Bolehkah kita berdiam diri saja?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Ayat diatas adalah ayat yang mudah dimengerti, tetapi sukar untuk dilaksanakan sepenuhnya. Karena itu banyak orang Kristen yang mengabaikannya.

Dalam hidup bermasyarakat ada berbagai hukum, aturan dan etika yang tertulis dan yang tidak tertulis. Apa yang tertulis biasanya lebih sering dipatuhi, apalagi jika ada sanksinya; tetapi apa yang tidak tertulis biasanya sering dilupakan orang. Sebuah contoh adalah hal mengantri dan menjaga kesehatan, dimana kesadaran tiap orang adalah berbeda-beda. Hal tidak menggunakan sabuk pengaman mobil atau tidak membayar pajak adalah contoh lain dimana sekalipun ada aturan tertulis, orang mungkin sering kurang patuh, apalagi jika tidak ada orang yang tahu.

Dalam hal membangkitkan kesadaran hukum dan etika dalam masyarakat, kebanyakan orang Kristen memilih untuk bersikap pasif, dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi setempat. Mungkin dengan alasan untuk menghindari kesulitan atau permusuhan, ada orang Kristen dan juga pemimpin gereja yang berpandangan bahwa lebih enak berdiam diri dari pada ikut mencampuri urusan orang lain atau melakukan hal yang benar. Itu karena adanya kemungkinan untuk dituduh sebagai orang usil, atau untuk menjadi orang yang tidak disenangi orang lain. Selain itu, jika kita menegur orang lain mungkin ada tuduhan bahwa kita sudah menghakimi mereka. Mind your own business (kerjakan urusanmu sendiri) mungkin adalah prinsip yang sering dipakai untuk tidak mencampuri urusan orang lain dan untuk menolak campur tangan orang lain.

Rasul Paulus pun pernah mengalami pengalaman pahit ketika jemaat di Galatia menjadi kurang senang sebab ia mengutarakan perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka. Karena itu ia bertanya kepada jemaat Galatia:

“Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” Galatia 4: 16

Walaupun demikian, Alkitab menunjukkan bahwa rasul Paulus adalah orang yang selalu “blak-blakan” dan berpegang pada prinsip kebenaran. Ia tahu bahwa sebagai pengikut Kristus apa yang ya, hendaklah dikatakan: ya, dan jika tidak, hendaklah dikatakan: tidak (Matius 5: 37). Dengan berpegang teguh kepada kebenaran Tuhan di dalam kasih, umat Kristen justru bisa makin bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus (Efesus 4: 15).

Pagi ini, kita semua dihadapkan pada sebuah pertanyaan: apakah kita boleh pasif, berdiam diri melihat adanya ketimpangan-ketimpangan dalam masyarakat di sekitar kita. Bolehkah kita mengabaikan hal yang seharusnya kita lakukan, untuk diri kita sendiri dan juga untuk orang lain, karena tidak ada orang yang berkeberatan dan juga karena tidak ada sanksinya? Ataukah sebagai orang Kristen kita selalu mau berusaha untuk menegakkan kebenaran karena hal itulah yang dikehendaki Tuhan? Ayat pembukaan kita berkata jika kita tahu apa yang baik tetapi tidak melakukannya, kita sudah dengan sengaja memilih untuk berbuat dosa. Karena itu dalam hidup bermasyarakat, sebagai orang Kristen kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh akan semua hal yang baik yang harus dikerjakan!

Satu pemikiran pada “Bolehkah kita berdiam diri saja?

  1. Mantap skli pak Andreas. Dua ayat yg Anda kutip dan ulas di atas sngat reflektif dan mmberkati, wlau memang hal itu tdk semudah dan seindah kala mengucapkannya.

    Mari bersama kita jd org Kristen yg tak brdiam diri sja. 👌👍

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s