Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku?

Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.”  1 Samuel 1: 20

“Tuhan belum menjawab doaku” adalah keluhan umum manusia. Setelah lama menunggu, rasa berharap mungkin diganti rasa kecewa karena seolah Tuhan mengabaikan doa kita. Mungkinkah Ia tidur, terlalu sibuk atau sekedar mengabaikan aku? Apakah Ia marah kepadaku? Apakah Ia sudah menentukan apa yang terjadi dalam hidupku? Apakah doaku sia-sia?

Dalam kitab 1 Samuel 1, ada seorang wanita yang bernama Hana yang mengalami hal yang serupa. Bertahun-tahun ia menantikan datangnya seorang anak, tetapi apa yang diharapkan tidak kunjung datang. Tetapi ia tetap saja berdoa untuk pertolongan Tuhan sekalipun kelihatannya sudah tidak ada kemungkinan dan orang disekelilingnya tidak mendukung doanya. Untuk apa ia berdoa kalau segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan? Hana percaya bahwa Tuhan mempunyai maksud lain.

Hal berdoa adalah satu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh semua umat beragama sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan yang mereka kenal sebagai tuhan. Dengan ritual dan cara mereka masing-masing mereka berdoa, dan dengan keterbatasan pengertian, mereka mencoba mengerti siapa tuhan itu dan berharap doa mereka didengar tuhan mereka.

Jika kita memperhatikan doa manusia manapun dan dimanapun, kebanyakan itu merupakan permohonan. Bukan pujian atau percakapan. Kalaupun ada pujian, itu sekedar pembuka kata saja. Tidaklah mengherankan bahwa sekalipun doa adalah bentuk komunikasi dengan sang pencipta, seringkali doa adalah “shopping list” atau daftar belanja manusia. Karena itu seringkali dalam doa kita salah alamat karena apa yang kita temui mungkin bukan Tuhan. Tuhan yang mahasuci hanya bisa didekati dengan iman dan cara yang benar. 

Tuhan mengasihi kita dan ingin supaya manusia sadar akan ketergantungannya. Doa yang benar adalah penyerahan total kepada Tuhan. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Kita harus bisa  memohon agar Tuhan memberi apa yang terbaik untuk kita. Apa yang kita benar-benar butuhkan. Masalahnya, kita sering tidak dapat membedakan apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita inginkan seringkali hanya untuk kepentingan kita, tetapi apa yang kita butuhkan adalah sesuatu yang bisa memuliakan Tuhan dan mempererat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Kalau kita lihat dalam kisah perjuangan iman Hana, itu jugalah yang dinantikan Tuhan untuk muncul dalam doa Hana.

Mungkin, seperti Hana kita sudah menangis cukup lama. Sudah merasa tertekan dan menderita sejak lama. Kita membutuhkan jawaban Tuhan sekarang juga. Tetapi, berbeda dengan manusia, Tuhan tidak terikat waktu dan Ia tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. RencanaNya adalah sempurna karena Ia tidak dibatasi oleh kelemahan yang dipunyai manusia. Oleh sebab itu, tantangan untuk kita adalah agar kita bisa bersabar dan merasa cukup dalam setiap keadaan, sambil menyerahkan masa depan kita kepadaNya.

Tuhan ingin kita untuk tidak berhenti berdoa untuk bisa mengerti kehendakNya, yang sering tidak sama dengan apa yang kita pikirkan. Untuk dapat menerima apa yang akan diberikanNya, kita tetap harus berkomunikasi denganNya. Hana tidak putus-putusnya berdoa dan ketika Tuhan menjawab doa Hana, itu bukan karena Tuhan menyerah kepada doa permohonan yang bertubi-tubi dari Hana. Tetapi jawaban Tuhan datang pada saat Tuhan melihat bahwa Hana mengerti akan maksud Tuhan.

Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Apa yang kita minta harus bisa memuliakan Tuhan. Jika apa yang kita dapat akhirnya tidak memuliakanNya, berarti bukan Tuhan yang memberi. Jika kita berdoa meminta apa yang kita ingini, dan bukannya memohon agar kehendakNya yang terjadi, doa kita hanya merupakan tuntutan dan bukannya penyerahan. 

Hana pada saat yang tepat melahirkan seorang bayi yang dinamakan Samuel karena Tuhan telah menjawab doanya. Dan kita tahu bahwa Samuel menjadi nabi Israel yang paling terkenal pada jamannya. Samuel dikenal oleh umat agama Yahudi, Kristen dan Islam. Samuel adalah nabi yang mentahbiskan raja Saul dan Daud. Hana diberi berkat yang ternyata jauh lebih besar dari apa yang dimintanya. Biarlah Tuhan dipermuliakan dalam doa-doa kita!

3 pemikiran pada “Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku?

  1. We would do well to reflect on this question, “What has priority? The request of man or the eternal promises of a loving Creator?”
    I’m currently watching a Bible Study group discussion on this subject titled: “The Priority of the Promise”
    hopess.hopetv.org

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s