Jangan selalu mengharapkan mujizat

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22 – 23

Pernahkah anda menonton pertunjukan sulap yang benar-benar hebat? Memang ada banyak orang yang mampu memukau penonton dengan berbagai trik sulap yang luar biasa. Mereka adalah pesulap professional yang mencari uang dengan melakukan show di gedung pertunjukan, TV dan media. Semua orang yang menonton tahu bahwa mereka hanya melakukan tipuan mata, tetapi mengagumi bagaimana mereka bisa membuat apa yang tidak mungkin atau sulit terjadi, menjadi suatu yang nampaknya mudah dilakukan.

Serupa tapi tak sama, pada sekitar 3500 tahun yang lalu, Musa dan Harun pergi menghadap Firaun; lalu Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan para pegawainya, maka tongkat itu menjadi ular (Keluaran 7: 10). Musa dan Harun melakukan semua itu sesuai dengan perintah Tuhan.

Firaun yang melihat tongkat Harun menjadi seekor ular, kemudian memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir dari Mesir; dan mereka pun, melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular-ular. Apa yang menakjubkan ialah tongkat Harun kemudian menelan tongkat-tongkat mereka.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari mujizat yang terjadi di depan Firaun ialah bukan hanya Tuhan, setan pun bisa membuat hal yang tidak sesuai dengan hukum alam. Memang diantara mujizat yang ada di bumi, ada yang membawa pengenalan akan kuasa dan kasih Tuhan, tetapi ada juga yang hanya membawa kemasyhuran dan kekayaan bagi orang-orang yang melakukannya. Selain itu ada hal-hal luar biasa yang justru bisa mencelakakan manusia. Tetapi yang benar-benar merupakan mujizat Tuhan adalah apa yang membawa kebaikan kepada umatNya dan kemuliaan bagiNya.

Dengan perintah Tuhan, semua umatNya sebenarnya bisa mendapat kemampuan untuk melakukan sesuatu yang ajaib untuk tujuan Tuhan yang spesifik. Tuhan Yesus dari awalnya menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan kabar keselamatan sambil melakukan berbagai mujizat. Tetapi mereka harus melakukan pelayanan itu tanpa pamrih- bukan untuk mencari uang.

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10: 7 – 8

Mujizat dengan demikian bukan monopoli orang-orang “istimewa” saja. Mujizat tidak juga harus terjadi pada orang beriman saja. Mujizat adalah salah satu cara Tuhan untuk membawa orang-orang yang dipilihNya, kearah pertobatan dan penyerahan hidup kepadaNya.

Mujizat adalah sesuatu yang luar biasa, tetapi mujizat yang sungguh besar ialah ketika seorang bisa bertobat dari dosanya dan menerima keselamatan melalui darah Kristus. Mujizat tidak dilakukan Tuhan pada setiap saat untuk mereka yang sudah benar-benar mengenalNya dan mempunyai kekuatan iman; tetapi pada saat yang tertentu, Tuhan bisa mendatangkan mujizat untuk menolong orang yang masih terasing dan menderita, agar mereka dapat melihat kebesaran Tuhan dan mau menjadi pengikutNya.

“Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.” Markus 6: 12 – 13

Perlu kita sadari bahwa mujizat tidak selalu membawa orang kepada Tuhan karena bagi mereka yang mengeraskan hati seperti Firaun, apa yang jelas-jelas merupakan mujizat Tuhan tetap tidak dapat membawa perubahan hati. Pada pihak yang lain, mereka yang selalu mementingkan mujizat dan keajaiban seringkali terjebak kedalam kegembiraan dan pemujaan atas apa yang bisa dilihat mata saja.

Pada waktu Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, hanya satu diantara mereka, yaitu orang Samaria, yang kembali menjumpai Yesus untuk memuliakan Allah. Hanya satu diantara sepuluh yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata. Sembilan orang bergembira karena bisa melihat keajaiban, tetapi hanya satu yang bisa melihat Tuhan dibalik keajaiban. Karena itu Yesus berkata bahwa iman orang itu telah menyelamatkannya (Lukas 17: 15 – 19).

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang melakukan mujizat, bukan manusia. Karena itu, jika kita membutuhkan pertolongan dalam hidup, kita harus bergantung kepada Tuhan dan bukannya kepada orang-orang yang merasa sudah dipilih Tuhan untuk melakukan mujizatNya pada setiap saat yang mereka maui.

Sekalipun Tuhan tidak selalu membuat mujizat untuk umatNya, Ia mau memberi mereka ketabahan dan kekuatan. Tuhan tidak juga selalu membuat mujizat yang spektakuler untuk orang yang mencari Dia, tetapi tetap bisa membuka hati mereka sehingga bisa melihat keselamatan yang datang dari Kristus. Dengan demikian, pengharapan kita dalam hidup di dunia adalah kepada kasih Tuhan dan bukannya kepada mujizatNya saja. Kita harus juga sadar bahwa seringkali Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda dengan apa yang kita harapkan. Karena itu biarlah kita mau selalu berdoa agar kehendak Tuhanlah yang terjadi.

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s