuti musuh yang paling gigih dan bahwa kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai (Matius 5:9).

Pasifisme adalah tujuan yang mengagumkan, namun belum tentu realistis. Apakah pemikiran pasifis berhasil melawan kelompok teroris atau diktator fasis? Apa yang terjadi pada kelompok pasifis dan keluarga mereka ketika teroris mengancam? Kelompok yang tidak ikut perang sepertinya lupa bahwa kebebasan mereka untuk menjalankan paham pasifisme telah dibeli dengan darah orang-orang non-pasifis. Para prajurit yang tewas tentunya tidak menyukai perang. Mereka berkurban agar para pasifis di masa depan dapat menjelaskan dengan bebas tentang keyakinan tulus mereka tanpa rasa takut akan kematian, penyiksaan, atau pemenjaraan oleh mereka yang menolak untuk mempertimbangkan perdamaian. Tanpa kelompok non-pasifis, tidak akan ada kelompok pasifis.

Terlepas dari apa yang diinginkan oleh para penganut paham pasifisme Kristen, Tuhan bukanlah seorang penganut paham pasifisme. Alkitab penuh dengan contoh bagaimana Allah melakukan pembalasan berdarah terhadap musuh-musuh-Nya (Yesaya 63:3–6; 65:12; Ulangan 20:16–18). Dan contoh-contoh tersebut tidak terbatas pada Perjanjian Lama. Mustahil membaca kitab Wahyu tanpa melihat Anak Domba Allah berperan sebagai Singa Yehuda (Wahyu 5:5; 19:11–15). Gambarannya jelas bahwa Yesus akan mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan peperangan (Wahyu 19:19-21). Ini adalah Yesus yang sama yang dikutip oleh kaum pasifis untuk mendukung faham anti perang mereka.

Memang benar bahwa pasifisme pribadi harus menjadi tujuan utama setiap pengikut Kristus. Kita dipanggil untuk hidup dalam damai, semampu kita (Roma 12:18; Ibrani 12:14). Hendaknya kita rela memberikan pipi yang lain (Matius 5:39), meminjamkan secara cuma-cuma (Lukas 6:30), bahkan diperlakukan secara tidak adil jika itu berarti tidak mencemarkan nama Kristus (1 Korintus 6:7). Ketika perdamaian adalah sebuah pilihan, kita harus mengupayakannya semaksimal mungkin. Namun ketika kehidupan dan kebebasan orang lain terancam, hukum yang lebih tinggi akan mengarahkan kita untuk membela mereka (Amsal 24:11-12; Yohanes 15:13). Ketika suatu negara perlu mempertahankan diri dari pihak-pihak yang akan menghancurkan perdamaiannya, para pembawa perdamaian sejati akan bersatu untuk melindunginya.

Sebagai senjata yang ampuh dalam mengatasi ancaman perang adalah doa. Tetapi, banyak orang di zaman ini yang kurang percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk hal-hal lain yang dirasa lebih perlu.

Sebagian orang berpikir bahwa doa itu tidak berguna karena tidak akan membuat Tuhan mengubah rencana-Nya. Ada juga yang beranggapan bahwa terlalu banyaknya doa menandakan kekurangan manusia dalam usaha dan tanggung jawab atas hidupnya. Orang yang lain berpendapat bahwa doa adalah ibarat candu yang hanya mendatangkan perasaan nyaman karena kebiasaan saja.

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa bagi orang percaya, pendekatan yang benar adalah perlu agar hidup kita tenteram. Itu dimulai dengan anjuran agar kita tidak kuatir tentang apapun juga. Ini tidak mudah dilakukan, karena setiap orang cenderung kuatir atas apa yang tidak dapat dikontrolnya. Mereka yang menderita dan membutuhkan sesuatu, sering merasa Tuhan itu jauh dan tidak terjangkau sekalipun dengan doa yang sering diucapkan. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya nyaman hidupnya belum tentu tidak pernah kuatir. Malahan, jika sesuatu yang tidak terduga datang, mereka sering merasakan berbagai ketakutan; apalagi jika mereka sebelumnya jarang berdoa dan tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Ayat diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus bunyinya seakan mirip dengan “positive thinking” yang diajarkan oleh banyak guru dan motivator di zaman ini. Lupakan kekuatiranmu! Tetaplah positif! Tetapi ayat ini juga mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa yang sedemikian seharusnya menggantikan segala kekuatiran kita. Ini seakan lebih mudah dikatakan daripada dijalankan, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam penderitaan. Tetapi, penulis ayat ini adalah orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kekurangan; jadi, apa yang ditulisnya sudah tentu bukan hanya kata-kata kosong tak berarti.

Hari ini, jika kita mempunyai kekuatiran tentang apapun juga, biarlah kita pertama-tama berusaha menguranginya. Sebaliknya, kita harus bisa menyadari bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan selalu lebih besar dari masalah kita. KasihNya kepada kita juga sangat besar, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk kita semua. Dengan mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih, kita akan mendapatkan rasa damai sejahtera sekalipun kita harus menghadapi keadaan di sekeliling kita yang saat ini terlihat suram dan menakutkan. Damai sejahtera dari Tuhan juga akam memberi kita keinginan, keberanian dan kekuatan untuk bertindak melawan ancaman kekerasaan atas umat manusia dan usaha penolakan atas apa yang kita percaya dalam Yesus Kristus.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4: 7

Di luar Tuhan manusia adalah hewan

“Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” Efesus 4: 22-24

Apa yang terjadi di Israel baru-baru ini adalah sangat menyedihkan. Pemerintah Israel sudah mengkonfirmasi bahwa dalam serangan kelompok teroris Hamas, ada 40an bayi Israel yang dibunuh secara kejam. Bagi kebanyakan orang, kejadian ini membawa pertanyaan: bagaimana mungkin manusia melakukan perbuatan jahat seperti itu? Hal semacam itu memang bisa terjadi dalam dunia hewan, tetapi tidak lazim di antara kaum manusia; sekalipun pernah ada semasa Holocaust pada perang dunia kedua, ketika kaum Nazi Jerman menangkapi orang Yahudi.

Dalam hari-hari mendatang, suasana Timur Tengah akan makin memanas karena Israel akan berusaha untuk membalas dendam dan menumpas Hamas. Sudah dapat dipastikan bahwa banyak rakyat jelata dari kedua pihak akan mengalami penderitaan dan bahkan kematian. Dalam perang, tidak ada yang baik yang bisa diharapkan, kecuali jika itu dikehendaki Tuhan. Dalam peperangan mana pun, manusia sering bertingkah laku seperti hewan.

Bagi umat Kristen, penting untuk diperhatikan adanya perbedaan signifikan antara manusia dan bentuk kehidupan lainnya. Tidak hanya manusia yang berbeda dengan tumbuhan, manusia juga berbeda dengan hewan. Hanya manusia, menurut Alkitab, yang diciptakan menurut “gambar Allah”. Hanya manusia yang memiliki kemauan dan kesadaran diri yang membedakan kita dengan hewan yang paling “maju” dan cerdas sekalipun.

Sejarah dapat memberi tahu kita banyak hal tentang perkembangan kehidupan umat manusia, dan juga posisi penting nya dalam alam semesta. Tetapi, hanya Alkitab yang mengatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia merupakan klimaks ciptaan Tuhan, yang diciptakan pada hari keenam. Meskipun menempati urutan terakhir, manusia adalah ciptaan Tuhan yang terpenting, untuk dia segala sesuatu sudah tersedia.

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1:27.

“Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama “Manusia” kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan.” Kejadian 5: 1-2

Apa maksudnya manusia diciptakan menurut gambar Allah? Mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah berarti bahwa Allah dan manusia mempunyai banyak kesamaan. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia memberinya hal-hal seperti kepribadian, pilihan, emosi, moralitas, dan kreativitas. Dengan menyediakan segala sesuatu untuk manusia, Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling penting.

Baik manusia maupun Tuhan mempunyai kepribadian, artinya keduanya dapat berpikir dan berkomunikasi sebagai makhluk rasional. Mereka masing-masing mempunyai identitas pribadi yang berbeda dari makhluk lainnya dan dari benda mati. Baik Tuhan maupun manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk memilih, meskipun Tuhan yang mahasuci tidak mungkin memilih apa yang jahat. Manusia tidak diprogram atau dipaksa olehTuhan untuk membuat pilihan apa pun. Kebebasan ini diberikan kepada manusia oleh Tuhan dan manusia bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Ini berbeda dengan hewan yang melakukan sesuatu berdasarkan naluri semata-mata.

Baik manusia maupun Tuhan mempunyai emosi. Misalnya, masing-masing bisa memberi cinta dan menerima cinta. Tuhan, dan juga manusia, bisa marah. Baik manusia maupun Tuhan memiliki kapasitas untuk merasakan dan mengekspresikan emosi. Manusia sebelum kejatuhan dan Tuhan sama-sama mempunyai pemahaman moral tentang benar dan salah. Masing-masing mengetahui dan memahami perbedaan antara yang baik dan yang jahat.

Selain apa yang tertulis di atas, manusia berbeda dari hewan dalam beberapa hal:

  1. Berpikir analitis: Manusia dapat menganalisis masalah dan menemukan solusi kreatif. Ia mampu bernalar dan berfilsafat tentang kehidupan. JIka kekuatan penalaran pada hewan terbatas, manusia bisa memikirkan bahwa ada kuasa ilahi dibalik semua yang ada dalam alam semesta. Tetapi, hanya orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan adalah oknum yang berdaulat dan mahakuasa.
  2. Menggunakan bahasa: Hanya manusia yang memiliki bahasa dan pemikiran konseptual yang benar. Ia dapat berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol abstrak. Alkitab mengatakan salah satu tanggung jawab pertama yang diberikan Tuhan kepada Adam adalah memberi nama binatang (Kejadian 2:19-23). Hewan tidak mempunyai kapasitas seperti itu. Walaupun demikian, hanya orang percaya yang bisa menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan kasih kepada sesamanya.
  3. Menulis sejarah: Sejak dahulu kala, manusia telah mencatat perjalanan hidup mereka untuk generasi mendatang. Tidak ada satupun hewan yang mencatat perbuatannya untuk anak cucu. Tetapi hanya orang Kristen yang mempunyai keinginan untuk mengisi sejarah dengan apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan.
  4. Mengatur ekonomi: Manusia adalah makhluk ekonomi, mampu melakukan transaksi bisnis yang rumit dan mengelola barang dan jasa di bawah kendalinya. Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk menguasai bumi dan “menaklukkannya” (Kejadian 1:28). Hewan tidak bisa melakukan transaksi bisnis satu sama lain. Tetapi hanya orang percaya yang bisa menggunakan milik dan kemampuannya untuk memuliakan Tuhan.
  5. Mengembangkan kesenian: Manusia adalah makhluk estetis yang mampu mempersepsi dan mengapresiasi keindahan dan nilai-nilai tak berwujud. Ketika hewan membangun sesuatu, proses dan objek yang dihasilkan memiliki tujuan fungsional. Hewan tidak menciptakan objek untuk tujuan apresiasi. Hanya umat Tuhan yang bisa menggunakan seni sebagai alat untuk memunji Penciptanya.
  6. Beribadah: Hanya manusia yang dapat mengerti adanya iman. Hanya manusia di antara seluruh ciptaan di bumi yang dapat menyembah Penciptanya. Dia adalah makhluk yang bisa menaruh kepercayaannya pada bimbingan dan kepemimpinan Tuhan. Tetapi hanya orang Kristen yang mengerti bahwa ibadah yang benar hanya dapat dilakukan melalui Kristus.
  7. Menguburkan yang mati: Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang menguburkan kematian sesamanya. Tidak ada contoh hewan yang melakukan upacara penguburan apa pun dan menunjukkan rasa sedih seperti yang dilakukan manusia. Tetapi hanya orang Kristen yang bisa bersukacita karena mengerti bahwa pada saatnya, kita akan dibangkitkan dengan tubuh yang baru untuk hidup dalam kerajaan surgawi.

Daftar di atas, meskipun tidak menyeluruh, menunjukkan bahwa ada banyak hal yang membedakan manusia dari hewan. Tetapi, tidak semua manusia mempunyai semua kemampuan di atas karena kerusakan yang terjadi oleh adanya dosa. Mereka yang jauh dari Tuhan tetap berada dalam pengaruh dosa yang besar, sehingga ciri-ciri gambar Allah tetap ditutupi oleh kerusakan dan kebobrokan. Itulah sebabnya mereka yang belum mengenal Kristus, siapapun orangnya, dari manapun asalnya, akan menumjukkan ciri-ciri tertentu yang mirip dengan binatang. Bagi mereka hanya ada satu jalan untuk mengubah mereka menjadi manusia seperti apa yang diciptakan Allah pada mulanya: bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai penebus mereka.

Kasihilah musuhmu

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6: 35

Pada saat ini, selagi perang besar di Ukraine masih berlangsung, muncullah bahaya perang baru di Timur Tengah. Mengapa permusuhan antar manusia, antar bangsa dan antar negara tidak henti-hentinya membuat kekacauan dalam hidup manusia? Apakah semua itu menunjukkan bahwa Tuhan sedang murka kepada sebagian umat manusia dan memberikan hukuman-Nya?

Tuhan itu mahakasih dan kasih-Nya kepada umat-Nya tidaklah dapat diukur. Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Yesus mengasihi kita. Itu adalah apa yang diyakini setiap orang percaya, yang sudah merasakan betapa besar kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Tetapi, apakah Tuhan juga mengasihi mereka yang tidak percaya kepada Yesus? Pertanyaan ini mungkin mudah dijawab jika kita percaya bahwa Yesus datang ke dunia hanya untuk menyelamatkan sejumlah orang tertentu. Adanya orang yang tidak percaya dan yang tidak akan menerima keselamatan mungkin bisa ditafsirkan sebagai kebencian Tuhan kepada mereka, yang membuat mereka menjadi korban kutukan Tuhan.

Jika Tuhan memang membenci orang-orang tertentu, umat Kristen mungkin dengan mudah bisa meniru Dia – mengasihi orang tertentu dan membenci yang lain. Lalu bagaimana dengan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Apakah sesama kita adalah orang yang seiman, orang yang segolongan dan orang yang baik kepada kita? Ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa orang Kristen bukan hanya harus mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga  musuh-musuh kita. Itu karena Tuhan baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tuhan yang mahakasih ternyata adalah Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa perkecualian. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang bukan hanya mengasihi mereka yang mengasihiNya. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memelihara semua orang dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi pengikut-Nya.

Jika Tuhan adalah mahakasih, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tidak mudah bagi kita untuk meniru Dia. Bagaimanapun kita berusaha mengasihi sesama kita, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan bahwa ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak pantas untuk menerima kasih kita. Jika kita dengan mudah mau mendoakan orang yang seiman atau yang sudah berbuat baik kepada kita, perasaan segan ada dalam hati kita untuk mengharapkan apa yang baik bagi mereka yang kita anggap kurang baik atau kurang pantas untuk menjadi teman kita. Dalam hidup sehari-hari, mungkin sulit bagi kita untuk melupakan mereka yang pernah berlaku semena-mena dan menjahati kita, dan karena itu tidaklah sukar untuk melupakan mereka dalam doa kita. Kita mungkin juga sering merasa bahwa jika banyak rakyat yang saat ini menderita di Timur Tengah, itu adalah karena kesalahan dan kebodohan sendiri.

Apa yang kita pikirkan belum tentu sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu, kita akan heran membaca dalam Alkitab bahwa Yesus mengunjungi orang-orang yang dianggap parasit masyarakat dan bahkan makan bersama mereka.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Markus 2: 16

Yesus tahu apa yang kita rasakan dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Semua orang, termasuk kita, adalah orang berdosa patut menerima kebinasaan. Tetapi Tuhan sudah menebus dosa kita dengan darah Yesus. Ia yang mengasihi semua manusia, ingin agar banyak orang mau mengikut Dia ketika mereka melihat betapa besar kasih Tuhan yang memancar dari dalam hidup kita. Sekalipun kita tahu bahwa ada orang-orang yang kejam terhadap sesamanya, kita tidak boleh meniru mereka dengan melakukan kekejaman yang serupa kepada mereka. Biarlah dalam keadaan saat ini kita tetap bisa ikut merasakan penderitaan orang lain dan ikut prihatin, dan dengan rela mau menolong mereka yang menderita karena perbuatan orang-orang tidak mengenal Tuhan dan hukum-Nya.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Matius 5: 43-45

Moralitas adalah mutlak perlu bagi umat Kristen

Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Roma 13: 5

Pada hari Sabtu yang baru lalu, Hamas—kelompok teroris Islam yang berbasis di Jalur Gaza dan didanai oleh Iran—meluncurkan serangan besar-besaran terhadap Israel selatan melalui laut, darat, dan udara. Hingga tulisan ini dibuat, lebih dari 1200 warga Israel telah tewas, 2900 orang terluka, dan ratusan lainnya disandera.

Gambar dan video yang muncul di media sosial sangatlah mengerikan: pengunjung pesta musik yang tidak menaruh curiga dibantai; seorang ayah membantu anak-anaknya melarikan diri melalui atap hanya untuk dibunuh; teroris mengarak seorang wanita telanjang di belakang truk pickup; seorang lansia yang selamat dari Holocaust dipaksa memegang senjata dan berpose bersama seorang tentara Hamas; seorang wanita muda dengan dua anak perempuan, usia 5 dan 3 tahun, disandera. Beberapa pihak menyamakan dampak psikologis yang menimpa Israel dengan tragedi 9/11 yang menimpa Amerika. Ini adalah pembunuhan massal paling mematikan terhadap orang-orang Yahudi dalam satu hari sejak Holocaust, dan hal ini pasti akan mengubah masyarakat Israel secara mendalam.

Terlepas dari perbedaan pandangan umat Kristiani mengenai posisi bangsa Israel modern dalam rencana penebusan Tuhan, ini adalah saat di mana kita perlu memiikirkan pentingnya moral dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan kaidah moral. Walaupun demikian, dalam masyarakat tertentu ada orang-orang yang kurang peduli akan pentingnya moral, dan tidak sadar bahwa tindakan amoral pada umumnya adalah dosa. Sebagai akibatnya, banyak orang yang menganggap bahwa tujuan baik bisa dicapai dengan segala cara, termasuk dengan cara melanggar hukum, melakukan kejahatan dan perbuatan amoral.

Apa yang terjadi di dunia saat ini sebenarnya sudah diramalkan dalam Alkitab. Dalam kitab Kejadian 16:10-11 ada nubuat tentang bayi yang dikandung Hagar. Bayinya laki-laki dan dia harus memanggilnya Ismail, sebuah nama yang mengacu pada saat ketika Tuhan telah mendengar keluhannya dan membantunya. Dari Ismail kemudian muncul keturunan yang tidak dapat dihitung karena banyaknya.

Meskipun Ismail akan menjadi anak pertama yang lahir dari Abraham, namun ia bukanlah anak janji yang dijamin oleh Tuhan. Ini bukanlah cara Tuhan ingin memenuhi janji-Nya kepada dia. Maka anak sulung Abraham ini akan menjadi seekor “keledai liar” bagi manusia. Dia tidak akan menjadi orang yang suka hidup damai dengan orang lain. Tangannya akan melawan semua orang dan semua orang akan melawan dia. Dia akan hidup dalam permusuhan terhadap sanak saudaranya.

“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” Kejadian 16:12

Pada akhirnya kita akan mengetahui bahwa keturunan Ismail menjadi orang Arab dari berbagai suku dan mereka telah bertentangan dengan orang-orang Yahudi selama ribuan tahun. Keturunan Ismail segera mengambil gaya hidup Badui, terpinggirkan dari masyarakat, berkomitmen pada kebebasan pribadi mereka di atas kebutuhan untuk diterima oleh orang lain.

Jika kita membaca sejarah di atas, kita harus mengakui bahwa di zaman modern ini, dalam negara mana pun ada kecenderungan manusia untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada hukum, moral, orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang seharusnya mempunyai otoritas atas beberapa segi kehidupan mereka. Di dunia yang penuh dosa, tidak sulit untuk menemukan tindakan yang tidak dapat dibenarkan di kedua sisi yang berkonflik. Siapa pun yang mengecam satu pihak akan segera disambut dengan jawaban: “Bagaimana dengan ini, itu, atau kekejaman lain yang dilakukan pihak lain?”

Kita harus menerima bahwa negara Israel tidak selalu bertindak tanpa cela dalam perlakuan mereka terhadap rakyat Palestina. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh menutup-nutupi setiap tindakan yang telah diambil oleh pemerintah atau militer Israel, sejak pendiriannya hingga saat ini. Kita melihat rasa frustrasi, rasa sakit, dan kesedihan yang dialami oleh orang-orang Palestina, dan kita harus menganggap serius perintah Alkitab untuk “menangis bersama mereka yang menangis” – termasuk dengan orang-orang Palestina yang berduka atas kematian mereka, baik dulu maupun sekarang. Namun adanya kesalahan yang tak terelakkan di kedua belah pihak tidak harus menghasilkan kebingungan moral bagi umat Kristen. Serangan Hamas terhadap Israel merupakan contoh nyata dari kesalahan yang dapat dikutuk dengan tegas tanpa ada keraguan.

Orang Kristen sejati selalu melihat hubungan antara tujuan dan tindakan. Jika Hamas hanya menyandera warga sipil, maka tindakan tersebut sudah merupakan tindakan yang jahat (Alkitab melarang penculikan), sekalipun tujuannya mungkin memiliki pembenaran militer – di masa lalu sandera telah ditukar dengan tahanan Palestina. Namun Hamas tidak hanya menyandera kombatan. Mereka sengaja merancang operasi militer dengan tujuan membunuh warga sipil. Korban sipil tersebut bukanlah korban tambahan akibat serangan terhadap sasaran militer; warga sipil sendirilah yang menjadi sasarannya. Tidak ada pembenaran alkitabiah untuk pembantaian ini, dan orang Kristen harus dengan tegas menyatakannya.

Jika kita tidak dapat membedakan antara kematian akibat kecelakaan mobil dan pembunuhan yang disengaja, sistem peradilan pidana kita akan berantakan. Dan jika kita tidak bisa membedakan antara pembunuhan terhadap kombatan dan pembunuhan terhadap warga sipil yang ingin damai, maka kita hidup dalam dunia nihilisme moral. Di dunia seperti ini, segalanya menjadi abu-abu dan kita tidak bisa membuat perbedaan yang membantu kita mengambil sikap politik dan moral. Tetapi, kekristenan sejati mempunyai moralitas yang berdasarkan Alkitab.

Kejelasan moral mengenai konflik yang terjadi saat ini juga membantu kita mempersiapkan diri menghadapi peristiwa-peristiwa yang belum diketahui dan mungkin terjadi dalam hidup kita. Dengan melatih otot daya pengamatan kita, kita menjadi lebih siap untuk berpikir dengan benar di masa depan. Daya tanggap moral yang baik bisa membuat kita melihat ketidakadilan, ketidakjujuran, kekejaman, dan kejahatan lain pada saat banyak orang Kristen lainnya menganggap itu barang yang lumrah di zaman moden. Visi moral kita yang kuat akan membawa kemuliaan bagi Tuhan; dan sebaliknya, orang Kristen yang mengabaikan moral akan mempermalukan Tuhan.

Hidup di zaman perang

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 11 – 12

Dari Alkitab kita tahu bahwa bangsa Israel sejak awalnya sudah dikelilingi oleh berbagai bangsa yang memusuhi mereka. Peperangan demi peperangan harus dihadapi oleh bangsa itu, tetapi apa yang terjadi beberapa hari yang lalu adalah sebuah kejutan yang membawa korban besar. Mereka yang mengikuti perkembangan militer tentu tahu bahwa kemampuan teknologi militer yang dimiliki negara itu sangat canggih. Mengapa kali ini tidak ada orang yang menduga datangnya malapetaka?

Dalam ayat pembukaan di atas Paulus mengingatkan jemaat Efesus akan adanya “pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia dan roh-roh jahat di udara”. Paulus tentunya tidak berbohong. Iblis adalah musuh kita yang berbahaya, dan karena itu kita juga harus sadar bahwa selama hidup di dunua, kita bisa mengalami kejutan besar. Rasul Petrus menuliskan hal yang serupa:

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Iblis memang berusaha menghancurkan apa yang baik yang diciptakan Tuhan sejak dari awalnya. Iblis sangat pandai untuk membujuk manusia agar mereka mengabaikan firman Tuhan. Iblis tidak terang-terangan mengajak umat Tuhan untuk berbuat dosa, tetapi ia membuat manusia merasa tidak merasa bersalah dalam dosa yang diperbuatnya. Iblis mampu membuat apa yang salah, yang jahat, yang kejam dan yang licik, terlihat sebagai sesuatu yang indah. Iblis mengajarkan manusia membuat berbagai dalih untuk membenarkan perbuatan jeleknya. Iblis juga sering membuat manusia merasa diagungkan dan karena itu dengan senang hati mengikuti jalan yang sesat.

Perjuangan orang Kristen dalam hidup ini bukanlah menghadapi sesuatu yang mudah dilihat. Iblis yang sudah memasuki segala segi kehidupan manusia, baik itu menyangkut hukum, politik, ekonomi, medis, agama, keluarga dan kemasyarakatan. Iblis secara perlahan-lahan dan tersembunyi sudah menggerogoti nilai-nilai hidup baik dan hukum-hukum yang sudah diberikan Tuhan sehingga semuanya nampak sebagai hal-hal yang sepele, yang bisa dilupakan. Iblis jugalah yang membuat manusia merasa besar dan percaya bahwa hidup-matinya ada ditangan mereka sendiri. Manusia yang sudah diserang dan dikalahkan oleh iblis biasanya justru tidak menyadari keadaannya, karena ia tidak dapat melihat iblis yang bekerja dibalik semuanya.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa perjuangan kita melawan iblis yang tidak kelihatan tidaklah mudah.  Apa yang kita lihat mungkin menawan dan nyaman, tetapi dibalik semua itu iblis sudah siap untuk menjatuhkan siapa saja yang tidak berhati-hati. Dengan demikian, kita harus mau mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat si penipu. Kita harus makin kokoh dalam memegang kebenaran dan keadilan Kristus, ikut mengabarkan injil kepada semua orang, berlindung di balik iman, berpegang pada fiman Tuhan dan rajin berdoa untuk memohon penyertaan Tuhan kepada semua orang percaya.

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6: 14 – 18

Bagaimana kita bisa membuat Tuhan sedih

“Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung.”Hosea:11:1-2

Berita dari Israel sejak akhir minggu lalu tentunya membuat rasa sedih muncul dalam hati banyak orang, terutama orang Kristen. Serangan teroris terhadap penduduk Israel sudah memakan ratusan jiwa, termasuk sejumlah orang dari berbagai negara. Lebih dari seratus orang, termasuk anak-anak dan wanita, sudah menjadi sandera dan nasibnya tidak diketahui saat ini. Bagaimana kejadian ini bisa menjadi malapetaka terburuk yang terjadi pada negara modern Israel, yang mempunyai fasilitas pertahanan militer yang canggih, tentunya menjadi tanda tanya banyak orang. Lebih dari itu, banyak orang Kristen bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan kejadian yang menyedihkan ini terjadi pada orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedadaan setempat? Mungkinkah kejadian seperti ini terjadi pada kita juga?

Bangsa Israel adalah bangsa yang dari mulanya sudah mengalami berbagai kejadian yang luar biasa. Sebagai bangsa pilihan Allah, eksodus Israel dari Mesir adalah tindakan penyelamatan utama dalam masa perjanjian lama, dan para nabi menggunakan kejadian itu untuk meramalkan eksodus baru di bawah pelayanan Mesias (Yeremia 16:14-21; Mikha 7:14-17). Meskipun para nabi tentu saja mengetahui kegagalan generasi lama di padang gurun, mereka cenderung menganggap periode tersebut sebagai masa kesetiaan karena, bagaimanapun juga, generasi Israel pada waktu itu mengindahkan panggilan luar biasa untuk melawan kerajaan terkuat pada zaman mereka dan mengikuti Musa ke tanah perjanjian (Yeremia 2:6; Hos. 2:14–15; Amos 2:9–11). Dibandingkan dengan zaman para nabi di mana bangsa Israel tiada hentinya melakukan penyembahan berhala, masa eksodus dan pengembaraan di padang gurun memang merupakan “masa keemasan”, di mana penyertaan Allah terlihat secara nyata.

Ayat pembukaan di atas mengungkapkan isi hati Allah terhadap umat perjanjian lama-Nya, yang meratapi sikap mereka yang berpaling dari-Nya kepada para Baal dan berhala-berhala lainnya. Intinya, Tuhan berkata kepada umat-Nya: “Bagaimana kamu bisa?” Mengingat semua yang telah Dia lakukan bagi mereka sebagai suami tercinta, pengkhianatan Israel sungguh besar (Hosea 11:1-4). Tentu saja, Tuhan bukannya tidak berdaya karena kesedihan karena Ia adalah makhluk mahakuasa. Kegagalan Israel juga bukan sesuatu yang tidak diduga oleh Allah (Ulangan 31:14-22). Namun Israel mendukakan Tuhan karena mereka mereka mengkhianati Tuhan dengan menyembah dewa-dewa lain, dan kekudusan-Nya menuntut balasan (Hosea 11:5-7).

Secara keseluruhan, Israel jelas gagal dalam panggilannya untuk menyembah dan melayani Tuhan. Namun karena Allah telah menjadikan kehormatan-Nya bergantung pada transformasi Israel menjadi bangsa yang kudus (Kejadian 15; Keluaran 32:1-14; 1 Samuel 12:22), Ia harus menepati janji ini dengan cara tertentu. Seperti disebutkan di atas, akan ada eksodus Israel baru yang akan menggenapi tujuan Allah. Israel baru ini akan mempunyai kesinambungan dengan Israel lama, karena sekalipun ada banyak orang kudus di bawah perjanjian yang lama, mereka tetap tidak memiliki kebenaran yang Tuhan minta, pelaksanaan rencana-Nya bagi Israel baru ini akan mengambil bentuk yang baru.

Perjanjian Baru mengatakan bahwa semua ini terjadi di dalam Kristus, yang adalah diri-Nya sendiri sebagai Israel baru, dan yang membuat semua orang yang percaya hanya kepada-Nya, baik etnis Yahudi maupun non-Yahudi, menjadi orang Israel sejati. Inilah poin yang disampaikan Matius ketika ia mengatakan Hosea 11:1 digenapi ketika Kristus kembali bersama orangtua-Nya ke Nazaret dari Mesir (Matius 2:13–15, 19–23). Yesus menggenapi teks Hosea karena Dia adalah Anak Allah yang sejati dan setia yang secara sempurna sudah menggenapi panggilan yang pertama kali diberikan kepada Israel perjanjian lama.

Salah satu kesalahan yang dilakukan umat Allah pada masa perjanjian lama adalah percaya bahwa kehadiran tabernakel atau bait suci dan perabotannya bisa menjamin bahwa bangsa tersebut tidak dapat ditaklukkan, bahwa Israel akan selalu menang. Hal ini tentu saja diyakini oleh para tua-tua Israel ketika mereka berperang melawan orang Filistin menjelang akhir hidup imam Eli, Hofni, dan Pinehas. Berpikir bahwa alasan kekalahan mereka adalah tidak adanya tabut perjanjian, para tua-tua membawanya ke medan pertempuran. Namun mereka kalah dalam tabut dan pertarungan karena Tuhan tidak menjamin kehadiran-Nya bagi orang-orang yang tidak taat (1 Samuel 4:1–11; Ulangan 28:15–15).

Meskipun kehadiran tabut itu sendiri bukanlah jaminan bahwa Tuhan akan berperang demi umat-Nya, kekalahan tabut itu di tangan orang Filistin merupakan tanda bahwa Tuhan telah membiarkan mereka berjuang sendiri. Tanggapan Eli dan menantu perempuannya terhadap hilangnya tabut itu menunjukkan hal ini. Seperti yang kita lihat dalam 1 Samuel 4:12–22, Eli terjatuh dan mati ketika dia mendengar bahwa tabut itu hilang, dan menantu perempuannya, sebelum meninggal saat melahirkan, menamai putranya Ikabod karena “kemuliaan telah berlalu dari Israel”.

Perlakuan terhadap bait suci dan perabotannya sebagai benda ajaib yang menjamin keberhasilan adalah hal yang umum dalam sejarah Israel perjanjian lama. Berabad-abad kemudian, pada masa nabi Yeremia, orang-orang yang percaya akan keberadaan bait suci di Yerusalem tidak mempercayai Yeremia ketika dia secara akurat meramalkan jatuhnya kota itu ke tangan Babel (Yeremia 7:1–15; 52). Seperti itu juga, sering orang Kristen di zanan sekarang menganggap bahwa kekristenan mereka adalah jaminan kemakmuran, kejayaan dan kesuksesan. Mereka tidak sadar bahwa jika mereka tidak benar-benar hidup menurut ajaran dan perintah Yesus, mereka pada akhirnya akan mengalami kekacauan hidup.

Saat kita mempertimbangkan gagasan bahwa Tuhan meninggalkan Israel, kita harus mengingat beberapa hal. Pertama, ketika Alkitab berbicara tentang kepergian Tuhan, itu tidak berarti bahwa Dia tidak lagi hadir di tempat di mana Dia pergi. Bagaimanapun juga, Tuhan bukanlah wujud fisik, dan Dia ada di mana-mana—hadir di mana saja. Tidak ada tempat dalam ciptaan di mana Tuhan tidak ada (Mazmur 139:7-12). Kedua, meskipun Tuhan dapat dikatakan telah meninggalkan Israel, hal ini tidak berarti Dia meninggalkan semua orang dalam komunitas perjanjian Israel. Allah selalu menyertai sisa-sisa-Nya (Mzm. 23:4).

Ketika Kitab Suci mengatakan bahwa Allah telah meninggalkan umat-Nya, itu berarti bahwa Dia telah mengambil berkat-Nya dari mereka, bahwa Dia tidak lagi melindungi mereka dari bahaya. Seperti itu juga, jika kita di zaman sekarang tidak lagi menaati Firman Tuhan dan mulai mengajarkan serta menoleransi kesalahan teologis yang signifikan, seperti pendewaan atas materi, seks dan politik, Tuhan akan membiarkan komunitas kita di dunia menderita.

Pagi ini kita belajar bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan gereja, yaitu semua orang yang benar-benar percaya kepada-Nya. Namun, Dia akan menolak semua orang yang hanya mengaku beriman, tetapi tidak mau mengikuti perintah Kristus dengan cara hidup mereka yang berkecimpung dalam dosa. Ketika hal itu terjadi, bahkan umat lain yang setia di dalam gereja yang ada akan menderita. Karena itu, jika kita ingin berkat Tuhan tetap ada pada komunitas lokal kita, janganlah kita dengan sengaja membiarkan kesalahan dan dosa terjadi dalam kehidupan pribadi kita.

Bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan?

“Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” ” Yesaya 43:6–7

Apakah kita, sebagai makhluk ciptaan Allah, adalah sarana untuk memuliakan diri-Nya sendiri? Pertanyaan ini sering muncul di kalangan orang bukan Kristen karena gereja telah menekankan ajaran alkitabiah bahwa Allah menciptakan dan menebus umat-Nya demi kemuliaan-Nya sendiri, yang berarti agar kemuliaan-Nya bisa dikenal dan dihargai serta ditunjukkan di alam semesta.

Sebagian orang Kristen tidak mengerti bahwa segala berkat jasmani yang mereka terima bukanlah berarti bahwa mereka adalah orang yang baik dan disenangi Tuhan. Berkat Tuhan juga turun kepada orang yang bukan umat-Nya. Dengan demikian, segala berkat yang datang dari Tuhan seharusnya diterima dengan pengerian bahwa semua itu harus digunakan untuk kemuliaan-Nya.

Selain berkat jasmani, orang Kristen menerima berkat rohani. Kita sudah dipilih, ditentukan sejak semula, diadopsi, ditebus melalui darah Kristus untuk memuji kemuliaan kasih karunia Allah (Efesus 1:4-7).

Walaupun demikian, pertanyaan yang muncul di antara banyak orang adalah: apakah manusia diciptakan Allah sekadar sebagai sarana-Nya untuk memuliakan diri sendiri? Bukankah itu berarti Tuhan itu egois, yang menciptakan manusia seperti boneka-Nya? Jawabmya singkat saja. Bintang, batu, dan gunung memang diciptakan hanya sebagai sarana untuk memuliakan diri Tuhan, namun manusia tidaklah demikian. Tidak sesederhana itu.

Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang bisa berkomunikasi dan membina hubungan dengan-Nya. Dengan demikian, memuliakan Tuhan menuntut tindakan aktif manusia, dan ini berbeda dengan ciptaan-Nya yang lain. Selain itu, hanya manusia yang bisa percaya bahwa apa yang ada adalah pemberian-Nya, sedangkan makhluk lain hanya bisa menikmati apa yang ada tanpa memikirkan dari mana asalnya.

Konsep memuliakan Tuhan adalah menghormati Tuhan melalui hidup seseorang. Ayat 1 Korintus 10:31 mengajarkan orang percaya untuk menghormati Tuhan dalam segala hal yang mereka lakukan: “Jadi, apakah kamu makan atau minum atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Konteks ayat ini mencakup diskusi tentang kebebasan yang dimiliki orang percaya di dalam Kristus. Kita bebas menentukan pilihan pribadi dalam hidup, namun kita tidak boleh melakukan apa pun yang menyebabkan orang lain “tersandung” atau berdosa dalam perjalanannya bersama Allah. Kita harus mengupayakan kebaikan orang lain (1 Korintus 10:32–33).

Lebih lanjut, orang percaya mungkin mempunyai “hak” untuk melakukan apa pun, namun tidak semuanya bermanfaat (1 Korintus 10:23). Paulus menggunakan ilustrasi makan daging yang dipersembahkan kepada berhala. Baginya, pengabdian seperti itu tidak berarti apa-apa karena berhala bukanlah tuhan yang nyata. Namun, dia akan menjauhkan diri dari makan daging lagi demi kebaikan orang lain yang mungkin berbuat dosa karena mengikuti teladannya. Orang-orang percaya melayani Tuhan baik melalui kehidupan pribadi mereka maupun dalam tindakan mereka terhadap orang lain.

Untuk memuliakan Tuhan diperlukan komitmen penuh kepada-Nya. Dalam Kolose 3:23 kita membaca, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Konteksnya mencakup arahan Paulus bagi budak-budak Kristen yang bekerja untuk majikan manusia. Bahkan dalam peran ini, pekerjaan mereka harus dilakukan seolah-olah mereka sedang melayani Yesus (Kolose 3:24). Menghormati atau memuliakan Tuhan dalam segala hal termasuk memiliki etos kerja yang kuat, bahkan ketika kita bekerja untuk orang yang tidak kita sukai atau bekerja dalam situasi sulit.

Memuliakan Tuhan dalam segala hal berarti kita menghormati Dia dalam pikiran dan tindakan kita. Pikiran kita harus tertuju pada hal-hal yang berasal dari Allah (Mazmur 1) dan Firman Allah (Mazmur 119:11). Saat kita fokus pada Firman Tuhan, kita tahu apa yang benar dan bisa menindaklanjutinya dengan melakukan apa yang benar.

Yesus selalu memuliakan Bapa-Nya di surga. Tidak pernah ada momen dimana Dia tidak memuliakan Tuhan. Setiap pikiran, perkataan, dan tindakan Tuhan kita sepenuhnya ditujukan untuk kemuliaan Tuhan. Ketika Yesus menghadapi godaan Setan (Matius 4:1-11), Dia mengutip Kitab Suci sebanyak tiga kali. Yesus adalah manusia yang menepati janji, berkomitmen penuh pada kehendak Allah, dan teladan-Nya dalam mengatasi godaan menawarkan harapan bagi kita semua yang berusaha untuk tetap teguh dalam masa-masa pencobaan.

Cara lain kita memuliakan Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan adalah dengan merawat tubuh kita dengan benar. Berbicara mengenai percabulan, 1 Korintus 6:19-20 mengajarkan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Hari ini kita belajar bahwa untuk memuliakan Allah dalam segala hal, kita harus memperlihatkan iman (Ibrani 11:6), kasih tanpa kemunafikan (Roma 12:9), menyangkal diri (Lukas 9:23), penuh dengan Roh (Efesus 5:18), dan mempersembahkan diri kita sendiri sebagai “persembahan yang hidup” bagi Allah (Roma 12:1). Setiap bidang kehidupan penting untuk dievaluasi dan dijalani semaksimal mungkin demi kemuliaan dan kehormatan Tuhan. Kita hendaknya berusaha agar setiap pikiran dan perbuatan membawa sukacita bagi Bapa kita di surga.

Apa tujuan hidup Anda?

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:26-27

Sudah berapa lama Anda menjadi orang Kristen? Saya percaya bahwa sebagian dari pembaca sudah belasan tahun, dan sebagian lagi mungkin sudah puluhan tahun. Tetapi, apakan Anda sudah dan tetap berlari ke tujuan yang benar seperti Paulus dalam ayat di atas?

Ada orang yang mengaku Kristen, tetapi tidak pernah berjuang untuk menjalani hidup seperti apa yang dikehendaki Tuhan, guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan-Nya. Sebagian lagi masih bertanya-tanya ke arah manakah kehidupan Kristen mereka harus diarahkan. Bagi mereka, kenyataan bahwa mereka sudah dibaptis atau disidi, dianggap sebagai garansi bahwa mereka adalah orang-orang yang terpilih.

Memang mungkin sebagian besar orang Kristen percaya bahwa tujuan menjadi orang Kristen hanyalah satu, yaitu untuk masuk ke surga sesudah menyelesaikan hidup di dunia. Tetapi, pandangan seperti itu adalah keliru karena hanya memusatkan perhatian kepada diri sendiri dan belum ada bukti bahwa orang itu benar-benar sudah menjadi orang percaya. Menjadi orang percaya bukan semudah menjawab “ya” atas panggilan Tuhan, tetapi harus melibatkan perubahan cara hidup manusia. Alkitab memberikan setidaknya empat jawaban atas pertanyaan apa tujuan hidup kita sebagai umat-Nya.

Menjadi seperti Yesus dalam gambar Tuhan

Kita ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Anak Allah (Roma 8:29). Anak Allah adalah gambaran Allah yang tanpa cela, sebagaimana dimaksudkan oleh umat manusia (Kolose 1:15). Tuhan menjadikan setiap orang percaya seperti Yesus. Ini adalah proyek besar-Nya dalam kehidupan setiap orang Kristen sejati.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Untuk menjadi bagian dari gereja yang lengkap sedunia

Kita ditakdirkan untuk menjadi bagian dari “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Wahyu 7:9). Kehidupan Kristiani dijalani secara individu, satu demi satu; namun, pada hakikatnya, hal ini bukan merupakan persoalan individu saja. Allah sedang menyelesaikan gereja Kristus di seluruh dunia sepanjang zaman; dan kita adalah bagian dari itu. Mereka yang merasa bahwa hanya golongan mereka sendiri yang akan diselamatkan, adalah orang-orang yang tidak mengerti arti Wahyu 7:9.

Untuk ikut serta dalam memerintah ciptaan baru

Janji kepada Abraham adalah bahwa di dalam keturunannya (Kristus dan semua yang ada di dalam Kristus) dia akan mewarisi dunia (Roma 4:13). “Orang-orang kudus” (orang percaya) “akan menghakimi” (yaitu, memerintah) “dunia” (1 Korintus 6:2). Meskipun warisan kita “disimpan di surga” untuk kita (1 Petrus 1:4), warisan itu akan dinikmati, dalam tubuh kebangkitan, dalam ciptaan baru, langit dan bumi dijadikan baru (Wahyu 21:5; lih. Roma 8:18–25; 2 Petrus 3:10–13). Orang Kristen yang tidak sadar bahwa mereka adalah pewaris kerajaan Allah yang bertugas untuk memancarkan terang-Nya mungkin bukan orang Kristen yang sejati.

Untuk bersinar bagi kemuliaan Tuhan

Yang paling dalam, takdir kita adalah untuk bersinar bagi kemuliaan Allah (Efesus 1:6). Alam semesta akan bersatu dalam kekaguman atas kasih karunia Allah yang menakjubkan dan mulia dalam gereja Kristus yang telah sempurna. Ini adalah tujuan terbesar dalam kehidupan orang Kristen.

Kehidupan Kristen adalah persoalan hati, dan itu ada sebelum keluar dalam bentuk perkataan dan perbuatan kita. Dari hati terpancar segala kehidupan (Amsal 4:23). Kerusakan hati adalah akar dari semua masalah kita (misalnya Markus 7:6, 7, 14-23). Penyembuhan keinginan dan kasih sayang hati adalah urusan yang paling penting dalam kehidupan Kristiani. Apa yang dianggap sebagai “kehidupan Kristen” tetapi mengabaikan keinginan hati yang sudah disi oleh Roh Kudus tidak lain hanyalah kemunafikan belaka. Sebaliknya, mereka yang berusaha melalukan apa yang baik sesuai dengan keinginan hati yang tidak dicerahi oleh anugerah Tuhan adalah usaha yang sia-sia.

Bagaimana kita dapat berjuan untuk mencapai tujuan di atas?

Kehidupan Kristiani harus dimulai, berlanjut, dan diakhiri seluruhnya oleh anugerah Allah yang cuma-cuma, namun Allah telah memilih untuk menggunakan instrumen yang melaluinya kita dapat membawa anugerah-Nya ke dalam hidup kita dan hidup sesama kita. Pada intinya, tujuan kehidupan setiap orang Kristen adalah untuk menjunjung tinggi perintah untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Matius 22:37-39). Ini pada dasarnya adalah satu perintah, bukan dua perintah yang berbeda: kita mengasihi Tuhan dengan hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan; dan wujud kasih yang tulus kepada Tuhan adalah kasih kepada sesama yang Tuhan utamakan bagi kita. Hal ini mencakup keluarga dekat kita dan mereka yang tinggal di wilayah kita, dan juga banyak orang lain, di tempat kerja, di negara kita, dan di dunia.

Arti hidup sebagai orang Kristen

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” 2 Korintus 5:17-18


Berapa lama Anda sudah menjadi orang Kristen? Apakah Anda merasakan bahwa hidup sebagai umat Tuhan adalah sangat berbeda jika dibandingkan dengan hidup orang yang tidak mengenal Yesus Kristus?

Kehidupan Kristen didasarkan pada karya Allah dalam kelahiran baru, pembenaran, karunia Roh, pengampunan dosa, dan kesatuan kita dengan Kristus. Tujuan kehidupan Kristen adalah menjadi serupa dengan gambaran Kristus dan, sebagai hasilnya, ikut ambil bagian dalam pemerintahan Allah di bumi demi kemuliaan Allah. Dengan menggunakan berbagai karunia Tuhan, seperti Alkitab, doa, Gereja, dan sakramen, Allah menyelaraskan orang Kristen ke dalam gambar Kristus melalui Roh. Kehidupan Kristiani yang sehat ditunjukkan dalam iman dan ketaatan, perbuatan baik, kehidupan yang berkorban dan memberi, serta partisipasi dalam misi Gereja sedunia. Hidup baru bukan hanya dalam bayangan atau teori, tetapi hidup yang benar-benar terjadi. Sudah seharusnya Anda akan merasakan hal ini jika Anda benar-benar orang Kristen sejati.

Kita hanya akan dapat memahami kehidupan Kristiani jika kita memahami landasan yang mendasarinya. Alkitab membicarakan hal ini setidaknya dalam tujuh segi:

Pertobatan dan Iman
Allah memerintahkan semua orang di mana pun untuk bertobat (Kisah Para Rasul 17:30-31). Petrus memberikan perintah ini pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:38) dan ini merupakan ajaran yang konsisten dalam Perjanjian Baru. Kita harus berbalik dari dosa kita dan percaya kepada Yesus Kristus Juruselamat dan Tuhan. Tanpa pertobatan dan iman ini, tidak ada kehidupan Kristen. Memang benar, pertobatan dan iman bukan sekadar bentuk awal kehidupan Kristiani; semuanya itu adalah bentuk seluruh kehidupan Kristiani, hari demi hari.

Tapi ada masalah; kita tidak mau dan tidak mampu bertobat dan percaya kepada Kristus kecuali Allah bekerja di dalam kita, karena pertobatan dan iman pada hakikatnya adalah anugerah Allah (2 Timotius 2:25). Meskipun kita mengalami permulaan kehidupan Kristiani dalam kaitannya dengan pertobatan dan iman kita, kita memahami bahwa semua itu tidak akan terjadi kecuali Allah terlebih dahulu bekerja di dalam kita dalam kasih-Nya.

Kelahiran Baru
Secara alami, kita mati secara rohani karena pelanggaran dan dosa kita (Efesus 2:1). Kita tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Tuhan harus melahirkan kita dari atas, dan itu adalah kelahiran baru (Yohanes 3:1-8).

Karunia Roh
Kelahiran ini datang kepada kita melalui Roh Kudus yang masuk ke dalam hati kita untuk memberi kita kehidupan. Melalui iman kita menerima Roh Kudus yang dijanjikan (Galatia 3:14).

Adopsi sebagai anak-anak Tuhan
Dengan memberikan kita kelahiran baru, Roh Kudus membawa kita ke dalam keluarga Allah melalui adopsi (Roma 8:15). Kita menjadi anak-anak Tuhan. Ini mengungkapkan kebenaran yang luar biasa bahwa kita masing-masing, pria atau wanita, masuk melalui kasih karunia ke dalam hak istimewa hidup sebagai anak Yesus. Sungguh menakjubkan menjadi anak Allah (1 Yohanes 3:1-2). Semua yang diadopsi ke dalam keluarga Allah dapat merasakan kepastian bahwa Allah telah menentukan kita sejak semula dalam kasih-Nya (Efesus 1:5).

Pengampunan atas dosa-dosa kita
Sejak hari pertama kehidupan Kristen kita dapat yakin bahwa segala dosa kita telah diampuni; pengampunan dosa adalah bagian inti dari pesan Injil dan elemen dasar dalam awal kehidupan Kristen (Matius 26:28; Lukas 24:47; Kisah Para Rasul 10:43; Efesus 1:7).

Pembenaran
Kebenaran Kristus diperhitungkan, atau diperhitungkan, kepada kita melalui kasih karunia, karena dosa kita telah diperhitungkan pada perhitungan Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, kita “dibenarkan” atau “dinyatakan benar” di hadapan Allah karena kematian Yesus sebagai pendamaian atas dosa-dosa kita (Roma 3:21–26).

Disatukan “di dalam Kristus”
Semua hak istimewa ini—adopsi, pengampunan, pembenaran, karunia Roh, kelahiran baru—dirangkum dalam Perjanjian Baru dengan frasa penting “di dalam Kristus.” Ini tidak berarti bahwa kita secara fisik berada di dalam Kristus; tetapi itu berarti kita bersatu dengan Kristus. Ini adalah persatuan yang mendalam. Artinya, kematian-Nya diperhitungkan sebagai kematian kita, kebangkitan-Nya sebagai kebangkitan kita (kebangkitan rohani di saat ini dan kebangkitan jasmani di masa depan), dan kenaikan-Nya sebagai kenaikan pasti kita di masa depan (Roma 8:1; Galatia 3:26; Efesus: 2:5–6; Kolose 3:3).

Pagi ini, jika kita membaca apa yang sudah dilakukan Tuhan untuk kita, tentunya kita harus bersyukur. Tidak ada barang atau tindakan apa pun yang bisa mendatangkan keselamatan kita. Semua itu datang karena kasih Tuhan semata-mata. Oleh karena itu kita harus menghargai apa yang sudah diperbuat-Nya, dan berusaha untuk hidup baik di dalam Kristus. Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, dan sesungguhnya yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya. Oleh karena itu, kita harus rajin untuk memberitakan kabar perdamaian ini kepada semua orang. Pujilah Tuhan setiap hari dan di sepanjang masa!

Sumber: Concise Theology series