Harapan masa lalu dan harapan masa depan

“Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” Yesaya 33: 15 – 16

Tidak terasa tahun 2018 sudah hampir berlalu, dan bersamaan dengan itu semua yang sudah terjadi akan menjadi kenangan. Memang dengan lewatnya tahun ini, beberapa harapan yang kita punyai di awal tahun mungkin tinggal harapan dan tidak menjadi kenyataan. Dengan datangnya tahun baru, orang mungkin mempunyai harapan baru, untuk memperoleh apa yang lebih baik dari keadaan yang sekarang.

Ayat diatas adalah ayat yang cukup terkenal dan sering disebut dalam khotbah di gereja-gereja, untuk menganjurkan agar umat Kristen mempunyai hidup yang baik, yang sesuai dengan firman Tuhan. Ayat itu seolah menyatakan bahwa mereka yang hidup jujur dan tulus, akan terjamin hidupnya, dan kebutuhan hidupnya akan terpuaskan. Karena itu, banyak orang yang berpikir bahwa hidup dalam Tuhan itu adalah jaminan kenyamanan hidup di dunia. Dalam kenyataannya, menjadi umat Tuhan tidaklah selalu bisa bebas dari kesusahan, kekurangan dan penderitaan.

Pada waktu itu, kerajaan Yehuda di bagian selatan berada dalam penderitaan karena serangan bangsa-bangsa asing. Mereka mungkin bertanya-tanya mengapa mereka harus menderita begitu besar. Tetapi dalam ayat diatas, nabi Yesaya menyatakan nubuat yang diterimanya dari Tuhan agar bani Yehuda mau taat kepada Tuhan, jika mereka mengharapkan pertolonganNya. Mereka yang sedang menderita dalam kekurangan akan dipuaskan jika mereka mau berjalan sesuai dengan perintah Tuhan. Sayang, ini tidak diturut oleh bani Yehuda. Sejarah mencatat bahwa seluruh orang Yahudi baik di bagian selatan maupun utara kemudian dihancurkan bangsa-bangsa lain. Nubuat itu seolah tidak terjadi bagi orang Yahudi. Betulkah?

Bagi kita nubuat Yesaya itu tetap berlaku karena adanya arti yang lebih dalam. Memang kita tidak hidup pada zaman dan situasi yang sama. Kita tidak hidup sengsara seperti bani Yehuda pada waktu itu, yang hidup dalam ancaman dan serangan bangsa lain. Walaupun begitu, setiap tahun kita mengharapkan agar Tuhan lebih melimpahkan berkatNya agar hidup sehari-hari kita lebih bisa dinikmati. Dengan demikian, mungkin kita masih merasa belum puas dengan apa yang ada. Dalam hal ini, sebenarnya bagi kita orang percaya, belajar untuk merasa cukup dalam setiap keadaan adalah suatu cara hidup yang lebih baik (Filipi 4: 11 – 13). Karena itu harapan yang lebih baik adalah untuk bisa selalu bersyukur atas hidup kita dan makin taat kepada firmanNya, dan bukannya untuk meminta berkat dan kenyamanan yang semakin besar untuk memuaskan keinginan kita.

Dalam memasuki tahun 2019, apa yang bisa kita harapkan berdasarkan nubuat nabi Yesaya diatas adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari makanan dan minuman jasmani. Bagi kita, ayat diatas jelas adalah ajakan agar kita mau menuruti firman Tuhan agar kita benar-benar mempunyai hidup baru. Bagi mereka yang sudah diperbaharui hidupnya, keselamatan jiwa adalah jauh lebih penting dari kepuasan jasmani. Kebahagiaan dalam hidup pasti terjadi karena Yesus sudah datang di dunia sebagai Air dan Roti kehidupan yang akan memberi kepuasan yang kekal kepada setiap umatNya. Biarlah ini yang menjadi harapan dan kenyataan bagi kita dalam memasuki tahun yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s