Mungkinkah kita gagal?

“Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Mazmur 73: 26

Tahun baru. Banyak harapan dan impian, begitu juga rencana dan perhitungan, agar segala sesuatu bisa berhasil dicapai di bulan-bulan mendatang. Di gereja pun, banyak khotbah-khotbah yang menekankan penyertaan Tuhan akan umatNya, yang diharapkan untuk membawa keberhasilan. Memang agaknya di awal tahun, biasanya orang ingin bersikap optimis karena tahun yang diawali dengan pengharapan positip adalah baik untuk perjuangan yang akan dihadapi. Barangkali tidak ada seorangpun yang mau bersikap pesimis dan memikirkan adanya kemungkinan untuk gagal di masa depan.

Bagi banyak orang, dan termasuk sebagian orang Kristen, membicarakan kemungkinan kegagalan adalah soal tabu, apalagi di awal tahun. Apalagi jika mereka memikirkan betapa besar kasih Tuhan yang sudah datang ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Tuhan yang maha kasih dan maha kuasa sudah tentu tidak membiarkan umatNya mengalami kegagalan, begitu mungkin pikiran mereka. Tetapi jika masalah hidup benar-benar muncul di masa mendatang, mereka mungkin akan bingung mencari sebabnya. Mengapa itu harus terjadi? Adakah sesuatu yang tidak benar yang terjadi?

Apakah orang yang hidup menurut Firman adalah orang yang selalu dikasihi Tuhan? Apakah orang yang beriman adalah anak-anak Tuhan? Pertanyaan semacam ini tidak perlu diragukan akan dijawab “ya” oleh semua orang percaya. Karena itu jugalah, sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mengasihi orang yang hidupnya benar, akan memberi mereka kesuksesan dalam tahun yang baru ini. Jika ada hal yang kurang baik dalam hidup mereka, itu pasti disebabkan oleh adanya dosa dan kurangnya iman. Suatu pandangan yang keliru!

Hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan untuk seluruh umat manusia. Karena kejatuhan manusia kedalam dosa, hanya dengan bersusah payah manusia akan mencari rezeki dan dengan berpeluh mereka akan mencari makanan sampai mereka kembali lagi menjadi tanah (Kejadian 3: 17-19). Dengan itu, setiap manusia, baik yang tidak beriman maupun yang beriman, bisa menemui persoalan hidup dan kegagalan. Sebagai manusia mereka tidak mendapat perkecualian dari hukum negara, hukum alam, fisika, hukum kesehatan, ekonomi dan sebagainya. Memang kesalahan yang dibuat manusia bisa menimbulkan masalah, tetapi masalah bisa timbul sekalipun tidak diundang. Jika demikian, apakah keuntungan kita untuk menjadi orang percaya?

Ayat diatas menunjukkan apa keuntungan kita sebagai orang beriman jika kita menghadapi kegagalan atau masalah hidup. Pemazmur menulis bahwa sekalipun daging dan hati kita habis lenyap, Tuhan tetap menjadi sumber kekuatan kita untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa Tuhan menyayangi kita, memberi kita kebijaksanaan, bimbingan, kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi masalah hidup kita. Segala sesuatu terjadi dengan seijin Tuhan untuk menyempurnakan iman kita dan Tuhan yang maha kasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah yang memberikan rasa optimisme yang benar bagi kita untuk menjalani tahun baru ini!

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s