Amin?

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  Filipi 4: 6


Amin!

Kata “amin” mungkin sering kita dengar atau ucapkan, pada akhir sebuah doa atau jika kita ingin mengiyakan ucapan teman. “Amin” adalah sebuah kata yang benar-benar serius artinya, tetapi banyak orang mengucapkannya seolah dengan santai dan bahkan untuk sekedar humor. Kata ini muncul dalam Alkitab, baik PL maupun PB, berulang kali. Tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam hal-hal ritual yang lain. 

Kata “amin” juga diucapkan untuk mengakhiri doa Bapa kami (Matius 6: 9-13). Seirama dengan isi doa itu, kata itu bisa diartikan “biarlah itu terjadi seperti yang dikendaki Tuhan”. Kata yang sama dengan arti yang serupa muncul dalam bahasa Ibrani, Arab dan Aramaik dan karena itu dipakai dalam agama Judaisme, Kristen dan Islam.

Walaupun kata “amin” nampaknya mengandung arti yang baik, banyak orang Kristen yang kurang memahami arti dan konsekuensinya, terutama dalam sebuah doa permohonan. Seringkali orang mengucapkan kata ini sebagai mantra dengan maksud “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.  Agaknya, doa yang demikian adalah daftar keinginan kolektif yang kita setujui bersama agar dilakukan Tuhan.

Doa adalah sebuah komunikasi langsung antara umat percaya dengan Tuhannya. Dalam ayat diatas, kita dianjurkan untuk berdoa dan memohon pertolongan Tuhan dengan bersyukur dan bukannya hidup dalam kekuatiran. Tetapi, bukankah Tuhan sudah tahu apa yang kita perlukan dan bahkan tahu apa yang akan kita doakan? Untuk apa berdoa dan untuk apa mengamininya?

Doa yang berakhir dengan kata “amin” sebenarnya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika doa kita berakhir dengan kata “amin”, itu seharusnya berarti “jadilah seperti kehendakMu” dan bukannya “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.

“Amin” juga dapat diartikan sebagai “dengan sesungguhnya”. Dalam doa kita dengan sejujurnya benar-benar mengakui Tuhan dengan segala atributNya. Dengan sesungguhnya kita juga mengakui kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Doa dengan kata amin seharusnya juga merupakan penyerahan seluruh hidup kita kepada pimpinanNya.

Pagi ini jika kita berdoa dan mengakhiri doa kita dengan kata “amin”, hendaknya kita sadar bahwa kata ini bukanlah dimaksudkan untuk berbunyi “kabulkanlah doaku”; tetapi sebaliknya berarti “aku menyerahkan hidupku”. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kita!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s