Pilih jadi macan atau gajah?

“Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 22: 6

Satu hal yang sangat sukar dipelajari adalah bagaimana menjadi orang tua yang baik. Memang ada banyak buku dan teori yang bisa dibaca, tapi untuk mempraktikkan dengan benar dan mencapai hasil yang baik adalah sulit. Banyak orang tua yang merasa sudah banyak berkorban waktu, biaya dan perasaan, tetapi anak-anaknya tetap saja tidak dapat menjadi seperti yang diharapkan.

Amy Chua adalah seorang profesor Amerika yang mengajarkan untuk mendidik anak dengan disiplin tinggi. Anak yang tidak mau belajar misalnya, akan dihukum dengan mengurangi jatah mainan atau hiburan. Banyak orang barat yang tidak setuju cara mendidik yang sedemikian. Tetapi sebaliknya banyak orang Asia yang setuju. Ibu yang “galak” terhadap anaknya diberi julukan “tiger mum” atau “ibu macan”, dan cara mendidik yang sedemikian disebut “tiger parenting” atau “mengasuh anak gaya macan”. Anak-anak yang dididik sedemikian, sering mencapai hasil yang tinggi dalam pendidikan.

Kebalikan dari “ibu macan”, ada orang-orang yang menganjurkan untuk memakai prinsip “ibu gajah” yang menganjurkan orang tua untuk lebih membesarkan hati, membimbing, dan menuntun anak-anak mereka. Seperti seekor gajah yang melindungi anaknya, dengan selalu berjalan bersama anaknya kemana saja. Anak-anak yang dididik dengan cara ini diharapkan bisa mempunyai rasa bahagia yang lebih besar dalam hidup walau tidak mencapai prestasi tinggi.

Mana yang benar? Mendidik anak seperti macan atau gajah? Sangat lucu bahwa dalam diskusi “jurus macan” vs. “jurus gajah”, orang sepertinya mau belajar cara mendidik hewan dan bukannya manusia. Bagaimana cara mendidik manusia dengan benar, mungkin tidak lagi menarik perhatian. 

Alkitab dalam kitab Amsal memberi banyak pedoman untuk mengajarkan bagaimana seorang anak bisa belajar untuk menjadi orang yang berhasil dalam hidup mereka. Amsal juga jelas menunjukkan bahwa kunci pendidikan adalah bukan didasarkan pada prinsip macan atau gajah, tetapi pada iman:

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Amsal 1: 7

Bagi kita yang masih mempunyai kesempatan untuk mendidik anak cucu kita, kita harus kembali kepada prinsip-prinsip Alkitabiah. Dengan prinsip yang benar, kita juga akan dapat mengarahkan kaum muda sehingga mereka mengerti bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dengan banyaknya gelar, harta atau kemasyhuran; tetapi dengan eratnya hubungan kita dengan Tuhan. Bahwa sumber kebahagiaan adalah iman. 

Bagi kita yang sudah mengalami pendidikan jaman dulu, gaya hidup kita mungkin sudah terpengaruh oleh apa yang kita anggap benar pada waktu itu. Barangkali kita sendiri sudah menjadi seperti macan atau gajah yang hidup di hutan rimba. Mungkin kita sudah puas dengan apa yang kita capai:  kebahagiaan semu. Tapi mungkin juga kita masih mencari apa arti keberhasilan atau kebahagiaan itu. Pagi ini kita diingatkan bahwa bagi kita masih ada kesempatan untuk belajar lagi melalui firman Tuhan tentang apa yang benar-benar baik dalam hidup ini: bahwa hidup menurut perintahNya akan memberi rasa sejahtera dalam hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s