Jangan biarkan dirimu dikuasai orang lain

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” Roma 6: 16

Seringkali saya heran mengapa ada orang yang diculik kemudian bisa “jatuh cinta” kepada penculiknya dan menjadi pengikutnya selama bertahun-tahun. Orang yang diculik itu bisa menjadi seperti robot yang mau diperlakukan dengan semena-mena dan bahkan ada yang sampai melahirkan anak dengan sang penculik. Banyak juga orang yang diculik kemudian tidak mau berusaha untuk melarikan diri dan bahkan tidak mau memperkarakan penculiknya setelah polisi menangkapnya. Fenomena ini dinamakan “Stockholm syndrome” dimana orang yang diculik secara kejiwaan menjadi terikat kepada penculiknya. Memang manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang paling cerdas, bisa jatuh dalam penguasaan orang lain baik melalui pengaruh cinta ataupun hipnosis.

Hipnosis (bahasa Inggris: hypnosis) adalah suatu kondisi mental atau hal yang memungkinkan timbulnya  peran imajinatif . Orang yang melakukan proses hipnosis (memberikan sugesti) terhadap subjek disebut hipnotis (bahasa Inggris: hypnotist). Hipnosis biasanya disebabkan oleh prosedur yang umumnya terdiri dari rangkaian instruksi awal dan sugesti. Penggunaan hipnosis sebagai bentuk hiburan pentas dikenal sebagai stage hypnosis, sedangkan yang untuk terapi disebut hypnoteraphy.  Pada umumnya dalam  hipnosis orang bisa dikuasai pikiran dan jwanya oleh sang hipnotis untuk tujuan yang baik maupun yang buruk.

Dengan kemajuan zaman, seharang ini banyak orang yang mencari solusi alternatif atas berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam hal ini, hipnosis ditawarkan oleh mereka yang ahli kepada orang-orang yang mengalami berbagai kesulitan hidup atau mereka yang terlibat dalam berbagai kebiasaan yang buruk, seperti merokok atau pemakaian narkoba. Hipnosis dipopulerkan bagi mereka yang  menginginkan hidup yang bebas dari tekanan atau pengaruh buruk tanpa harus bergulat jatuh-bangun untuk mengatasi persoalannya. Dalam hal ini, sudah tentu  hipnosis hanya bisa bekerja efektif  pada orang yang mau percaya dan mau menyerahkan jiwa dan pikirannya kepada sang hipnotis.

Banyak ahli hipnosis yang sekarang menjadi orang terkenal baik dalam pertunjukan ataupun terapi kejiwaan. Selain itu ada juga orang Kristen yang menggunakan hipnosis untuk menolong orang lain. Bagaimana pandangan Kristen akan hipnosis?

Ada orang yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang bisa menghasilkan sesuatu yang nampaknya bagus tentu berasal dari Tuhan. Tidak peduli caranya, asal hasilnya baik tentu Tuhan suka. Benarkah begitu? Tentu tidak! Hipnosis memang nampaknya bisa membuat orang berubah dari keadaan semula yang kurang baik menjadi apa yang terlihat baik. Semua itu tanpa memerlukan hubungan yang benar dengan Tuhan Sang Pencipta. Manusia tidak perlu menyesali perbuatannya, memohon ampun atas dosanya, meminta pertolongan Tuhan ataupun bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus. Hipnosis bisa membuat hidup manusia yang kocar-kacir menjadi mulus hanya dengan cara kejiwaan. Mereka yang mau berubah hidupnya tidak perlu lagi bergantung kepada Tuhan.

Jika dipikirkan dalam-dalam, mereka yang melakukan hipnosis sebenarnya berusaha menguasai pikiran dan kejiwaan orang lain sekalipun untuk sementara waktu. Seorang hipnotis mengambil alih hak Tuhan untuk memimpin jiwa dan pikiran manusia dengan menggunakan teknik yang membuat orang lain tunduk kepadanya.  Dan jika orang Kristen membiarkan dirinya untuk dikuasai oleh seorang  hipnotis, itu berarti bahwa ia menyerahkan dirinya kepada seseorang dan sudah menjadi hamba orang itu. Baik pelaku hipnosis dan orang yang menerima hipnosis menghapus pengaruh dan peran Tuhan dari hidup manusia.

Manusia diciptakan Tuhan agar ia mau memuliakanNya. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada Dia. Manusia seharusnya mempunyai hubungan roh yang kuat dengan Penciptanya. Manusia seharusnya berkomunikasi dengan Tuhan secara rohani. Bagaimana mungkin manusia kemudian memilih jalan pintas untuk mencapai sesuatu tanpa melalui Dia? Bukankah itu suatu dosa?

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s