Menjadi pemimpin yang baik

“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” Roma 13: 13

Kemarin saya sempat mengunjungi kota terlarang (the Forbidden City) di Beijing. Ini adalah bekas keraton kaisar yang terletak di tengah ibukota Tiongkok. Sejak tahun 1949, negara ini menjadi negara republik, dan dengan itu kekaisaran dihapuskan. Kehidupan kaisar terakhir Tiongkok pernah dituangkan ke dalam layar putih dalam judul “The Last Emperor“.

Pada zaman sebelum tahun 1949, seorang kaisar di Tiongkok adalah orang yang ditakuti rakyatnya. Kaisar adalah pemimpin negara yang bersifat diktator. Warna kuning adalah warna kebesaran kaisar dan karena itu orang yang sengaja memakai warna kuning untuk cat rumah misalnya, bisa dihukum mati.

Kaisar pada waktu itu adalah orang yang suka berpesta-pora dan memiliki setidaknya 72 gundik selain seorang permaisuri. Tidaklah mengherankan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, rumahtangga kaisar yang mewah dan penuh pesta pora itu sering mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan kekacauan, seperti perselisihan dan iri hati.

Kaisar sebagai pemimpin negara seharusnya bisa membawa kebahagiaan kepada rakyatnya, tetapi jika rakyat justru menderita karena adanya pemimpin yang kacau hidupnya, itu adalah hidup yang tidak bermasa depan.

Hidup yang baik adalah seperti hidup pada siang hari, dimana orang pada umumnya menaati hukum dan etika yang ada. Tetapi, hidup yang kacau adalah bagaikan malam hari dimana orang yang bermaksud jahat bisa bekerja dengan leluasa dalam bayang-bayang kegelapan.

Orang Kristen adalah orang yang diharapkan untuk menjadi terang dunia, menjadi contoh yang baik dalam masyarakat. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, seharusnya kita bisa membimbing orang lain untuk meninggalkan hidup lama yang kacau, guna menjalani hidup baru sesuai dengan panggilan Kristus. Tetapi, jika hidup kita sendiri kacau dalam pesta pora dan kemabukan, dalam percabulan dan hawa nafsu, dan juga dalam perselisihan dan iri hati, bagaimana pula kita bisa menjadi pemimpin yang baik?

Pagi ini, firman Tuhan mengundang kita untuk hidup dengan menjalankan firman Tuhan setiap hari. Dalam hidup pribadi atau pun dalam keluarga, tempat pekerjaan, dan juga masyarakat, kita harus ingat bahwa kekacauan adalah dosa yang dibenci Tuhan kita yang mahasuci.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s