Apa balasmu?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Sebagai mahluk sosial, manusia umumnya tahu bagaimana membuat orang lain senang. Salah satu diantara hal-hal yang bisa dilakukan untuk menggembirakan orang lain ialah memberi sebuah hadiah, entah itu berkenaan dengan ulang tahun, tahun baru atau perayaan lainnya. Dalam hal ini, adat saling memberi adalah umum. Seseorang tidak dapat mengharapkan untuk selalu diberi, tetapi ia harus juga siap memberi sebagai balasan dan rasa terima kasih.

Dalam soal saling memberi, adalah lazim jika seseorang yang pernah menerima sebuah pemberian yang berharga, berusaha untuk membalas pemberian itu, jika bisa dan pada waktu tepat, dengan sesuatu yang pantas. Ini tidak harus dengan pemberian yang seharga dengan apa yang diterimanya, tetapi setidaknya dengan sesuatu yang menunjukkan apresiasi atas pemberian itu.

Bagi umat Kristen, pemberian Allah yang terbesar adalah AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, yang sudah mati untuk ganti dosa mereka. Karena itu, sikap yang benar dalam hidup orang Kristen sejati adalah rasa syukur dalam setiap keadaan. Mereka tidak lagi mengejar hal-hal duniawi seperti kesuksesan, kekayaan dan keternamaan lagi. Mereka tidak lagi sibuk meminta hadiah semacam itu dari Tuhan. Bagi mereka, Tuhan adalah baik dan bahkan sangat baik kepada mereka. Hanya mereka yang tidak mempunyai apresiasi yang cukup untuk karunia keselamatan itu, selalu sibuk memohon kepada Tuhan untuk mendapat berkat-berkat lain.

Bagaimana kita dapat membalas kasih Tuhan yang terbesar dalam diri Yesus Kristus, sebenarnya harus menjadi pemikiran kita sehari-hari. Karena dengan berhutang budi, hati kita seharusnya merasa bahwa kasih Tuhan yang sedemikian besar menuntut kasih yang serupa dari diri kita. Kasih yang dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita (Markus 12: 30).

Sudah tentu manusia tidak mungkin dapat membalas segala kebaikan Tuhan dengan sesuatu yang sama besarnya. Siapakah manusia itu, sehingga ia dapat menandingi Tuhan yang maha kasih? Tetapi, apakah itu alasan kita untuk tidak berusaha memberikan apa yang terbaik dari hidup kita kepadaNya?

Sebagai orang percaya kita tahu bahwa tidak hanya kita memperoleh anugerah keselamatan, kita juga menerima berkat-berkat yang tidak terhitung setiap hari. Jika demikian, adakah alasan bagi kita untuk hidup hanya untuk menikmati semua itu hari demi hari tanpa menyatakan rasa syukur kita kepadaNya secara nyata pada setiap saat dalam hidup kita?

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa karena kita sudah menerima kemurahan Allah, kita harus memikirkan bagaimana kita dapat menggunakan hidup kita, sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadah yang sejati, yang harus bisa kita laksanakan hari ini dengan kesungguhan hati dan pikiran, dan dengan sepenuh kekuatan kita. Karena apapun yang kurang dari itu, menunjukkan bahwa kita kurang menghargai kasihNya.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” 1 Petrus 1: 3

Satu pemikiran pada “Apa balasmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s