Untuk apa memberi?

 “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”  1 Yohanes 4: 19

Beberapa hari yang lalu saya membaca semboyan menarik yang berbunyi: “You get what you give, whether it’s good or bad” yang berarti “Kamu akan mendapatkan sesuai dengan  apa yg kamu berikan, tak peduli apakah itu sesuatu yg baik atau yg buruk”. Semboyan yang kelihatannya masuk akal dalam soal memberi. 


Seperti bumerang, begitulah apa yang kita lontarkan akan kembali kepada kita. Jika kita berbuat baik kepada seseorang maka orang lain akan berbuat baik kepada kita, dan jika kita berbuat jahat kepada orang lain, kitapun akan dijahati orang lain. Untuk situasi tertentu, memang ini benar. Tetapi, karena keyakinan serupa ada orang yang berbuat baik dengan tujuan untuk mendapatkan balasan dalam bentuk hal yang baik – kalau mungkin dalam jumlah yang lebih besar, baik dari Tuhan maupun sesama. Pendorong perbuatan baik dalam hal ini mungkin bertalian dengan “takut adanya karma”  dan “kemungkinan mendapat laba”. 

Dalam kenyataan kehidupan manusia, perbuatan baik kita tidak selalu dibalas dengan hal yang baik. Yesus datang dengan maksud baik dan berbuat banyak kebaikan di dunia ini, tetapi Ia justru mengalami penderitaan di kayu salib. Banyak diantara pengikut Yesus juga mengalami hal yang serupa termasuk Petrus dan Paulus. Malahan sebagai pengikut Yesus kita diperingatkan bahwa kita akan mengalami penderitaan di dunia ini (2 Timotius 3: 12). Kalau begitu, apa yang bisa mendorong orang untuk berbuat baik atau memberi?

‎Sebenarnya, selain dua sebab diatas (takut karma dan mencari keuntungan), ada berbagai alasan lain yang mendorong orang untuk memberi atau berbuat kebaikan:

  • Syarat masuk surga: banyak orang yang berpendapat bahwa hanya orang  yang cukup baik yang bisa masuk ke surga. Karena itu berbuat kebaikan dan membagi sedekah adalah keharusan.
  • Kepuasan diri: sering orang memberi karena merasa adanya kepuasan tersendiri karena mereka merasa bisa memberi. Mereka bisa merasakan lebih beruntung dari orang lain.
  • Keinginan untuk dihargai: memberi sering merupakan cara untuk mendapat perhatian dan penghargaan dari masyarakat.
  • Kebiasaan bersosial: banyak orang yang sudah terbiasa dengan hidup bertetangga atau bermasyarakat merasa bahwa memberi adalah seperti adat atau kebiasaan.
  • Rasa kasihan: karena rasa kasihan atas keadaan orang lain, mungkin kita memberi walaupun sebenarnya pemberian itu mungkin tidak bermanfaat.
  • Tidak ada motif jelas: sering orang memberi tanpa tujuan yang pasti karena mereka tidak mau menghabiskan waktu memikirkan hal itu. 

Bagi orang Kristen, memberi adalah hal yang serius, yang memerlukan pengertian yang benar. Allah memberikan anaknya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk mengganti dosa kita. Ini bukti kasih Allah yang mahabesar. Karena itu kasih seharusnya menjadi motif utama pemberian kita, dan bukan mencari kebaikan atau keuntungan untuk diri kita sendiri.

Penebusan Kristus jugalah yang harus menjadi pendorong kita untuk bersyukur kepada Allah dan menyatakan terima kasih kita dalam bentuk perbuatan baik kepada sesama kita. Jelas bahwa pemberian yang benar hanyalah pemberian yang didasari pengertian dan pengakuan akan kasih Allah melalui Yesus Kristus. 

Siapapun yang berbuat baik tanpa iman dalam Yesus sebenarnya tidak menyatakan rasa syukur kepada Allah sumber kehidupan manusia. Hanya persembahan yang disertai rasa syukur yang benar, yang menempatkan Allah sebagai tujuan pernyataan terima kasih kita, akan diterima Allah; seperti Ia menerima persembahan Habel (Kejadian 4: 4).

Memberi bukanlah hal yang mudah karena untuk memberi, kita  harus mengenal Tuhan. Untuk bisa memberi, kita harus mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan. Untuk bisa memberi, kita harus mengakui bahwa Tuhan sudah lebih dulu memberikan kita karunia terbesar dalam Yesus. Karena itu, jika kita belum menerima Yesus sebagai juruselamat kita, semua pemberian dan perbuatan baik kita adalah bukan untuk kemuliaan Allah. 

Jelasorang yang belum menerima keselamatan belum bisa memberi dengan benar. Apa gunanya kita memperoleh seisi dunia ini, dan dengan demikian mampu membaginya kepada seisi dunia, jika kita tidak mengenal Yesus?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 6: 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s