Antara kasih, simpati dan empati

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” 1 Korintus 13: 3

Masih ingat lagu anak-anak jaman dulu yang berjudul “Kasih Ibu”? Lagu sederhana ini gampang dinyanyikan dan singkat syairnya:

Kasih ibu, kepada beta; tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi; tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia.

Kasih memang kata yang indah dan sering disebutkan sebagai suatu jenis cinta yang murni, tanpa pamrih atau maksud yang kurang baik. Dalam Alkitab kita mengenalnya sebagai Agape.

Kalau dalam bahasa Inggris kata “love” bisa dipakai untuk cinta, kasih, sayang maupun rasa suka, menurut bahasa Yunani ada empat kata untuk kata “kasih/ cinta”. Agape adalah kasih yang tak bersyarat, eros adalah kasih yang menginginkan, philia adalah kasih antara sahabat/ saudara, dan storge adalah ungkapan kasih kodrati, seperti antara orang tua kepada anak (ungkapan yang keempat ini jarang digunakan dalam karya tulis kuno).

Dalam kepercayaan Kristen, kasih agape ini adalah yang terbesar dari segala apa yang baik.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13: 13

Kasih adalah satu hal yang paling sukar untuk diterapkan dalam hidup karena selain tanpa pamrih, itu harus berlaku pada setiap saat dan dalam setiap keadaan serta untuk setiap orang. Manusia pada dasarnya tidak bisa mempunyai kasih karena dosa dari awalnya mendorong manusia untuk mementingkan dirinya sendiri. Hanya mereka yang sudah mengenal Allah diberi kemampuan untuk mengasihi sesamanya.

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” 1 Yohanes 4: 8

Kasih adalah cinta yang tidak mengharapkan balasan, tetapi yang diberikan dengan pengharapan agar apa yang diberikan bisa membuahkan sesuatu yang baik. Terlalu sering orang memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa pamrih, tetapi juga tanpa tujuan yang jelas. Terlalu sering “perbuatan kasih” justru membawa hasil yang tidak baik bagi orang yang menerima. Dalam hal ini, terlalu sering orang yang memberi hanya bisa mengangkat bahu, seolah tugasnya hanyalah memberi.

Kasih yang benar adalah bermula dari rasa simpati kepada orang-orang di sekitar kita yang mendorong kita untuk bisa melihat dengan mata jasmani dan rohani kita apa yang menjadi penderitaan mereka. Rasa simpati saja tidak akan membuat kita untuk melakukan suatu tindakan. Karena itu kita perlu juga untuk mempunyai rasa empati, yaitu ikut merasakan apa yang mereka rasakan, dengan menempatkan diri kita sebagai orang yang kita jumpai. Rasa empati memungkinkan kita untuk melihat bukan saja akibat tetapi juga sebab penderitaan mereka, agar kita bisa melakukan tindakan kasih yang tepat. Tindakan ini bisa, tetapi tidak harus berupa pemberian materi. Nasihat, doa, pengajaran, dukungan, pujian dan lain-lain bisa juga kita berikan sebagai tanda kasih kita.

Pagi hari ini marilah kita mengingat bahwa kasih Tuhan sudah dicurahkan kepada kita setiap hari dalam berbagai hal, tetapi Tuhan tahu bahwa apa yang paling kita butuhkan bukanlah hanya harta duniawi untuk menolong orang lain, tetapi kasihNya yang membawa kedamaian dan keselamatan untuk semua orang yang percaya. Itulah yang harus menjadi dasar rasa simpati dan empati, perbuatan kasih kita kepada orang lain.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4: 19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s