Antara otoritas dan otoriter

“Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?” 1 Korintus 4: 20 – 21

Otoritas dan otoriter adalah dua kata yang bunyinya mirip tapi berbeda artinya. Biasanya kedua kata ini dipakai sehubungan dengan pemerintahan, tetapi juga bisa dikenakan kepada individu. Baik individu maupun pemerintah bisa mempunyai otoritas dan bisa bertindak secara otoriter.

Otoritas bisa mempunyai banyak arti. Seringkali kata itu diartikan sebagai kekuasaan yang sah yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya. Tetapi kata itu juga bisa diartikan sebagai hak untuk bertindak; kekuasaan; wewenang; atau hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain

Otoriter adalah sebuah sikap yang mengambil keputusan terlebih dahulu tanpa mempertimbangkan akibatnya. Pemimpin yang otoriter biasanya memiliki 3 ciri khas, yaitu menolak keanekaragaman pendapat, tidak menghargai pendapat orang lain, dan selalu memaksakan kehendak pribadi.

Dalam hidup ini kita bisa melihat orang-orang dan pemerintah yang menggunakan otoritas yang dimiliki mereka untuk mengatur dan memimpin dalam masyarakat, tetapi ada juga mereka yang menggunakan otoritas mereka secara otoriter dan sewenang-wenang. Ini bukan saja terjadi dalam organisasi dan pemerintahan, tetapi juga dalam hidup berkeluarga. Bagaimana kita sebagai orang Kristen harus bersikap?

Tuhan Yesus, ketika akan kembali ke surga memberi perintah untuk mengabarkan injil dan juga otoritas untuk membaptis dan mengajar kepada para muridNya karena Ia sebagai Anak Allah sudah diberi semua otoritas, baik di surga maupun di bumi.

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 18 – 20

Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita juga mempunyai tugas dan otoritas yang serupa dengan muridNya. Walaupun demikian, itu bukan berarti bahwa kita boleh melaksanakannya secara otoriter. Mengabarkan injil tidak dapat dilakukan dengan paksaan, mengajar orang untuk mengikuti firman Tuhan bukannya dengan kekerasan.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai hamba Tuhan ia sudah memperoleh kuasa. Walaupun demikian, ia tahu bahwa adalah lebih baik baginya untuk menegur mereka bukan dengan cambuk tetapi dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut. Begitu juga kita dalam segala segi kehidupan, harus bisa menggunakan segala bentuk otoritas dari Tuhan dengan kasih dan bukannya secara otoriter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s