Apakah Yesus membawa damai?

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Matius 10: 34

Di zaman modern ini kita bisa melihat begitu banyaknya kemudahan dan kenyamanan yang bisa digunakan manusia. Sejak adanya personal komputer, telepon genggam dan internet, manusia bisa memakai teknologi yang ada untuk berbagai tujuan seperti riset, bisnis, pendidikan, pengamatan, kesehatan, keamanan, pengendalian alat dan sebagainya. Satu hal yang lain yang semestinya bisa dicapai dengan adanya kemajuan teknologi itu adalah terciptanya perdamaian di bumi karena komunikasi antar bangsa dan manusia sekarang bisa dilakukan dengan mudah. Tetapi, dalam kenyataannya teknologi yang ada sering menyebabkan pertikaian, kekacauan, kebingungan dan bahkan mengurangi kedamaian di bumi.

Yesus, Anak Allah yang sudah lahir di dunia ini, juga diharapkan untuk membawa damai diantara umat manusia.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6

Tetapi dalam sejarah kita melihat bahwa banyak pertikaian dan peperangan yang terjadi baik antar agama maupun diantara umat Kristen, dari dulu sampai sekarang. Mungkinkah Yesus bukanlah Raja Damai seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya? Mungkinkah Yesus sebenarnya datang untuk membawa pedang seperti dalam Matius 10: 34?

Pada waktu Yesus menjelaskan bahwa Ia datang untuk membawa pedang, Ia tentu saja hanya memakai kata-kata ini sebagai kiasan saja. Ayat-ayat selanjutnya dalam kitab Matius 10 (ayat 35-42) menunjukkan bahwa karena kedatanganNya, garis pemisah, antara mereka yang mengikut Dia dan mereka yang tidak percaya, sekarang jelas terlihat.

Memang sebagai orang Kristen kita sudah bertekad untuk meninggalkan hidup lama yang terisi oleh berbagai dosa. Dosa yang mungkin sering muncul dalam bentuk perbuatan, pikiran atau perkataan. Tetapi dalam kenyataannya, tidaklah mudah untuk memisahkan diri kita dari hal-hal itu. Dengan memakai kata “membawa pedang” Yesus bermaksud mengatakan bahwa jika kita ingin mengikut Dia, kita harus meninggalkan apa saja yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkanNya.

Dalam memasuki tahun yang baru ini kita seharusnya meneliti hidup kita. Jika kita benar-benar mendambakan adanya rasa damai dalam hidup kita, pertama-tama haruslah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Yesus sudah menebus dosa kita dengan darahNya; apa yang kita perlu lakukan hanyalah menerima uluran tangan Tuhan untuk bersama-sama dengan Dia memasuki tahun ini. Kita harus mempunyai tekad untuk meninggalkan apa yang kurang berkenan kepadaNya. Segala rasa ragu, takut dan kekuatiran dan juga iri hati, kebencian dan kepahitan harus dihilangkan dari pikiran kita. Lebih dari itu, apa yang kita perbuat atau katakan haruslah menunjukkan bahwa kita berpihak kepada Yesus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s