Eh, bisa ndredeg juga…

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Lukas 22: 44

Pernahkah anda merasa takut? Tentunya semua orang pernah merasa takut, walaupun tidak semua orang merasa takut karena hal yang sama. Selain ketakutan karena adanya ancaman dan kekuatiran, orang juga bisa takut karena berbagai hal seperti:

Arachnophobia – takut laba-laba
Ophidiophobia –  takut ular
Acrophobia – takut ketinggian
Agoraphobia –  takut tempat sempit atau ramai
Cynophobia – takut anjing, dll.

Sebagian rasa takut ini mungkin diakibatkan oleh pengalaman masa lalu atau masalah psikologis. Tetapi ketakutan yang lebih nyata adalah ketakutan karena adanya ancaman atau resiko yang besar.

Adanya ancaman atau resiko memang bisa menimbulkan rasa takut. Rasa takut adalah normal untuk semua orang. Malahan, orang yang tidak pernah merasa takut mungkin bukan manusia yang sehat pikirannya. Rasa takut adalah seperti “warning system” atau sistem peringatan yang ditanamkan dalam diri manusia untuk memperingatkan adanya sesuatu yang mengandung resiko besar atau akibat yang serius. 

Yesuspun mengalami rasa takut, bahkan rasa takut yang luar biasa ketika Ia berdoa di taman Getsemane. Di saat menjelang penyalibanNya, Yesus sangat ketakutan dan dalam berdoa, peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Kalau Yesus bisa merasakan ketakutan dalam kesendirianNya, apalagi kita manusia yang lemah ini.


Beberapa hari yang lalu, selagi baru mulai lari pagi, saya dikejar orang yang rupanya bermaksud menghajar saya. Kesalahan saya terhadap dia adalah hanya karena saya melihat ke arah balkoni dimana ia tinggal. Ternyata, ia adalah penyewa apartemen yang akan dikeluarkan karena terlibat dalam pemakaian narkoba tertentu, yang menyebabkan dia selalu marah-marah kepada orang-orang di sekitarnya. Sebagai orang berusia senja, saya tahu diri dan tidak mau meladeni umpatannya. Sayapun meneruskan acara jogging saya, tetapi dia ternyata berusaha mengejar saya. Haruskah saya berhenti dan menghadapi orang itu dengan iman? Saya tahu bahwa orang itu dalam pengaruh obat! Lagipula,  saya takut kalau-kalau ia membawa senjata tajam atau mampu melukai saya. 

Karena adanya rasa takut, saya akhirnya memutuskan untuk terus berlari, dan untunglah orang itu akhirnya bisa saya kecoh sehingga dia kehilangan jejak saya. Rasa takut saya dalam hal ini telah membantu saya untuk menyelamatkan diri. Selain bersyukur atas perlindungan Tuhan, saya juga bersyukur karena saya masih mempunyai pikiran sehat dan rasa takut. Rasa takut jugalah yang menyebabkan saya terus berdoa selama peristiwa itu dan bersyukur sesudahnya.

Rasa takut memang sering dipandang sebagai “negative thinking” oleh banyak orang, termasuk orang Kristen. Sering pembicara-pembicara menyuarakan pesan-pesan untuk mengobarkan semangat jemaat dengan inti bahwa Tuhan selalu menyertai setiap langkah kita. 

Adalah kenyataan hidup bahwa sebagai orang percaya, belum tentu langkah kita selalu menuruti kehendak Tuhan. Adalah kenyataan bahwa dinamika kehidupan ini sering muncul dalam bentuk yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki Tuhan.  Biarpun kita ingin berjalan sesuai dengan kehendakNya, sering kita jatuh dalam dosa mengikuti keinginan diri sendiri (Roma 7: 18). Sering juga kita memilih jalan yang keliru karena itulah yang diterima dalam lingkungan kita. Jika begitu, patutkah kita selalu yakin bahwa setiap usaha dan tujuan kita selalu berhasil dengan baik? Patutkah kita maju ke depan dengan keberanian?

Rasa takut memang sering dipandang sebagai usaha iblis untuk membuat umat Tuhan kurang beriman. Padahal rasa takut itu seharusnya sudah ada sejak ada dalam penciptaan terutama dalam hal takut kepada Tuhan dan takut melanggar perintahNya. Rasa takut memberi kesadaran bagi manusia untuk mengerti akan keterbatasannya dan menyadari adanya Tuhan yang mahakuasa. Rasa takut membuat kita kembali kepada Tuhan dan mencari kehendakNya.

Memang banyak ayat Alkitab yang menyatakan keberanian jika Tuhan dipihak kita, contohnya:

“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Mazmur 118: 6

Walaupun demikian, untuk bisa tidak takut kita harus yakin jika Tuhan memang di pihak kita, dan percaya bahwa kita berjalan sesuai dengan kehendakNya

Adalah lumrah jika kita takut ketika kita harus mengambil keputusan besar, sewaktu kita merasa tidak pasti apakah itu sesuai dengan kehendakNya; atau ketika harus menghadapi sesuatu hal rumit sewaktu kita belum yakin apakah itu memang harus terjadi. 

Yesus takut sewaktu di taman Getsemane karena Ia sadar bahwa penderitaan yang besar akan terjadi atas diriNya, karena sebagai anak Allah Ia akan dipisahkan dari kasih Bapa. Haruskah itu terjadi? Ia bisa saja menolak tugas penyelamatanNya, namun Ia menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Bapa. Ia mengalami ketakutan tetapi menghadapinya dengan pendekatan yang benar. Ia mengatasi ketakutan dengan penyerahan kepada kehendak Bapa (Lukas 22: 42). Dalam ketakutan dan penyerahan, ada pertolongan dan penguatan dari surga.

Mungkin kita tahu bahwa banyak orang di jaman ini memakai semboyan “Fearless” atau “No Fear”. Mereka dianjurkan untuk tidak mempunyai rasa takut atas tantangan hidup dan kesulitan yang mereka temui. Semboyan ini sayangnya sering disalahgunakan, karena artinya seringkali ditafsirkan sebagai “tidak takut kepada apapun atau siapapun”. Sebagai akibat paham hidup demikian, makin banyak orang yang merasa yakin bahwa hidup mereka ada dalam tangan mereka sendiri. Ini jelas bertentangan dengan pengajaran Alkitab yang menyatakan bahwa mereka harus takut kepada Tuhan dan tunduk kepada pimpinan dimanapun mereka berada. Mereka harus takut untuk berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum atau kehendak Tuhan.

Banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa Tuhan senantiasa mendampingi mereka dalam hal apapun yang mereka kerjakan. Ini tidak berbeda dengan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang dunia, yang buta akan kebenaran. Mereka yang bermodal kenekadan dan senang membuat kekacauan. Sebaliknya, orang Kristen yang bijaksana layak takut jika mereka tidak yakin bahwa Tuhan ada di pihak mereka. Kita patut takut untuk berjalan jika kita tidak mengerti apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. 

Karena kehendak Tuhan hanya bisa dimengerti melalui hubungan baik kita dengan Tuhan, kita patut takut kalau kita jarang berkomunikasi dengan Tuhan. Adalah keberanian yang kosong jika kita berjalan melangkah ke masa depan tanpa berusaha menyesuaikan langkah kita dengan langkahNya.  Adalah kebodohan iman jika kita mengharapkan bahwa Tuhan akan menyesuaikan langkahNya dengan langkah kita. Adalah impian jika kita berharap untuk hidup tenteram dengan mengabaikan perintahNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa hanya ketika kita yakin bahwa kita sudah mendengarkan dan menurut perintahNya, bolehlah kita dengan yakin berkata “Fear Not”, jangan takut, karena Tuhan beserta kita. Marilah kita lebih dekat kepadaNya dalam hidup kita, agar kita mengerti kemana kita harus pergi. Jika kita percaya bahwa kita berjalan bersama Yesus, kita akan yakin bahwa ketakutan itu akan lenyap dan diganti dengan kedamaian

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan

dan tangan kasihNya memimpinku.

Di tengah badai dunia menakutkan,

hatiku tetap tenang teduh.

2 pemikiran pada “Eh, bisa ndredeg juga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s