Aduh mak, kepala sakit!

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6: 25

Siapakah yang tidak pernah stress dalam hidup di dunia? Semua orang pasti pernah mengalaminya. Adalah kenyataan bahwa manusia jaman sekarang, terutama di dunia Barat, mengalami stress adalah hal yang sangat umum sehingga konsumsi obat penenang, pain killer dan minuman keras makin meningkat. Keadaan bertambah parah dengan data-data yang menunjukkan bahwa anak mudapun sekarang mengalami stress yang luar biasa dalam hidup mereka.

Pada tahun 60an,  murid SD umumnya hanya mementingkan soal belajar menulis, membaca dan berhitung. Hidup sebagai murid SD saat itu cukup nyaman. Saat itu, murid SD hanya belajar bahasa Indonesia dan tidak perlu belajar bahasa Inggris atau bahasa lain. Saya waktu itu hanya punya buku teks bahasa Indonesia karangan Purwadarminta. Buku “Bahasaku” berisi pelajaran bahasa yang pada umumnya berisi teks dan pertanyaan, dan juga mempunyai latihan-latihan yang sekarang mungkin lebih dikenal dengan sebutan pelajaran tata bahasa.

Di jaman ini, sekolah bisa menjadi tempat yang menakutkan. Sekolah tidak hanya tempat belajar, tapi juga tempat untuk memamerkan pakaian, tas, mobile phone dan bahkan mobil orang tua. Seusai sekolah, kehangatan rumah yang dirindukan mungkin diganti dengan kecerewetan orang tua yang mengingatkan anak untuk mengikuti les tambahan ini atau kursus itu. Belum lagi tumpukan pekerjaan rumah, latihan untuk mengulang pelajaran di sekolah dsb. Tidaklah mengherankan, bila banyak anak-anak mengalami stress luar biasa di sekolah. Alasan sakit kepala, sakit perut dan mules pada jam berangkat ke sekolah sering terjadi karena stress.

Kita yang sudah berumurpun tetap sering mengalami stress. Melihat keadaan di sekitar kita, membayangkan apa yang mungkin terjadi pada kita, anak-cucu dan masyarakat kita di masa depan, bisa membuat sakit kepala dan depresi. Apalagi, dengan meningkatnya umur, kemampuan fisik, mental dan materiil mungkin sudah mulai terasa berkurang. Akibatnya rasa kuatir, takut dan sedih mungkin meningkat dan menjadi stress.

Sebagai manusia, merasa kuatir, takut dan sedih adalah normal. Stress adalah reaksi manusia terhadap berbagai “stressor”, hal-hal yang menantang kita. Mengabaikan adanya masalah, resiko dan bahaya adalah kebodohan dan kesembronoan. Yesuspun mengalami stress ketika Ia berdoa di taman Getsemane, sampai-sampai keringatnya bercucuran seperti darah (Lukas 22: 44). Yesus karena itu dapat memahami bagaimana manusia dalam kelemahannya sering mengalami stress.

Pagi hari ini kita diingatkan bahwa ada banyak hal yang bisa membuat kepala kita sakit. Tetapi, seperti Yesus yang telah menang, kitapun bisa menang kalau kita menyadari apa yang terjadi dalam hidup kita dan tahu bagaimana cara menghindari atau mengatasinya:

  1. Dosa dan kesalahan masa lalu: sering membuat manusia tidak bahagia hidupnya. Stress bisa diakibatkan oleh kenangan masa lalu yang belum terhapus sampai sekarang. Mungkin stress adalah peringatan Tuhan agar kita mau meminta ampun akan hal-hal itu. Tetapi jika kita sudah meminta ampun dan mengubah hidup kita, mintalah pertolongan Tuhan untuk penguatan dan perlindungan dari tuduhan-tuduhan iblis.
  2. Kekuatiran akan sesuatu yang belum (tentu) terjadi: seringkali menguji iman kita. Stress dalam hal ini bisa mengingatkan kita agar kita diam dan mengakui bahwa Allah kita adalah Allah yang berkuasa.  Kita harus menyerahkan segala kekuatiran kita kepadaNya sebab Ia yang memelihara kita.
  3. Kebutuhan akan sesuatu: sering membuat kita mempertanyakan apakah yang akan Tuhan lakukan di masa depan. Yesus berkata bahwa kita tidak perlu kuatir akan apa yang hendak kita makan atau minum, atau apa yang hendak kita pakai.
  4. Keinginan untuk menonjolkan keberhasilan: kecenderungan untuk “show” bisa membuat manusia menjadi sombong dan rakus. Tuntutan untuk mendapat pujian dari orang disekeliling kita lambat laun akan mejadi obsesi. Kekuatiran kalau popularitas jadi menurun bisa membuat manusia jadi stress.
  5. Hidup yang kurang berdisplin: bisa membuat tubuh kita lemah. Ada banyak orang kristen yang ingin melayani Tuhan dengan sepenuh hati tapi terjerumus dalam kesibukan-kesibukan yang diluar kemampuan. Akibatnya keluarga berantakan, hubungan orang tua dan anak menjadi dingin dan tubuh kitapun jadi lelah karena kurang tidur atau isirahat.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  1 Petrus 5: 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s