Menabung untuk masa depan?

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” Amsal 6: 6-8.

Hal menabung adalah sesuatu yang tiap orang pernah memikirkan atau melakukan. Pemerintah dan masyarakat umumnya menganjurkan setiap orang memikirkan hari depan dan berusaha menabung uang yang tidak terpakai hari ini untuk keperluan masa depan. Di negara barat, gaji diterima tiap dua minggu sekali tetapi tagihan sering datang sebulan atau setahun sekali. Tanpa uang tabungan orang akan harus berhutang untuk melunasi tagihan!

Gerejapun kadang menabung untuk rencana proyek pengembangan sarana atau misi khusus. Ini biasanya dilakukan dalam kurun waktu yang relatip pendek sesuai dengan rencana anggaran gereja. Lain halnya dengan beberapa gereja dan pendeta tertentu yang giat menggalakkan tabungan khusus untuk “proyek istimewa” seperti membangun gedung gereja super mewah atau membeli mobil mewah/pesawat terbang kepentingan pribadi.

Soal menabung sebenarnya soal pelik karena ada ayat-ayat yang menganjurkan kita untuk menabung, tetapi ada juga yang menganjurkan kita untuk tidak kuatir akan kebutuhan masa depan.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6: 25

Malahan ada juga ayat menganjurkan kita untuk menabung harta surgawi dan bukannya harta duniawi;

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19-20

Mencontoh apa yang dilakukan semut seperti yang ditulis dalam Amsal 6 diatas, kelihatannya memang menabung untuk maksud baik tidak ada salahnya. Menabung di hari baik untuk persiapan menghadapi masa depan adalah bijaksana. Masalahnya, manusia seringkali tidak dapat membedakan apa yang yang benar-benar dibutuhkan di masa depan dari apa yang diingini. Keinginan manusia memang sulit untuk dipuaskan:

 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya….” Pengkhotbah 5: 10

Sejarah membuktikan bahwa ada banyak orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa karena tidak dapat membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan (1 Timotius 6: 9). Keinginan kita belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita berdoa untuk meminta makanan yang secukupnya untuk setiap hari (Lukas 11: 3). Bukan makanan yang berlebihan, bukan makanan untuk setahun. Prinsip inilah yang harus kita pegang.

Pagi ini biarlah kita bisa diingatkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus tahu bagaimana kita harus menabung:

  • Menabung untuk apa yang kita butuhkan di masa depan adalah baik apalagi kalau disertai dengan keyakinan bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan.
  • Menabung dengan disertai rasa syukur adalah baik, tetapi menabung dengan rasa kuatir menunjukkan kelemahan iman kita.
  • Berhati-hatilah jika  kita menabung untuk apa yang kita ingini karena keinginan manusia seringkali belum tentu disukai Tuhan.
  • Menabung hanya untuk kepentingan diri sendiri adalah dosa. Apa yang kita punya datangnya dari Tuhan dan harus bisa dipakai untuk kemuliaanNya dan untuk bisa menolong sesama.

Menabung itu tidak mudah. Tidak setiap orang bisa menabung dan tidak semua orang bisa merasa puas dengan tabungannya. Apalagi orang sering tidak tahu bagaimana menggunakan tabungannya. Buat kita orang Kristen, adalah tantangan bagi kita  untuk bisa merasa cukup  dan untuk bisa bersyukur kepada Tuhan dalam semua keadaan!

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12-13

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s