Ngantri donk!

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40


MENGAPA GURU DI NEGARA MAJU LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA ?  

Begitulah tulisan sesorang yang disebar-luaskan lewat sosial media dan dikagumi oleh banyak pembaca. Tulisan yang bernada menyindir keadaan setempat yang kurang mengenal etika mengantri. Tidaklah benar bahwa guru di luar negeri lebih khawatir tentang soal mengantri daripada matematika, namun tulisan itu ada benarnya: mengantri itu hal yang penting. Tanpa mengantri, kekacauan akan terjadi karena orang berebut untuk mencari posisi terdepan.

Bagaimana dengan ngantri ke surga? Bukan hanya dalam cerita sinetron TV, memang kita semua mengantri untuk ke surga. Tetapi kebanyakan orang tidak mau berlomba maju ke depan antrian, semua malah pada mau dibelakang! Manusia memang mau enaknya saja, manusia memang cenderung mementingkan diri sendiri.

Beberapa bulan yang lalu, saya pergi ke sebuah shopping centre besar di Brisbane. Saat itu lagi ramai-ramainya orang berbelanja. Setelah berputar-purar mencari tempat parkir, saya menemukan tempat dimana ada seorang pengemudi yang bersiap untuk keluar dari tempat parkirnya. Sayapun menunggu dengan sabar dibelakangnya. Baru saja mobil itu keluar, tahu-tahu ada mobil yang menyerobot dari samping saya dan mengambil tempat parkir itu! Saya hanya bisa menggerutu …Orang itu adalah seorang pencuri!

Mengantri adalah etika untuk menjunjung “law and order”, hukum dan tata cara, yang harus dipraktekkan dalam hidup kekristenan.  Apakah Alkitab pernah membahas soal ini? Barangkali tidak. Budaya antri itu tidak sama diantara banga-bangsa dan biasanya berkembang seirama dengan etiket-etiket yang  lain. Alkitab tidak membahas segala segi kehidupan manusia secara mendetail. Pusat perhatian Alkitab adalah Yesus Kristus dan pengurbananNya. Namun, Alkitab memberikan pedoman-pedoman penting yang bisa diterapkan dalam semua segi kehidupan manusia (Matius 22: 37-39):

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Etika dan etiket orang Kristen sudah seharusnya merupakan pelaksanaan perintah Tuhan diatas. Untuk bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, kita harus bisa mengasihi sesama manusia yang kelihatan (1 Yoh 4: 20). Lebih dari itu, etika dan etiket adalah usaha manusia untuk hidup secara beradab, sopan dan teratur karena itulah yang disenangi Tuhan kita. Tuhan bukanlah Tuhan yang menginginkan kekacauan (1 Korintus 14: 40).

Mengantri juga menyangkut soal kejujuran. Siapa yang tidak mau mengantri, pada hakekatnya mengambil hak orang lain. Siapa yang mengantri sambil “mewakili” orang lain  sehingga orang itu tidak perlu ikut mengantri, mungkin bisa digolongkan sebagai pembantu pencuri. Di gerejapun, kita sering melihat hal semacam ini ketika seseorang menaruh tas atau barang-barangnya di beberapa kursi untuk teman atau anggota keluarga yang belum datang.

Soal mengantri memang dianggap remeh oleh sebagian orang, tetapi untuk orang Kristen adalah soal serius:  soal kasih.

“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 4: 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s