Mengasihi bukan dengan hati saja

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Markus 12: 30

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Begitulah bunyi syair sebuah lagu lama. Hati sepertinya adalah tempat dimana cinta berada, dan dari mana cinta memancar. Walaupun demikian, gambar hati yang dipakai sebagai simbol cinta sebenarnya lebih mirip gambar jantung. Bagaimana hati muncul dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan tempat cinta, sedangkan dalam bahasa Inggris kata jantunglah yang dipakai? Itu mungkin karena kebiasaan pemakaian kata yang sudah turun temurun.

Hati atau jantung? Keduanya penting untuk hidup manusia. Apapun kata yang dipakai untuk menunjukkan tempat beradanya cinta-kasih, jelas dari kata itu bahwa cinta harus tumbuh didalam hidup kita. Cinta kasih yang hanya terlihat diluar saja belumlah bisa menjamin kesungguhan jika tidak dimulai dari dalam hidup kita sehari-hari. Sebaliknya, cinta yang dipendam dalam hidup pribadi saja tidaklah cukup karena tidak ada faedahnya untuk orang yang dicintai. Cinta juga harus memancar keluar dari hati kita.

Ayat diatas adalah bagian yang pertama dari hukum yang paling utama, the greatest commandment, dalam Alkitab. Seluruh umat Kristen mengerti bahwa perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia adalah satu perintah utama yang harus dijalankan dalam menjalani hidup di dunia ini. Walaupun perintah untuk mengasihi Tuhan sangat penting, dalam kenyataannya banyak orang Kristen yang tidak mau memikirkannya dalam-dalam.

Perintah untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, jelas jauh lebih sulit dari perintah untuk mengasihi sesama manusia yang bisa kita lihat. Apalagi ada empat persyaratan yang harus kita penuhi: dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan. Kata “segenap” menunjuk pada keseluruhan dan kepenuhan, bukan hanya sebagian atau seadanya.

Manusia memang bisa mengakui adanya Tuhan dalam hatinya. Setidaknya karena manusia dapat melihat kasih dan kebesaran Tuhan yang memelihara hidupnya hari demi hari. Tetapi apakah itu cukup untuk membuat hatinya dipenuhi oleh rasa syukur dan kasih kepada Tuhan sehingga seluruh cara hidup, cara berpikir dan cara bekerja bisa sepenuhnya dipakai untuk mengasihi Tuhan?

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa mengasihi Tuhan tidaklah cukup dengan menyimpan Dia dalam hati kita. Kasih kepada Tuhan harus ditunjukkan keluar melalui segala sikap dan pandangan hidup kita, melalui segenap pikiran kita dan semua yang kita kerjakan. Hati yang bersyukur saja tidak cukup untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan!

Satu pemikiran pada “Mengasihi bukan dengan hati saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s