Apakah mujizat itu masih ada?

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. Markus 13: 22

Salah satu acara TV yang saya senangi adalah magic illusion show nya David Copperfield. Memang dia termasuk salah satu dari 10 top ahli sulap di dunia. Kalau nonton show semacam itu, saya tertarik karena hal-hal yang tidak mungkin bisa terjadi di depan mata. Sekalipun saya tahu itu hanyalah tipuan mata, tetap saja saya merasa kagum atas kehebatan David. Memang manusia dari dulu selalu tertarik akan hal- hal yang spektakular dan ajaib seperti orang-orang Mesir yang kagum atas trik-trik penyihir Firaun.

Manusia pada umumnya mempunyai kecenderungan untuk mengagumi hal-hal yang luar biasa, yang spektakular, yang tidak dapat dijelaskan secara mudah dengan akal pikiran. Itu sebabnya orang agnostikpun percaya akan adanya hal-hal yang diluar pengertian manusia. Albert Einstein misalnya, pernah berkata bahwa ia melalui ilmu pengetahuan dapat melihat hal-hal yang luar biasa di alam semesta, sekalipun ia tidak percaya bahwa Tuhan adalah dibalik semuanya. Sebaliknya, orang Kristen tentunya percaya bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, tetapi sering kurang menyadari bahwa keajaiban hidup terjadi setiap saat. Keajaiban seperti tumbuhnya bunga di pagi hari, lahirnya seorang bayi ataupun ketika kita bangun tidur dan tetap bisa bernapas!

Manusia memang selalu mengharapkan mujizat istimewa terjadi ketika mereka tersudut. Bagi sebagian manusia, mereka berasa bahwa mujizat dapat memperkuat iman mereka. Tuhan tidak dapat terlihat, namun jika mereka bisa melihat mujizatNya mungkin mereka akan bisa (lebih) yakin bahwa Tuhan itu ada. Begitu mungkin dalih mereka. Tetapi sejarah membuktikan begitu banyak orang yang akhirnya dapat ditipu oleh trik-trik yang dilakukan oleh ahli-ahli sulap, baik diluar gereja maupun didalam gereja. Mereka yang mendapat kesembuhan penyakit yang didatangkan dukun, orang pintar dan pendeta; mereka yang menerima sesuatu setelah melakukan sesuatu tindakan seperti berdoa dengan cara khusus, berpuasa, atau mengunjungi tempat-tempat tertentu.

Masih adakah mujizat itu di jaman ini? Alkitab meyatakan bahwa ada mujizat palsu yang bukan dari Tuhan – baik di Perjanjian Lama (Keluaran 7)  maupun Perjanjian Baru (Kisah 8: 9-25). Alkitab juga menceritakan berbagai mujizat yang dilakukan Yesus dan murid-muridNya. Jadi tidaklah mengherankan jika kita masih juga bisa menemui mujizat palsu dan juga mujizat asli yang datang dari Tuhan di jaman ini. Mujizat istimewa yang datang dari Tuhan mungkin sudah tidak terlalu sering kita lihat saat ini karena  manusia bisa mengenal Tuhan melalui berbagai jalan lain, tetapi di tempat tempat yang terpencil, manusia justru sering menerima mujizat yang berupa intervensi langsung dari Tuhan.

Kita harus sadar bahwa sekalipun ada mujizat, manusia belum tentu bisa menerima atau berserah kepada Tuhan karena kekerasan hatinya. Kalau Tuhan tidak bekerja dalam hidup manusia, ia tidak dapat mengenal Tuhan. Mujizat alam semesta yang kita lihat tiap haripun sekarang sudah kurang bisa dirasakan sebagai mujizat. Sebaliknya, mereka yang selalu mencari mujizat dalam hidup ini, akan mudah jatuh ke dalam perangkap setan. Setan memang mempunyai kemampuan membuat  hal-hal yang diluar kemampuan manusia. Mujizat yang datang dari setan justru membuat manusia jauh dari Tuhan. Mereka yang selalu mencari intervensi Tuhan akan mudah  jatuh kedalam perangkap iblis; mereka akan “ketagihan” mujizat, mendewakan orang atau tempat yang membawa mujizat, dan mereka akan pergi ke tempat-tempat (termasuk gereja) dimana “mujizat” itu terjadi.

Umat Tuhan yang dewasa mengerti bahwa memang kadang-kadang Tuhan meng intervensi hidup kita. Menolong kita, menyadarkan kita atau menguatkan kita. Tetapi sebagai manusia beriman, kita adalah manusia merdeka yang sudah diberikan Roh Kudus yang menguatkan kita hari demi hari. Hidup kita adalah tanggung jawab kita, dan kita tidak bisa mengharapkan mujizat khusus selalau terjadi di depan mata kita. Pengharapan akan mujizat seringkali justru terjadi sebagai manifestasi iman yang lemah, yang tidak mau berserah kepada kehendak Tuhan, dan egoisme, yang selalu ingin untuk mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan. Mereka yang memusatkan imannya kepada mujizat akan mengalami kekecewaan, tetapi mereka yang memusatkan imannya kepada Yesus akan menerima kebahagian sejati. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s