Jangan merasa terpaksa

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” 2 Korintus 9: 7

Pernahkah anda didatangi oleh orang yang meminta sumbangan? Di Australia, biasanya tiap tahun ada orang dari gereja tertentu yang berkunjung dari rumah ke rumah untuk mencari sumbangan bagi mereka yang hidup dalam kekurangan. Gereja ini memang terkenal dengan aktivitas sosialnya yang sangat menolong mereka yang tidak mempunyai rumah atau pekerjaan. Selain itu, terkadang ada juga orang yang meminta sumbangan atas nama sebuah rumah sakit atau badan riset penyakit tertentu. Mereka yang dengan senang hati memberi sumbangan biasanya adalah orang yang sadar akan hasil baik yang sudah dicapai oleh badan-badan sosial itu.

Sekalipun menyumbang badan sosial adalah sesuatu yang dipandang baik, banyak orang yang kurang tertarik untuk melakukannya. Bagi mereka, menyumbang adalah kehilangan uang dan itu tidak memberi manfaat apa-apa. Untuk mendorong agar orang mau menyumbang, badan-badan sosial bisa meminta izin khusus pemerintah sehingga para penyumbang bisa memperoleh potongan pajak pendapatan. Dengan demikian, para penyumbang tidak terlalu merasa kehilangan, tetapi sebaliknya memperoleh keuntungan walaupun tidak sebesar jumlah yang disumbangkan.

Berbagai organisasi lain yang bukan badan sosial, juga sering mencari sumbangan untuk maksud-maksud tertentu. Mereka mungkin membuat undian berhadiah atau mengadakan acara-acara tertentu yang dikarciskan. Dengan demikian, orang memberikan sumbangan dengan mengharapkan balasan. Selain itu, ada organisasi-organisasi yang mengharuskan pemakai jasa mereka untuk membayar uang iuran. Orang dengan demikian terpaksa membayar karena itu sudah menjadi keharusan.

Ayat diatas sering dibacakan di gereja ketika kantung persembahan akan diedarkan. Ayat itu menganjurkan agar setiap jemaat memberikan menurut kerelaan hatinya, tidak dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Ayat ini agaknya menyuruh jemaat untuk memberikan persembahan sebagai pilihan dan dengan sukacita, bukan karena adanya keharusan atau keuntungan.

Bagaimana kita bisa memberi persembahan kepada Tuhan sebagai pilihan dan dengan sukacita? Kita memilih untuk memberi persembahan karena kita ingin menyatakan kasih kita kepadaNya. Kita tahu bahwa Tuhan sudah membuat berbagai kebaikan buat umatNya. Tuhan  sudah lebih dulu mengurbankan AnakNya untuk menebus dosa kita. Tuhan juga sudah membimbing kita tiap hari dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan demikian, kita tidak perlu mengharapkan balasan dari Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan akan memakainya untuk berbagai maksud yang baik sesuai dengan rencanaNya. Kita memilih untuk memberi, bukannya karena terpaksa dan bukan juga karena kita ingin mencari keuntungan yang lebih besar.

Tuhan tidak membutuhkan persembahan manusia karena sebagai Tuhan yang mahakaya, Ia jugalah yang sudah memberikan berkatNya kepada umat manusia. Tuhan tidak perlu menawarkan suatu hadiah insentif agar manusia mau mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Tuhan tidak juga memaksa umatNya untuk membayar “upeti” karena kita sudah menerima kasihNya. Karena itu, semua persembahan kita haruslah dilandaskan pada rasa terima kasih atas segala yang sudah diberikanNya. Dalam hal ini, persembahan yang paling layak kita berikan adalah hidup kita karena Yesus sudah mati untuk menebusnya.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5: 1 – 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s