Setia sehidup semati

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Barangkali ada di antara kita yang tahu kisah cinta Tiongkok kuno yang berjudul Sam Pek Eng Tay, yang ada miripnya dengan kisah Romeo dan Juliet. Kisah cinta  ini adalah tentang gadis Eng Tay dengan perjaka Sam Pek. Sayang hubungan ini tidak disetujui oleh ayah Eng Tay yang kejam.  Cerita ini berakhir dengan tewasnya Eng Tay, menyusul kematian Sam Pek yang disebabkan oleh ayah Eng Tay. Cerita ini sangat terkenal karena, sekalipun tidak perlu ditiru, seolah melambangkan cinta sejati sehidup semati antara sejoli. Memang, jika dibandingkan dengan kisah cinta dan kesetiaan orang di jaman ini yang seringkali didasarkan pertimbangan untung-rugi, kisah ini sangat berkesan.

Lain kisah cinta khayalan, lain pula kenyataan hidup. Tuhan mengasihi umatnya bagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya (Efesus 5: 25). Tetapi banyak orang Kristen yang kurang sadar bahwa hubungan kita dengan Yesus adalah “sehidup semati”, yang disini bisa diartikan selama hidup dan sesudah mati. Selama kita hidup di dunia,  kita hidup bersama RohNya; dan sesudah kita mati, kita ke surga untuk menjumpai Dia. Untuk itu kita membutuhkan kemampuan untuk bisa setia (faithful) kepada Tuhan sampai akhir.

Kesetiaan (faithfulness) yang merupakan buah Roh Kudus (Galatia 5: 22-23) pada satu pihak adalah kepercayaan (faith) bahwa Yesus setia kepada janjiNya untuk menyertai kita selama-lamanya.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b.

Ayat ini menunjuk kepada kesetiaan Yesus kepada umatNya, yang dengan senang hati kita terima. Bagaimana tidak? Ini adalah keuntungan dan tidak ada ruginya. Yesus menjanjikan kasihNya tanpa batas waktu dan dalam keadaan apapun. Tidak terlalu sukar bagi seseorang untuk menerima sebuah pemberian berharga ini dengan rasa senang.

Pada pihak yang lain, kesetiaan juga berarti bahwa kita harus mengasihi Yesus dan melaksanakan perintahNya. Kita harus memberikan tanda kasih kita kepada Yesus yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Inilah yang berat bagi banyak orang untuk melakukannya, termasuk orang Kristen. Memang, bagi manusia, menerima adalah lebih mudah daripada memberi.

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Pagi ini kita diingatkan bahwa untuk terhitung sebagai anggota keluarga Allah, kita harus mempunyai kesetiaan kepada Yesus. Tidak hanya percaya kepada janjiNya, tetapi juga hidup seperti yang dikehendakiNya. Kesetiaan dalam imsn yang tulus tidak mungkin timbul dari hati manusia karena dosa yang selalu mendorong manusia untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tetapi, Roh Kudus sudah diberikan kepada setiap orang percaya supaya setiap orang bisa tumbuh kuat dalam kesetiaan kepada Kristus.

Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Markus 3: 33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s