Hal berpikir positif

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 10

Di zaman ini, konsep berpikir positif didengung-dengungkan dalam berbagai media sebagai sesuatu yang hebat, yang bisa menentukan kebahagiaan dan kesuksesan manusia. Dalam pengajarannya, orang dianjurkan untuk memperbaiki segi-segi kehidupannya dengan cara berpikir dan bertindak dengan positif, yaitu dengan kemauan dan keyakinan.

Sebenarnya, berpikir positif tidak ada salahnya jika itu sesuai dengan firman Tuhan dan bukannya mengurangi peran dan kemuliaan Tuhan. Tetapi, itu seringkali tidak terjadi karena orang berusaha memisahkan iman kepercayaan dari akal budi manusia.

Berbagai teknik dan metode hidup positif diajarkan oleh banyak pembicara, motivator dan bahkan pendeta di zaman kini. Itu bukan barang baru. Sejak tahun 1950an Positive thinking yang dipopulerkan oleh Dr. Norman Vincent Peale mengajarkan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan manusia di dunia ada di tangan mereka sendiri.

Prinsip manusia dalam hidup di dunia memang seringkali “seeing is believing“, percaya karena melihat. Apa yang tidak bisa dilihat, manusia sukar untuk percaya. Bagi banyak orang, Tuhan yang tidak terlihat hanya untuk hal surgawi yang akan datang, tetapi untuk hidup di dunia mereka percaya pada hal-hal yang terlihat mata seperti usaha, penampilan dan keberanian. Dan jika mereka tidak melihat adanya hal-hal itu, mereka dianjurkan untuk berpikir positif, membayangkan bahwa semua itu sudah mereka punyai dan siap dipakai. Mereka mungkin lupa bahwa Tuhanlah sumber segala apa yang baik.

Alkitab menceritakan bahwa pada saat Musa naik ke gunung Sinai untuk menerima dua loh batu, bangsa Israel yang sudah lama menunggu merasa tidak sabar. Karena itu, sebagian diantaranya memutuskan untuk membuat sebuah patung anak lembu untuk disembah. Bagi mereka, hidup di dunia yang nyata ini memerlukan ilah yang kelihatan. Kemurkaan Allah atas kebodohan umat Israel itu tidak bisa diukur. Tiga ribu orang Israel akhirnya tewas sebagai hukuman Allah (Keluaran 31-32).

Mereka yang percaya bahwa kebahagiaan dalam hidup dapat dicapai dengan berpikir positif bisa lambat laun kehilangan kesadaran bahwa hidup mereka sepenuhnya bergantung kepada Tuhan yang tidak kelihatan. Karena itu mereka mudah jatuh kedalam pemujaan dan kepuasan atas diri sendiri sebagaimana bani Israel jatuh kedalam pemujaan patung anak lembu.

Bagaimana kita menghadapi ajaran yang secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa manusia berkuasa atas hidupnya? Ayat diatas dari Matius 6: 10 adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang mungkin sering kita ucapkan. Ini bisa kita pakai sebagai pedoman kita dalam berpikir positif. Doa ini dimulai dengan pengakuan akan kebesaran Tuhan, dengan menerima kehendak Tuhan di bumi seperti di sorga. Tuhan adalah Raja kita, baik di surga di masa depan, maupun di bumi di masa kini.

Pagi ini jika kita berdoa, kita diingatkan bahwa sebagai warga kerajaan Tuhan yang memiliki surga dan bumi, kita harus selalu mau berkomunikasi dengan Dia dimana saja dan kapan saja. Kita harus menempatkan firman Tuhan sebagai pelita kehidupan yang bisa secara positif membimbing hidup kita di bumi.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s