Benarkah cinta itu buta?

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16


Dalam berbagai kisah cinta, kita mungkin pernah membaca adanya sepasang muda-mudi yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka berpendapat bahwa cinta tidak perlu dilandasi pengetahuan tentang cara hidup dan sifat calon pasangannya. Mereka tidak mau tahu akan masalah yang ada, karena bagi mereka cinta itu buta. 

Sebagai salah satu buah Roh, kasih adalah yang paling utama (Galatia 5: 22). Bagaimana kasih itu dapat dilaksanakan? Memang dalam 1 Korintus 13: 5-7 dikatakan bahwa kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Tapi apakah kasih itu hanya bersifat pasif, menutup mata atas keburukan dan kejahatan orang lain? Apakah kasih itu menerima keadaan orang lain tanpa berbuat apa-apa? Apakah kasih itu buta?

Dalam ayat Yohanes 3:16 yang dikenal oleh umat Kristen dan juga yang bukan Kristen, Tuhan yang mahakasih ditulis sebagai Tuhan yang sangat mencintai  dunia ini, sehingga Ia mengurbankan Yesus Kristus di kayu salib, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya bisa memperoleh  hidup yang abadi. Apakah kasih Tuhan itu buta?

Kalau kita menelusuri ayat-ayat Alkitab, tidak ada tanda sedikitpun yang menunjuk bahwa Tuhan itu tidak tahu atau menutup mata terhadap keadaan manusia, baik secara individu maupun kelompok. 

“Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.” Mazmur 69: 6

Standar kesucian Tuhan adalah terlalu tinggi untuk semua orang. Semua orang sudah berdosa dan seharusnya menerima hukuman mati. Justru karena itulah Tuhan melihat bahwa semua manusia membutuhkan pertolonganNya.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kasih Tuhan bukannya buta.  Tuhan melihat manusia yang tidak punya harapan, tetapi Ia mengulurkan tangan kasihNya agar manusia dapat meraihnya. Karena itu, semua manusia yang sudah diselamatkan harus juga bisa melihat keadaan manusia di sekitar kita dan berusaha untuk menolong mereka dengan kasih yang serupa. 

Kasih bukannya hanya menerima keadaan seseorang dan tidak berbuat apa-apa. Kasih itu tidak pasif. Kasih itu tidak buta. Kasih memungkinkan kita melihat kebutuhan orang lain baik jasmani maupun rohani; dan jika kita mempunyai kasih, kita akan mau dan bisa menolong mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s