Jangan diam saja

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 11

Minggu yang lalu, seorang polisi yang menembak mati seorang wanita di Amerika dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Wanita warga Australia itu sebenarnya tidak melakukan kejahatan apapun, tetapi ia menjadi korban karena melaporkan adanya kejahatan di rumah tetangganya. Ketika ia muncul menyambut polisi yang datang, ia ditembak polisi yang salah mengidentifikasi.

Membela kebenaran memang bisa mengandung resiko besar. Karena itu tidak semua orang mau ikut campur. “Pokoknya saya tidak ikut-ikut!”, begitulah jawaban mereka yang melihat kejahatan, ketimpangan dan kejanggalan dalam masyarakat. Memang banyak orang yang memilih untuk berdiam diri, sekalipun apa yang terjadi adalah hal yang tidak baik.

Mencampuri urusan orang lain jelas membawa resiko bahwa mereka akan membenci kita. Karena itu, banyak orang Kristen yang abstain dalam usaha menegakkan kebenaran. Sebagai alasan, mungkin orang Kristen bisa saja menyebutkan bahwa mereka tidak mau mengadili orang lain, atau mereka lebih mencintai perdamaian.

Walaupun demikian, dalam hidup banyak orang yang menyesali mengapa mereka tidak bertindak apa-apa ketika ada hal-hal yang jahat terjadi. Pengecut! Egois! Begitulah hati kecil mereka berkata. Mengapa engkau hanya berdiam diri saja? Bukankah dengan berdiam diri engkau berpihak kepada mereka yang jahat? Itulah suara hati banyak orang Kristen yang melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, tetapi memilih untuk tidak bertindak atau justru lari menjauh. Roh Kudus menegur karena mereka gagal untuk menegakkan kebenaran Tuhan.

Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, adalah salah satu ayat yang mengandung nasihat praktis untuk hidup sebagai umat Tuhan. Sebagai orang Kristen kita bertanggung jawab tidak saja untuk apa yang kita lalukan, tetapi juga untuk reaksi kita atas apa yang diperbuat orang lain. Jika kita membiarkan adanya perbuatan-perbuatan kegelapan disekitar kita, itu sama saja dengan menyetujuinya. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita memperoleh mandat budaya (Kejadian 1: 28) untuk ikut mau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

“Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” Efesus 5: 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s