Bukan asal percaya

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Sebuah lagu sekolah minggu yang cukup terkenal pada waktu saya masih kanak-kanak adalah lagu “Percaya saja” yang syairnya berbunyi:

Percaya saja, percaya saja

Percaya yang b’ri kita menang

Percaya saja di dalam darah-Nya

Percaya tentu kita menang

Lagu ini sederhana syairnya dan mudah dinyanyikan, karena itu banyak anak sekolah minggu yang bisa menyanyikannya di luar kepala. Bukan saja di sekolah minggu, lagu ini juga cukup terkenal diantara kaum dewasa yang menyadari bahwa karena darah Kristus telah dikucurkan di kayu salib, mereka yang percaya sudah memperoleh kemenangan atas kuasa iblis, kemenangan atas maut.

Lagu di atas adalah sangat sederhana, tetapi maknanya seharusnya dikaitkan dengan Yohanes 3: 16:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang menyanyikan lagu ini dengan bersemangat karena percaya bahwa Tuhan selalu akan membawa kemenangan dan keberhasilan dalam menghadapi persoalan apapun di dunia. Ini tentunya pengertian yang kurang benar.

Percaya saja, itu kelihatannya hal yang mudah dilakukan. Untuk bisa beriman, sebagian orang mungkin mengira bahwa mereka cukup mengakui bahwa Tuhan itu ada, dan percaya bahwa Ia adalahTuhan yang maha kuasa. Orang lain mungkin berpandangan bahwa jika ada orang-orang yang bisa berbuat berbagai amal kebaikan di dunia, mereka pasti mempunyai iman. Benarkah begitu? Tentu tidak!

Iman bukanlah usaha manusia, tetapi adalah pemberian Tuhan. Iman adalah salah satu pernyataan kasih Tuhan yang tidak mudah dimengerti. Mengapa Tuhan yang maha besar mau memberikan iman kepada manusia yang berdosa? Karena kasihNya kepada manusia, Tuhan ingin agar manusia bisa mengerti arti pengurbanan Kristus sehingga manusia mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka.

Tuhan mengaruniakan iman yang membawa keselamatan menurut kehendakNya supaya tidak ada orang yang bisa menyombongkan diri atas iman yang dimilikinya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Walaupun setiap orang yang sudah menerima Yesus tentunya diselamatkan karena adanya iman, Tuhanlah yang menentukan seberapa besar iman yang ada. Iman yang besar memang membawa keuntungan dalam menghadapi tantangan kehidupan, tetapi setiap orang harus bersyukur atas iman yang dimilikinya dan memakainya dalam hidup sehari-hari.

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12: 3

Dengan demikian, kekaguman kita atas kuatnya iman seseorang adalah keliru, sebab kita sebenarnya harus kagum dan bersyukur atas besarnya kasih anugerah Tuhan yang menyempurnakan iman orang itu.

Pagi ini, dari ayat pembukaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena iman yang membawa keselamatan itu datang dari Tuhan, kita harus senantiasa bersyukur kepadaNya dalam setiap keadaan. Kita yang beriman seharusnya memakai dan memeliharanya agar iman itu tetap hidup dan makin lama makin bertumbuh dalam kasihNya.

Iman yang tidak selalu disertai kehidupan yang penuh rasa syukur kepada Tuhan, dan iman yang tidak memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan, adalah iman yang lambat laun akan menjadi mati. Sebaliknya, iman yang disertai dengan kepercayaan penuh bahwa anugerah Tuhan adalah cukup untuk kita, akan bertumbuh dan menjadi makin sempurna dalam Tuhan. Biarlah kita mau menyatakan iman kita dalam segala segi kehidupan kita sehingga kemenangan Kristus atas maut dapat lebih makin terasa dalam hidup ini!

“Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu.” 2 Tesalonika 1: 3

2 pemikiran pada “Bukan asal percaya

  1. Yup, iman pun anugerah. Dg sadar anugerah, tak ad yg bisa disombongkan atau utk dimegahkan, slain ucapan syukur dan doa.

    Mmang sih, trkait iman itu anugerah kdang bisa dslh tafsir scra ekstrim oleh mreka yg tdk mau rendah hti bljar, bgini kta mreka, “Klau iman itu anugerah, berarti yg gak beriman berarti gak dpt anugerah, so ngapain slhkan yg gak beriman.” Karena itu, pnjlsan ttg hal ini pun perlu dijbarkan scra baik dan komprehensif baik dr mimbar grja atau tulisan2.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s