Berbahagialah orang yang bisa marah…

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4:26-27.

Bolehkah kita marah? Tidak boleh? Boleh sedikit-sedikit? Kadang-kadang? Kalau perlu? Begitu banyak kemungkinan jawaban orang yang “agamis”.  Umumnya masyarakat berpendapat bahwa orang yang agamis tidak seharusnya gampang marah; mereka harus sabar dan bijaksana. Tidak pernah memakai kata-kata “keras”, memaki apalagi mengutuk orang lain. Memang kemarahan seseorang bisa merupakan penampakan hidup yang tidak baik.

Baru-baru ini ada berita bahwa seorang dokter bedah di Melbourne luka parah gara-gara dipukul oleh seorang pria di rumah sakit. Kejadian bermula dengan pria yang merokok dalam kompleks rumah sakit. Merokok di tempat umum adalah dilarang di Australia. Sang dokter yang melihat pria itu merokok kemudian memperingatkan agar ia berhenti merokok. Pria itu jadi marah dan memukul kepala dokter itu dari belakang sehingga dokter itu terjatuh dan membenturkan kepalanya dengan keras ke lantai. Sang dokter sekarang masih dalam perawatan ICU dan kemungkinan besar, kalaupun ia bisa tetap hidup, akan tidak bisa hidup normal lagi. Si pria yang memukul sekarang dalam tahanan polisi. Sungguh menyedihkan bukan? Dokter yang “marah” karena melihat hal yang tidak benar, dan si pemukul yang marah karena tidak mau ditegur. Rupanya ada marah yang benar dan ada marah yang salah.

Menurut ilmu psikologi, kemarahan adalah reaksi manusia yang normal. Orang yang normal pasti pernah marah. Kemarahan adalah sarana pelepasan emosi yang jika dipendam akan mengakibatkan gangguan kejiwaan yang serius. Sebaliknya, kemarahan yang tidak terkekang bisa mengakibatkan berbagai masalah dan kemungkinan disebabkan oleh gangguan/masalah kejiwaan yang sudah berlangsung cukup lama. Kemarahan yang tidak terkendali mungkin juga bisa diakibatkan oleh penggunaan miras dan narkoba. Tetapi, seperti kegembiraan yang tidak selalu mengandung arti baik, kemarahan tidak selalu mengandung arti buruk. Benarkah?

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Matius 5:22

Alkitab menunjukkan bahwa baik Yesus  (Matius 5. 22) maupun Paulus  (Efesus 4:26-27) mengajarkan bahwa kemarahan itu tidak baik atau seharusnya tidak berlarut-larut. Namun kita juga tahu bahwa Yesus dan Paulus kadang-kadang marah. Jelas bahwa ada kemarahan yang benar dan ada yang salah. Kemampuan manusia untuk marah semestinya sudah ada sejak penciptaan karena manusia adalah peta dan teladan Allah. Kita tahu bahwa Tuhan  terkadang menghajar anak-anakNya karena kasihNya. Ia bisa marah dalam kasihNya.

“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 6

Tuhan yang mahakasih menghendaki kita untuk mengasihi sesama kita dan karena itu sudah semestinya kita boleh marah jika kemarahan kita berdasarkan kebenaran dan kasih. Masalahnya, apakah kemarahan yang benar dan berdasarkan kasih itu? Bagaimana kita bisa mengendalikan kemarahan kita supaya itu tidak menjadi dosa? Bagaimana kita menggunakan kemarahan kita untuk kebaikan? Karena ini tidak mudah dijawab atau dilaksanakan, banyak orang Kristen yang menghidari kemarahan dengan berusaha diam, pasip, dan melupakan apa yang salah. Dengan demikian apa yang buruk di sekelling mereka dibiarkan saja.

Kemarahan yang benar adalah kemarahan yang memuliakan Tuhan dan membangun kasih diantara manusia. Kemarahan yang hanya dilandaskan ego dan kepentingan diri sendiri bukanlah kemarahan yang benar. Kemarahan yang berlarut-larut tanpa usaha penyelesaian dan perbaikan hubungan tidak akan membangun kasih melainkan memperbesar rasa dendam yang bisa dipakai iblis untuk menyerang dan menghancurkan kita secara spiritual maupun fisik. Kemarahan yang baik adalah rasa peduli untuk kebaikan seluruh masyarakat bukan untuk membela golongan sendiri saja. Sudahkah kita menggunakan kemarahan kita dengan benar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s