Mengapa Tuhan menciptakan pria dan wanita

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Mengapa Tuhan menciptakan dua jenis manusia di bumi ini? Suatu pertanyaan yang mungkin dirasakan aneh oleh sebagian orang. Tentu saja supaya mereka bisa berkembang biak, begitu mungkin jawab mereka. Walaupun demikian, orang mungkin juga menjawab supaya mereka bisa saling melengkapi dan mengasihi. Semua jawaban ini ada benarnya. Tetapi ada jawaban lain yang hanya bisa diberikan oleh orang Kristen: mereka diciptakan sedemikian agar mereka bisa mencerminkan hubungan antara Yesus dan jemaatNya. Suami diperintahkan untuk mengasihi istrinya seperti Yesus yang sudah mengurbankan diriNya untuk keselamatan manusia.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 5: 25

Sebaliknya, istri diperintahkan untuk tunduk (menghormati) suaminya seperti jemaat yang menghormati Kristus sebagai kepala (bahasa Junani: kephalē) gereja.

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.” Efesus 5: 33

Sekalipun makna dan fungsi penciptaan pria dan wanita itu sudah dijelaskan dalam Alkitab, di zaman sekarang banyak orang yang menganggap semua itu sudah menjadi hal yang kuno. Menurut mereka, keluarga tidak perlu terdiri dari pria dan wanita. Selain itu, mereka menganggap pria dan wanita tidak ada bedanya dalam makna maupun fungsinya, dan juga manusia bisa memilih untuk menjadi (seperti) pria atau wanita sebagaimana yang mereka sukai.

Bagi mereka yang masih percaya bahwa Tuhan hanya menciptakan dua jenis manusia, tidaklah mudah mempertahankan keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga. Iblis selalu bekerja dan berusaha untuk menghancurkan keluarga kristen dengan memutar-balikkan fakta. Karena itu, perceraian diantara keluarga kristen makin meningkat jumlahnya.

Kunci keharmonisan keluarga adalah rasa kasih dan hormat. Tuhan menghendaki seorang suami untuk mengasihi istrinya, dan untuk seorang istri untuk menghormati suaminya. Ini bukan berarti bahwa seorang suami tidak perlu menghormati istrinya, atau seorang istri tidak perlu mengasihi suaminya. Sebaliknya, keduanya harus bisa saling mengasihi dan menghormati. Mengapa demikian?

Bagi seorang pria, menghormati orang lain adalah sesuatu yang mudah dilakukan. Pria mudah untuk menghormati orang lain yang mempunyai kemampuan tertentu. Menghormati rekan seperjuangan atau pimpinan adalah hal yang biasa dan lumrah. Tetapi, suami justru diminta untuk mengasihi istrinya, sesuatu yang tidak biasa atau natural bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk kaum wanita, soal mencintai dan mengasihi orang lain adalah hal yang alamiah. Bagi mereka, melihat orang lain yang menderita dan merasakan adanya simpati dan empati untuk orang itu adalah biasa. Tetapi, Tuhan justru memerintahkan istri untuk menghormati suaminya, sesuatu yang bukan merupakan naluri mereka.

Apa yang diperintahkan Tuhan kepada pria dan wanita adalah bertentangan dengan sifat-sifat alamiah mereka. Inilah yang membuat pria dan wanita sering mengalami kesulitan dalam membina hubungan antar jenis, terutama dalam hidup berumah-tangga. Karena bagi pria, untuk menghormati orang lain adalah lebih mudah; sedang bagi wanita, mencintai orang lain adalah lebih terbiasa. Tuhan ternyata menghendaki pria dan wanita untuk berjuang untuk melakukan apa yang sulit dilakukan. Tuhan menghendaki baik suami atau istri untuk mau berkurban.

Pagi ini biarlah kita sadar, jika kita merasa lebih mudah untuk menghormati daripada untuk mengasihi, tantangan kita adalah untuk berusaha mengasihi. Sebaliknya, jika kita lebih mudah untuk mengasihi daripada menghormati, kewajiban kita adalah untuk beusaha menghormati. Karena baik pria maupun wanita, kewajiban mereka adalah untuk saling menghormati dan mengasihi sekalipun mereka berbeda dalam makna dan fungsi.

“Apa yang diberikan tanpa pengurbanan adalah sesuatu yang murah, mudah didapat dan gampang dilupakan”

Satu pemikiran pada “Mengapa Tuhan menciptakan pria dan wanita

  1. Mnarik ulasannya. Sy stuju dg alasan di balik pnciptaan pria dan wanita mnurut versi Kristen itu. Memang, menghormati dan mengasihi satu sama lain itu mmang tgs suami dan istri sbgai mnusia ciptaan Tuhan. Namun, yg hrs diingat itu ordonya dulu, suami mengasihi istri dan istri menghormati suami; gak blh dibalik. Yg jd kcau itu adlh, ktika manusia mulai mngacaukan ordonya. Mngacaukan ordonya, bg sy, berarti mngacaukan tatatan yg sdh diatur Tuhan, sama sja artinya dg mlawan Tuhan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s