Keyakinan iman yang benar

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Ayat di atas adalah ayat yang sangat populer di antara umat Kristen. Mereka yang berjuang menghadapi tugas atau masalah yang berat, berusaha membesarkan hati dengan mengucapkan “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Semboyan ini tentu benar: kita akan menang jika Tuhan memang di pihak kita. Pada pihak yang lain, dalam menghadapi masalah tertentu tetaplah perlu dipertanyakan apakah dan kapankah Tuhan di pihak kita.

Dalam Alkitab ada banyak kejadian yang menunjukkan kesetiaan Tuhan kepada umatnya. Sebagai contoh, Tuhan berjanji bahwa Ia akan menyertai umat Israel sekalipun Musa harus meninggalkan mereka karena usia tua.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31: 6

Keyakinan bahwa Tuhan selalu beserta umatNya tidak hanya dimiliki oleh orang Kristen. Banyak pengikut agama lain juga yakin bahwa mereka disertai Tuhan dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan, termasuk dalam melakukan apa yang mungkin kurang berkenan atau jahat bagi orang lain. Bahkan ada juga orang yang percaya bahwa karena Tuhan menyertai tim sepakbola favoritnya, pastilah tim itu akan menjadi juara liga!

Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang mahakasih. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan AnakNya agar barangsiapa percaya kepadaNya akan diselamatkan (Yohanes 3: 16). Tetapi, Tuhan adalah oknum yang mahabijaksana, yang mempunyai berbagai rencana yang tidak dapat dipengaruhi oleh kehendak/kelakuan manusia. Kita sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi besok , karena besok ada di tangan Tuhan (Yakobus 4: 14 – 15). Selain itu, Tuhan adalah Oknum yang mahasuci yang tidak dapat menerima tindakan atau kehidupan yang bertentangan dengan firmanNya. Tidaklah mengherankan bahwa Alkitab penuh dengan contoh-contoh dimana karena berbagai sebab, Tuhan tidak selalu berpihak kepada umatNya atau selalu senang menghukum mereka yang terlihat jahat. Sebagai orang percaya, bagaimana kita harus bersikap?

Memang benar bahwa kasih Tuhan adalah sangat besar sehingga Ia tidak mungkin meninggalkan umatNya, tetapi itu jika mereka tetap taat kepadaNya. Sekalipun Tuhan terkadang membiarkan hal yang tidak menyenangkan terjadi pada umatNya (Ayub misalnya), itu tidak berarti bahwa Ia meninggalkan mereka dan berpihak kepada orang yang jahat. Pada pihak yang lain, kita tidak dapat menganggap bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita jika kita sering melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepadaNya. Kita juga tidak dapat mengharapkan bahwa semua orang yang tidak kita sukai akan menerima hukuman Tuhan. Seburuk apapun keadaannya, Tuhan yang mahasabar ingin agar mereka yang tersesat untuk bisa kembali ke jalan yang benar seperti apa yang pernah terjadi pada diri kita.

Ayat di atas menyatakan bahwa kita akan menang jika Tuhan berpihak kepada kita. Dapatkah kita percaya bahwa ini akan selalu terjadi? Tentu! Tuhan berpihak kepada kita jika hidup kita selalu dipakai untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Jika rencana kita sesuai dengan kehendakNya, Tuhan pasti akan memberi kita sebuah kemenangan  pada waktunya!

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.” Pengkhotbah 3: 11a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s