Shalom Aleichem!

 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Shalom Aleichem! Damai besertamu! Begitulah sapaan yang sering diucapkan oleh masyarakat Yahudi jika mereka bertemu. Sebagai balasan, mereka yang disapa mengucapkan “aleichem shalom” . Di Indonesia, masyarakat Islam memakai ucapan serupa (assalamualaikum dan wa’alaikum salam) ketika mereka baru berjumpa. Pada pihak yang lain, umat gereja sering mengucapkan “shalom” atau “damai” sebagai kependekan dari “shalom aleichem”.

Salam damai ini ternyata juga dituangkan dalm bentuk lagu. Lagu Shalom Aleichem adalah sebuah lagu tradisional dengan pesan senada yang dinyanyikan orang Yahudi tiap Jumat malam sesudah kembali dari berdoa di sinagoga. Lagu itu menyambut datangnya hari Sabbath, dan menyambut datangnya malaikat-malaikat ke rumah mereka.

Bagi umat Kristen, menyampaikan salam damai seperti diatas seharusnya bukanlah sekedar ucapan bibir belaka. Ucapan itu berarti pengharapan dan kepercayaan tentang adanya damai dari yang menyampaikan untuk orang yang dijumpai. Jika orang yang memberi salam tidak mengenal damai, bagaimana pula ia bisa berkata “damai besertamu”? Sama halnya dengan orang-orang yang sering menulis atau mengucapkan salam “GBU” , jika mereka tidak mengenal siapakah Tuhan (God) dalam hidup mereka, ucapan yang demikian adalah sia-sia belaka. Bagaimana kita bisa berkata “shalom” atau “shalom aleichem” jika kita tidak mempunyai kedamaian dalam hidup kita sendiri?

Masalah kedamaian hidup adalah masalah yang rumit. Banyak orang yang hidupnya makmur, tetapi tidak merasakan damai dalam rumah tangga. Ada juga mereka yang mau ke gereja, tetapi tidak menemukan rasa damai disana. Juga karena keadaan dunia yang sekarang morat-marit diberbagai tempat,  kita mungkin sulit untuk mempunyai rasa damai dalam hidup kita.

Buat orang Kristen, rasa damai yang asli datangnya dari Tuhan. Rasa damai dalam Alkitab setidaknya menyangkut lima hal. Hanya kalau kita mau mengerti dan menerima kelima hal ini kita akan dapat merasakan kedamaian yang penuh.

  • Damai dengan Tuhan: Tuhan dengan kasihNya sudah mengambil inisiatip untuk membuat perdamaian dengan manusia yang sudah sesat. Yesus sudah disalibkan dan darahNya sudah memungkinkan dosa kita untuk dicuci bersih dalam pandangan Tuhan (Yesaya 1: 18).  Kita tidak perlu memikirkan bagaimana kita yang berdosa ini dapat mendekati Tuhan, karena Dia yang sudah lebih dulu menyambut kita sebagai anak yang hilang.
  • Damai dengan sesama: Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi sesama manusia, tidak hanya untuk sekedar menjalankan kehendakNya. Tetapi dengan mau mengasihi orang lain kita juga akan lebih sadar bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita. Dalam mengasihi orang lain dan membina hubungan kasih dengan sesama, kita alan merasakan kedamaian dalam hidup kita. Sebaliknya jika kita hidup dalam kemarahan, dendam dan kebencian, kedamaian tidak dapat kita rasakan dalam hidup kita (Efesus 4: 26-27).
  • Damai dengan masa lalu: Banyak orang Kristen yang selalu teringat akan masa lalunya. Mungkin teringat akan masa-masa kejayaan, saat-saat kemakmuran, atau juga saat dimana mereka membuat kekeliruan dan kebodohan. Akibatnya, mereka selalu dihantui perasaan bahwa mereka adalah orang yang “gagal”. Rasa menyesal dan kekecewaan akan datang mengusir kebahagiaan yang seharusnya ada dalam hidup sekarang yang masih ada. Filipi 3: 13 mengajak kita untuk melupakan masa lalu agar bisa melangkah ke depan.
  • Damai dengan masa kini: Ada juga orang yang mengalami pergulatan denngan hidup masa kini. Mungkin dengan adanya kekurangan, penderitaan, penyakit, perjuamgan dll. yang mereka alami saat ini. Sebaliknya, ada mereka yang berlebihan dalam hidup ini tapi masih juga tidak  dapat merasakan kecukupan. Paulus juga mengalami hal-hal yang serupa, tetapi ia dapat bersyukur dalam keadaan apapun dan merasa cukup dalam kekurangannya (Filipi 4: 11).
  • Damai dengan masa depan: Siapa yang tidak kuatir akan masa depan? Masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat atau duga. Tetapi, jika kita mau berserah kepada Tuhan dan yakin bahwa Dia akan membawa anak-anakNya ke arah yang baik, kekuatiran kita akan mereda. Kita harus yakin bahwa segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan kepada semua umatNya (Roma 8: 28).

Sebelum Yesus meninggalkan murid-muridnya, Ia memberikan damai sejahtera kepada mereka. Ia tahu bahwa sebagai manusia kita sering gelisah dan gentar dalam menghadapi hidup ini. Tetapi apa yang diberikanNya tidaklah seperti kedamaian palsu yang ditopang kepandaian, kekayaan, kesehatan, kemashuran dan kuasa manusia. Apa yang kita terima adalah jauh lebih besar dari itu.

 “….tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14: 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s