Istri bahagia, hiduppun nyaman?

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” 1 Petrus 3: 7

Dalam hal menghormati kaum wanita, ayat diatas mengatakan bahwa pria dan wanita adalah sama-sama pewaris karunia kehidupan Allah, dan karena itu mereka harus mempunyai hubungan yang baik. Tetapi bagaimana mereka bisa membina hubungan itu?

Ada yang mengajarkan bahwa kunci hubungan suami dan istri adalah kemauan suami untuk bisa membahagiakan istri yang lebih lemah karena jika istri senang, hidup pun jadi nyaman. Happy wife, happy life.

Benarkah wanita itu kaum yang “lemah” yang perlu “dimanjakan”? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena memerlukan definisi kata “lemah” dan “dimanjakan”.

Di zaman sekarang, ayat diatas memang sering dirasakan agak ganjil baik oleh kaum wanita yang tidak mau dianggap lemah seperti Hawa yang tergoda bujukan ular, maupun oleh kaum pria yang merasa diharuskan mengalah kepada kaum wanita. Adalah kenyataan hidup di zaman ini bahwa wanita tidak selalu kalah dari pria atau lebih lemah. Malahan, kita sering melihat wanita sebagai “orang kuat”pemimpin negara, misalnya Margaret Thatcher, Megawati Soekarnoputri dan Angela Merkel.

Memang secara umum, terlihat bahwa dalam soal tenaga wanita tetap tidak sekuat pria, tetapi umur wanita secara umum lebih panjang dari umur pria! Wanita dan pria nampaknya punya keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Keduanya bisa saling melengkapi, seperti tujuan penciptaan pada mulanya yaitu untuk memuliakan Tuhan.

Dalam hal “memanjakan”, memang secara logis jika seorang suami bisa membahagiakan istrinya, sang istri mungkin akan lebih bisa mendukung sang suami dan ini bisa membawa keharmonisan dalam hidup rumah tangga. Tetapi, siapakah yang bisa menjamin adanya kebahagiaan pada diri orang lain?

Kebahagiaan tumbuh dalam hati seseorang, bukan dari luar. Sekalipun seseorang berusaha keras untuk membahagiakan orang lain, kebahagiaan dan kepuasan belum tentu terjadi. Malahan usaha manusia untuk membahagiakan orang lain itu sebenarnya keliru karena kebahagiaan sejati berasal dari hubungan yang baik antara manusia dan Tuhan.

Hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhan tidak dapat disaingi dengan hubungan baik antar manusia. Tetapi hubungan kasih antara suami dan istri, yang saling menghargai satu dengan yang lain, bisa memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan jika mereka sehati dan mengutamakan Tuhan. Dari situlah kebahagiaan keluarga akan terbentuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s