Kaya atau miskin?

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” Amsal 30: 8

Jika anda bisa memilih antara kaya dan miskin, mana yang anda pilih? Kebanyakan orang akan memilih untuk menjadi kaya, dan karena itu dari kecil mereka akan berusaha keras untuk mencari kesuksesan dengan segala cara. Bahkan dalam ajaran beberapa pimpinan gereja, jemaat juga dianjurkan untuk mencari kesuksesan yang dianggap bukti penyertaan Tuhan. Kekayaan dalam Alkitab Perjanjian Lama memang sering dikaitkan dengan anugerah Allah kepada umatNya. Tetapi, pemberian Allah yang terbesar dalam Perjanjian Baru sudah terwujud dalam diri Yesus. Karena itu Alkitab perjanjian baru lebih menekankan pada kekayaan rohani dan bukannya kekayaan jasmani. Malahan, mencari kekayaan jasmani dikatakan sebagai sesuatu yang bisa membuat kebangkrutan rohani.

Paulus dalam pesannya kepada Timotius berkata:

” Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 8 – 9

Pesan Paulus diatas adalah jelas dan lantang; walaupun demikian, banyak orang Kristen tetap saja mau menjadi hamba uang.

Jika kekayaan bisa mendatangkan banyak masalah, itu adalah hal yang mudah dimengerti. Mereka yang ingin kaya seringkali melakukan hal-hal yang jahat. Tetapi, orang harus menyadari bahwa mereka yang miskin pun bisa terjebak dalam kekeliruan. Penulis Amsal dalam ayat diatas tidak mau memilih kekayaan atau kemiskinan, tetapi memilih apa yang ditentukan Tuhan, agar ia tidak terjerumus dalam dosa.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Masalahnya, kita sering tidak tahu apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita. Seberapa banyak Tuhan sudah menentukan apa yang menjadi bagian kita? Bukankah Dia yang mahakasih dan mahaadil selalu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anakNya? Bukankah Ia mau memberikan apa saja yang baik yang kita minta?

Dalam hidup ini kita bisa melihat bahwa memang baik kekayaan atau kemiskinan bisa membuat orang Kristen untuk menjauhi Tuhan. Satu sebabnya, dan hanya satu: itu karena tidak adanya rasa cukup. Tidak adanya rasa cukup membuat orang menjadi rakus atau merasa sangat lapar. Dalam kedua keadaan itu, kita bisa jatuh kedalam dosa jika Tuhan tidak memberi kekuatan kepada kita dan kemampuan untuk merasa cukup.

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12 – 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s