Pipi kanan ditampar, kasih pipi kiri sekalian

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Matius 5: 39

Semua orang yang gemar membaca Alkitab tentu pernah menjumpai ayat-ayat yang sulit dimengerti. Kata pendeta, kalau kita sering membacanya, lama-lama kita akan mengerti juga. Tapi sesudah mengerti artinya, kita masih sering bingung bagaimana cara menjalaninya. Repot kan?

Ayat diatas adalah salah satu dari banyak ayat yang sukar dimengerti dan sulit dilaksanakan. Bagaimana pula tidak?  Kita diharapkan agar mau menjadi bulan-bulanan untuk dipukuli orang sekalipun kita tak bersalah! Mana tahan?

Dalam sejarah gereja, banyak orang Kristen yang menjadi mengalami berbagai penganiayaan, hukuman dan bahkan mati disiksa karena kepercayaan mereka. Sampai sekarangpun, kejadian semacam ini masih terjadi dimana-mana, malahan rasanya makin parah. Apakah kita harus berdiam diri menghadapi serangan orang-orang jahat dan mempersilahkan mereka berbuat semaunya atas diri kita?

Soal menampar dan ditampar bukan soal remeh, baik di jaman dulu maupun jaman sekarang. Rasa sakit karena muka ditampar biasanya bertambah dengan rasa malu karena diperlakukan semena-mena. Di jaman sekarang, pelaku penamparan bisa berurusan dengan hukum, jika hukum masih berlaku. Di lain pihak banyak kejadian kekerasan semacam ini yang tidak dilaporkan. Penamparan secara fisik maupun batin masih sering terjadi baik di dalam rumah tangga, tempat bekerja dan masyarakat umum.

Yesus berkata bahwa jika seseorang menampar pipi kanannya, ia harus mengalihkan wajahnya agar pipi kirinya bisa ditampar juga. Pada umumnya orang menampar dengan tangan kanan kecuali untuk orang kidal. Dengan tangan kanan, orang tidak bisa menampar pipi kanan kita dengan telapak tangannya. Menampar pipi kanan dengan tangan kanan hanya bisa dilakukan dengan punggung tangan!

Penamparan dengan punggung tangan adalah penghinaan terhadap seseorang, bukan dengan maksud untuk melukai secara fisik. Yesus tidak bermaksud bahwa kita membiarkan orang lain menganiaya kita sehingga tubuh kita hancur lebur, tetapi Ia bermaksud agar kita tabah menghadapi penghinaan orang lain dan tidak membalas dendan atau membuat reaksi yang memperburuk suasana.

Penamparan dengan punggung tangan di jaman modern ini tidak harus terjadi secara nyata, tetapi juga banyak di dunia maya. Begitu banyak orang Kristen yang terseret arus serang-menyerang melewati berbagai media. Suasana kebencian dan permusuhan timbul dalam masyarakat dan negara akibat berbagai situs internet, gossip dan berita palsu. Bagaimana seharusnya kita bereaksi akan penistaan atas diri kita, keluarga dan kelompok kita?

Memberikan pipi yang lain tidak dimaksudkan untuk menghina, menantang atau membalas si penyerang. Sebaliknya itu merupakan pernyataan bahwa “aku tidak akan membalas perbuatan jahatmu dengan perbuatan serupa”. Juga bisa diartikan “aku tidak akan bereaksi walaupun aku dipermalukan karena Kristus ada didalamku”.

Yesus adalah Tuhan kita yang sudah memberi contoh bagaimana Ia, sebagai anak Allah sudah merendahkan diriNya untuk menyelamatkan umat manusia. Yesus mengajarkan kita untuk bersabar menghadapi penghinaan orang lain, dan Ia sendiri melakukan apa yang diajarkanNya. Sebagai akibat dari cara hidup Yesus itu, tak terhitung orang yang berubah hidupnya, termasuk kita sendiri. Jika kita mentaati ajaran Yesus, pasti juga banyak orang yang bisa berubah menjadi pengikut Yesus yang setia.

Semoga kita bisa hidup dalam kedamaian Kristus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s