Kebal karena terbiasa

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Seingat saya, setiap kali saya sekeluarga mengunjungi Indonesia di akhir tahun, selalu ada banyak nyamuk yang beterbangan siang dan malam. Bagi saya, gigitan nyamuk itu tidak terlalu terasa. Tetapi, untuk anak-anak saya, gigitan satu nyamukpun bisa membuat kulit mereka gatal membengkak. Mungkin mereka kurang “kebal” karena tidak terbiasa.

Seperti gangguan nyamuk yang makin menjadi di akhir tahun, banyak orang yang berpendapat bahwa keadaan dunia ini semakin buruk saja. Berita perang, kerusuhan, terorisme, bencana alam, kecelakaan dan kejahatan tiap hari muncul di berbagai media. Belum lagi berita tentang perselingkuhan, korupsi dan kepincangan sosial lainnya. Tetapi, dengan itu kita juga melihat bahwa karena seringnya hal-hal itu muncul, orang menjadi kurang peka. Mereka yang menonton laporan di TV misalnya, hanya tertarik karena “faktor luar biasa”.

Yesus dalam Matius 24: 12 diatas berkata bahwa karena makin bertambahnya kejahatan, maka kasih manusia umumnya akan menjadi dingin. Manusia akan kebal terhadap kejahatan dan perbuatan amoral yang ada sehingga mereka tidak lagi mempunyai kasih yang murni (Agape) kepada orang di sekitarnya. Orang mungkin masih mempunyai perhatian kepada sesamanya, tetapi itu hanya upaya untuk meningkatkan kenyamanan hidup, keamanan diri sendiri atau kebanggaan pribadi. Selama gigitan nyamuk tak terasa, hidup berjalan seperti biasa!

Bagi manusia, memberi kasih yang murni tanpa pamrih adalah mustahil karena dosa yang selalu mendorong manusia untuk menaruh kepentingannya diatas kepentingan orang lain. Dosa jugalah yang membuat orang bisa “berbuat baik” tanpa mempunyai kasih. Bagaimana itu bisa terjadi?

Kitab 1 Korintus 13: 4-6 menjelaskan bahwa orang yang mempunyai kasih Agape dari Tuhan akan mempunyai sifat-sifat ini:

  • Sabar, murah hati, tidak cemburu.
  • Tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
  • Tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
  • Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
  • Tidak tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Pagi ini kita harus menanyai diri kita sendiri apakah kita sudah kebal karena terbiasa dengan hidup dalam lingkungan kita. Atau masih maukah kita untuk mempersilahkan Roh Kudus agar tetap bekerja dalam hidup kita sehingga kita bisa mempunyai kasih yang murni, kasih yang mau membimbing dan memperbaiki hidup masyarakat di sekitar kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s