Asal Bapak Senang?

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6: 46

Pada masa Orde Baru, tersohor sebuah ungkapan Asal Bapak Senang (ABS). Biasanya, sebutan itu digunakan sebagai sindiran atau ungkapan sarkastik untuk menanggapi adanya laporan dari bawahan untuk para bos atau atasan. Laporan yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan, tapi direkayasa agar atasan senang. Pokoknya asal bapak (bos/atasan) senang melihat laporan dari tugas-tugas yang diberikan bawahannya. Budaya ABS ini mungkin sudah jauh berkurang sekarang karena adanya kontrol yang lebih ketat, terutama dengan majunya pendataan dan laporan elektronik, dan juga karena adanya sosial media. Orang mungkin lebih segan untuk menggunakan taktik ABS karena takut terbongkar kedoknya (karena atasan sekarang sudah lebih sukar dibohongi) dan kuatir menjadi bahan tertawaan publik.
Celakanya, di kalangan umat Kristen budaya ABS ini masih ada dan bahkan makin marak. Lho? Ya, memang banyak orang yang ke gereja dan menyanyikan lagu pujian, berdoa dan mengucapkan “kata-kata rohani” seperti shalom, amin dan haleluya, tapi itu hanya untuk ABS (Asal Bapa disurga Senang). Juga sering sering orang memanggil-manggil Abba, Tuhan dan Yahwe dengan mesranya setidaknya pada hari minggu, hari kudus, hari berkelakuan baik. Sepertinya agar Tuhan itu senang dengan pendekatan kita, walaupun hidup kita sehari-hari sebenarnya kacau dan berantakan. Lebih dari itu, di zaman ini banyak “menteri-menteri” kerajaan Tuhan yang rajin sekali melaporkan dan mempopulerkan hasil kerjanya baik itu berupa banyaknya orang yang mau datang ke gerejanya, yang mau menyumbang dana besar untuk gerejanya, yang menerima kesembuhan karena doanya, dsb. Pasti Tuhan akan senang mendengar laporan dari anak-anakNya!

Ayat diatas secara tegas mengungkapkan perasaan Yesus yang resah karena adanya orang yang bermanis-manis kepadaNya tetapi tidak mau menuruti apa yang diperintahkanNya.  Jika mungkin untuk manusia membuat pernyataan dan laporan palsu dan setengah palsu sekedar untuk memuaskan atasan-atasan mereka di dunia, manusia tidak dapat membohongi atasan mereka yang di surga karena Dia adalah Tuhan yang maha tahu. Tidaklah mungkin bahwa Tuhan bisa kita bohongi dengan laporan-laporan kehidupan kita yang palsu, yang tidak berdasarkan data yang benar. Sia-sialah kita bersikap sopan dan hormat kepada Tuhan jika tingkah laku kehidupan kita di dunia ini mempermalukan Dia yang maha suci.

Iman Kristen memang unik karena hanya dengan iman kita diselamatkan, dan itu bukan karena perbuatan kita. Tetapi itu bukan berarti kita bisa menjadi persembahan yang hanya harum di luar tetapi berbau busuk di dalam. Bukan berarti bahwa kita bisa menjadi orang Kristen yang nampak indah cemerlang dalam penampilan luar kita tetapi gelap gulita dalam kehidupan sehari-hari kita.Bukan juga berarti kita bisa jujur dalam lingkungan gereja tetapi culas di dalam hidup bermasyarakat.

Begitu banyak orang Kristen yang berpedoman asal Tuhan senang, peduli amat dengan orang lain. Tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Yesus:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30-31

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak dapat kita tipu dengan laporan-laporan kehidupan yang tidak benar, tidak lengkap atau yang sudah direkayasa. Tuhan tahu jika kita berlagak kasih dan hormat kepadaNya tetapi tidak mempunyai rasa kasih dan hormat kepada sesama kita. Tuhan tahu jika kita seolah mau bekerja keras untuk Dia tetapi tidak mau mempedulikan kebutuhan keluarga kita sendiri. Tuhan bisa melihat jika kita hanya mengasihi sesama orang Kristen dan bukannya sesama manusia. Di lain pihak, Tuhan juga tahu jika kita hanya berusaha menyenangkan orang-orang tertentu dan bukannya berusaha untuk menaati perintah Tuhan.

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Kolose 3: 22

Marilah kita bersama berusaha hidup dengan jujur di hadapan Tuhan kita yang maha tahu dengan menaati segala perintahNya, supaya dalam setiap saat dan keadaan kita bisa memanggilNya Tuhan tanpa keraguan dan kecanggungan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s