Ketika hujan lupa turun

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.” Yakobus 5: 7

Kemarin cuaca di kota saya sangat cerah, tetapi langit biru tidaklah kelihatan. Asap kebakaran hutan di sekitar tempat kediaman saya membuat langit seperti berkabut kelabu. Dalam keadaan sedemikian matahari yang terbit atau terbenam menyinarkan warna merah, seakan ikut merasa marah atas musim kemarau yang berkepanjangan di Australia.

Sudah lama hujan tidak turun dan banyak pohon besar di halaman rumah saya yang mati kekeringan. Air ledeng saat ini harus digunakan secara berhemat dan tidak dipakai untuk hal yang kurang penting, seperti mencuci mobil , menyirami tanaman atau membersihkan lantai. Semua orang merasa menderita, tetapi sebagian besar masih bisa bersyukur jika tidak ada ancaman kebakaran hutan di daerahnya.

Mengapa hujan tidak kunjung turun? Apa yang bisa kita lakukan untuk mendatangkan hujan? Ini adalah pertanyaan yang dimiliki semua orang, tetapi tentu tidak semua orang yakin akan jawabnya. Memang, sekali pun dengan kemajuan teknologi saat ini, tidaklah mudah untuk mengubah iklim yang ada atau untuk membuat hujan turun pada daerah yang luas. Dalam hal ini, mau tidak mau orang harus menerima keadaan yang ada di saat ini.  Bagi orang Kristen, semua ini mungkin mengingatkan mereka akan kejadian  dalam Alkitab dimana orang Israel mengalami penderitaan yang serupa dan tidak ada manusia yang bisa memberi jawaban. Tuhanlah yang pada akhirnya menunjukkan kuasa dan kasihNya, dan hujan turun pada waktunya.

Dalam hidup di dunia saat ini, sebenarnya bukan hujan saja yang diharapkan manusia. Setiap manusia mempunyai berbagai pengharapan dan kebutuhan. Dalam hal ini, terkadang penderitaan yang dialami selagi menunggu datangnya pertolongan Tuhan terasa tidak tertahankan. Rasul Yakobus dalam ayat di atas menasihati jemaat pada saat itu untuk bersabar dalam penderitaan sambil mengingat bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Seperti seorang petani, mereka semuanya harus bersabar menantikan datangnya hujan yang membawa hasil berharga dari tanahnya.

Kedatangan Tuhan menyatakan saat dimana kita bisa melihat kemuliaan Tuhan sambil bersukacita. Sudah tentu tidak ada seorangpun yang tahu kapan itu akan terjadi. Tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka yang beriman, karena apa yang mereka alami tidaklah sebanding dengan apa yang akan mereka terima dari Tuhan. Bagi umat Kristen, kebahagiaan bisa dirasakan dalam segala keadaan karena mereka tahu bahwa Tuhan menghargai ketekunan umatNya. Tuhan yang maha penyayang dan penuh belas kasihan tidak akan menyia-nyiakan mereka yang setia kepadaNya.

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 11

Satu pemikiran pada “Ketika hujan lupa turun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s